
*
Iza POV
Aku hanya bisa menyesali perbuatanku yang sudah membuat mama pergi meninggalkan kami. Entah kenapa papa tidak mau memberitahu nenek dan oma soal kepergian mama, padahal menurutku mama pasti memgabari oma dan nenek sebelum memutuskan pergi meninggalkan kami.
Menangis... Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Hampir setiap malam aku bersama Azi berselancar di dunia maya, melihat - lihat postingan FB dan instagram milik mama, namun tak satupun petunjuk kami temukan. Mama sama sekali tak memberikan clue, postingan terakhirnya adalah tentang betapa besarnya cintanya sebagai seorang ibu, untuk kami buah hatinya.
Sebuah ketukan di pintu mengagetkanku, aku cepat - cepat menghapus air mata. Pintu terbuka pelan, papa berdiri menatapku dari sana.
" Kau belum tidur?"
Aku menggelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan papa.
" Tidurlah, ini sudah tengah malam."
Aku mengangguk, papa kemudian kembali menutup pintu kamarku.
" Maaaa... Ampun Iza maaaa..."
Aku berbaring menelungkup, menyimpan tangisan pada bantalku dan berkali - kali memohon ampun dan meminta mama untuk kembali.
*
Azi POV
Aku terperanjat mendengar ketukan di pintu kamar, langsung bangkit dan membuka pintu kamarku
" Ma.."
Bukan mama, papa Dimas berdiri terpaku menatapku. Seketika aku merasa tubuhku sangat lemas, mataku panas, aku tak mampu menahan rasa rindu sekaligus bersalah pada mama.
" Pa..hik.. hik.."
Aku menabrakkan tubuhku pada papa Dimas dan memeluknya. Papa Dimas membalas pelukanku di tubuhnya dan menepuk - nepuk pelan punggungku.
" Ini salah Azi pa.. hik.. hik.. Mama marah sama Azi pa..."
Tiba - tiba pintu kamar kakak terbuka, kakak melihat aku yang menangis dalam pelukan papa. Tangisnya ikut pecah di depan pintu kamarnya yang terbuka.
" Kakak juga salah pa.. Ini juga salah kakak.. Kakak mau mama pa... whaaaaaaaa..."
__ADS_1
Kami menangis menyesal bersama, mama pergi karena kami telah menyakiti hatinya. Ternyata seperti ini rasanya kehilangan, mama gak mau berada dalam situasi ini, makanya mama sangat keras menjaga dan mengatur pergaulan kami, dan kami terlambat menyadari.
*
Dimas POV
Aku hanya bisa menangis dalam diam sambil menenangkan kedua anak - anakku yang beranjak remaja dan dewasa ini. Aku tak miliki kata - kata menenangkan seperti yang dipakai Di saat kami sedang resah ataupun sakit. Aku tak miliki pelukan hangat seperti Di saat kami merasa kecewa pada sesuatu. Aku tak miliki perhatian dan cinta sebesar yang Di punya, aku sangat menyadari kekuranganku sebagai seorang papa.
Di memang sangat tegas dan keras dalam mengatur pergaulan Azi dan Iza, hal itu yang terkadang membuat anak - anak ini merasa jengah dan melawan padanya. Mereka butuh kebebasan yang tak diberikan Di. Tapi, saat ini justru mereka tak inginkan kebebasan apapun, mereka malah merindukan semua hal yang mereka tak sukai dari Di selama ini.
" Cari mama pa..."
Azi meminta di sela - sela tangisannya, dia masih menangis dalam pelukanku. Sementara Iza hanya berdiri di depan pintu kamarnya sambil menangis tersedu.
" Papa juga sedang mencari mama nak.. Papa juga membutuhkannya."
Suaraku bergetar, dinding pertahananku mulai roboh, padahal sejak kepergian Di aku sudah berusaha untuk nampak kuat di depan anak - anak.
" Kenapa papa tidak tanya nenek atau oma? Kenapa papa menyembunyikan semua ini dari mereka? Sudah seminggu mama pergi pa.. Kakak gak kuat pa...whaaaaaa.... whhhaaaaa."
" Papa gak mau oma dan nenek sakit karena kepikiran ini semua, lagipula mereka kan sedang di rumah oma Jakarta. Takutnya mereka kaget dan sakit di sana."
Mama Vena mengajak mama Di dan mama ke Jakarta tiga hari setelah kepulangan Iza dari rumah sakit. Makanya aku tak berani mengabarkan kepergian Di pada mereka. Aku tak mau mereka bertiga jatuh sakit karena memikirkan Di, juga karena aku tak mau di keroyok nenek - nenek.
" Papa mau cari mama kemana? Azi ikut."
" Kakak juga mau ikut pa..."
Mereka berdua memohon ikut, sementara aku sendiri tak tau harus mencari Di kemana.
" Ok, besok kita cari mama bersama - sama."
Mereka akhirnya menghentikan tangisan, lalu mengusap wajah masing - masing dengan tangan.
" Sekarang istirahatlah. Papa tidak mau ada yang sakit saat ini, kita masih butuh tenaga untuk mencari mama dan meminta maaf padanya."
Iza dan Azi memgangguk, mereka lalu masuk ke kamar masing - masing dan menutup pintu.
Aku melangkah untuk kembali ke kamarku, menuruni tangga, lalu masuk ke kamar dan menutup pintu. Perlahan aku berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di tepi dengan kaki masih menjejak di lantai kamar.
" Kemana kau Di? Tidakkah kau merindukan aku? Semarah itukah kau padaku