
*
Dimas
Acara pindahan sudah selesai, sedikit letih, tapi penawarnya sudah langsung aku dapatkan. Dari senyum dan tawa Di beserta anak - anak, aku benar - benar bersyukur atas segala nikmat yang Dia berikan selama ini. Di sedang menyusui si kembar secara bergantian, ditemani mama Sandra dan mama Di. Aku merebahkan tubuhku di depan televisi, menikmati semua tawa kebahagiaan dari orang - orang yang aku sayangi.
**
" Kepalamu sakit lagi Dim?"
Di sepertinya memperhatikan aku dari tadi, menjambak - jambak rambutku.
" Sedikit yank."
Namun tak urung rambutku ku jambaki terus, gelisah dengan rasa sakitnya.
Di mendekatiku yang berbaring di tempat tidur, kemudian menggantikan tanganku dengan tangannya, menjambak rambutku. Aku bergeser mendekatkan tubuhku padanya, menjadikan pahanya sebagai penopang untuk kepalaku dan Di hanya diam sambil terus menjambak rambutku.
" Kita periksa aja yok Dim... Sudah sering sekali kau sakit seperti ini."
" Mungkin hanya kecapekkan yank... Aku masih kuat koq menahan sakitnya."
Jawabku menolak. Sebenarnya aku juga sering bertanya - tanya, apa yang terjadi padaku beberapa bulan belakangan ini. Sakit kepala ini sering muncul, apalagi kalau aku sedang stress atau kecapekkan. Tapi, aku enggan memeriksanya. Takut kalau - kalau penyakitku parah dan aku tak bisa menerimanya.
" Biar kita cepat tau dan dapat mengobatinya Dim... Aku takut kenapa - kenapa dan terlambat mengobati."
Aku hanya diam, menutup mata mencoba tertidur. Tapi tidak bisa.
" Dimas... please..."
Aku masih diam saja,
Di ikut diam, seperti mengerti kalau aku tidak mau membahas soal ini.
" Kalau aku meninggal duluan, apa kau akan menikah lagi Di?"
Di berhenti menjambak rambutku, diam dan tenggelam bersama alam fikirnya yang hanya miliknya.
" Kalau aku yang meninggal duluan, apa kau akan menikah lagi?"
Di bertanya balik, aku malah jadi tidak bersemangat membahasnya. Akhirnya kami berdua hanya diam, tenggelam dalam pikiran masing - masing.
***
Sakit kepala ini tidak juga hilang, padahal sudah 3 hari lamanya. Aku mulai bertambah resah menahan sakitnya. Andi yang selalu bersamaku mulai resah juga nampaknya. Berkali - kali aku memergokinya sedang melirikku, lalu cepat kembali menatap ke jalanan di depannya.
" Kalau aku sakit kepala sepertimu, bagian mana yang bisa aku jambak kira - kira Dim?"
__ADS_1
Candaan recehnya malah membuatku kesal dan kepalaku semakin sakit.
" Kau jambak saja rambut di ketiakmu, atau di bagian lain yang menurutmu berambut."
Dia tertawa terbahak - bahak mendengar jawabanku.
" Sudah 3 hari ku lihat kau sibuk menjambaki rambutmu, kepalaku jadi ikutan pusing Dim."
" Jangan kau lihat kalau begitu, botak!"
Andi kembali tertawa terbahak - bahak, aku membuang wajah, kesal dengan pertanyaannya dan juga ketawanya.
" Kau periksakanlah dulu sakitmu itu, biar kau tau penyakitmu. Untung - untung kalau itu hanya pengaruh matamu yang sudah minus dan harus mengenakan kaca mata. Kalau ternyata tumor otak atau kanker otak, kan kasihan kau Dim."
Ketakutanku malah jadi bertambah mendengar kata - kata si botak di sampingku ini, sialan dia.
" Harusnya kau mengasihani Di, bukan aku. Karena dia yang akan ditinggalkan."
Aku menjawab asal - asalan, lagi - lagi dia tertawa
" Kau yang seharusnya di kasihani, bukan Di. Di bisa cari suami baru yg lebih tampan dan muda, karena dia akan punya banyak uang setelah kau mati. Siapa yang bisa menolak janda kaya dan manis seperti Di."
Aku cepat bergerak memberikan tinjuku di lengannya.
" Aduh... sakit Dimas."
" Kau gila Dimas."
Andi meremas - remas lengannya yang sakit akibat tinjuku, tapi aku tidak perduli.
****
Kata - kata Andi kemarin, tak urung membuatku gelisah. Kalau benar ada kanker atau tumor di otakku bagaimana? Itu artinya aku akan mati, dan Di pasti akan sangat sakit ketika akupun meninggalkannya. Aku mengacak - acak rambutku. Apa Di harus menerima kesakitan lagi? Ditinggalkan lagi? Tapi aku tak mau meninggalkannya, " Tuhan, berbaik hatilah pada nya, dia sudah cukup banyak mengalami penderitaan. Biarkan dia bahagia." pintaku dalam hati.
" Ini tehmu yank. Kau kenapa?"
Di menatapku bingung, memandangi rambutku yang acak - acakan olehku sendiri.
" Nggak ada yank... nggak pa pa."
Aku cepat merapikan rambutku
" Kepalamu masih sakit?"
Di masih menatapku dengan aneh, aku cepat menggeleng. Agar dia tidak ikutan stress, meski kepalaku masih terasa sakit walaupun hanya sedikit.
" Nggak, udah mendingan. Aku sehat."
__ADS_1
Aku menaikkan tanganku, memperagakan seorang binaragawan yang sedang memperlihatkan otot - ototnya.
" Berhenti melakukan itu Dimas, otot - ototmu sudah menumpuk di perut semuanya."
Di berlalu pergi ke dapur, meninggalkan aku yang memandangi perutku yang buncit.
*****
Dirgana
Dimas jadi lebih sering sakit kepala akhir - akhir ini. Dia juga sering terbangun tengah malam hanya untuk menjambaki rambutnya sendiri. Aku sudah sering membujuknya untuk check up, tapi dia selalu mengabaikan permintaanku. Tidak ada cara lain, mama Sandra harus tau soal ini. Aku harus memberitahu mama Sandra, agar Dimas mengerti kalau kami ingin dia sehat.
Aku terkejut melihat Dimas masuk ke kamar dan cepat menyembunyikan ponselku. Rencananya aku ingin menelpon mama tadi, tapi keburu dia masuk. Aku tersenyum menyambut kedatangannya.
" Kamu kenapa?"
Dimas menghentikan langkahnya dan memandangiku yang sedang tersenyum padanya.
" Gak kenapa - kenapa. Emangnya aku kenapa?"
Aku balik bertanya, tapi hanya di jawabnya dengan tatapan sebentar, lalu melanjutkan langkahnya lagi ke kamar mandi. Aku cepat memasukkan ponselku di dalam laci di samping tempat tidurku.
******
Mama memutuskan akan memaksa bahkan kalau perlu menarik Dimas ke rumah sakit untuk memeriksakan penyakitnya, setelah aku menceritakan semua keresahanku pada beliau.
Mama lalu memintaku untuk memberikan Hafiz yang berada di gendonganku, kepadanya. Si kembar seharian ini rewel, begitu juga dengan Zya. Ketiganya menuntut ku untuk memperhatikan mereka. Baby sitterku pun tak mampu menenangkan mereka sangking rewelnya mereka hari ini.
Ponselku yang tergeletak di atas meja tiba - tiba berbunyi, aku melihatnya sebentar, nama Andi tertera di layar. Aku cepat mengambil ponselku dan menggeser layarnya.
" Halo Ndi."
" Di, kamu bisa ke rumah sakit *** gak sekarang?"
Nafasnya tersengal - sengal, tapi dia menyampaikan maksudnya dengan sangat pelan, tapi tak urung hatiku tiba - tiba berubah cemas.
" Dimas, Dimas kenapa Ndi?"
" Kesini aja dulu Di, nanti kita bicara disini."
Aku bergerak cepat begitu sambungan ponsel diputuskan, menyerahkan si kembar dan Zya pada baby sitternya, langsung berangkat menuju rumah sakit bersama mama.
Pikiran dan hatiku seketika saja tak tenang," apa yang terjadi pada Dimas sampai harus dibawa ke rumah sakit? Apa ini ada hubungannya dengan sakit kepalanya?" Aku terus bertanya - tanya dalam hati, sekaligus memanjatkan doa pada Tuhan, agar Dimas selalu dijagaNya, semoga Dimas baik - baik saja.
*******
Alhamdulillah, terimakasih saya ucapkan kepada semua yang sudah membaca novel saya, semoga suka ya... Kekurangan dalam penyusunan kalimat atau tata bahasanya tolong dimengerti ya... Saya baru belajar menulis novel dan ini novel pertama saya. Saya tunggu like, share and komen cantiknya ya... Terimakasih...
__ADS_1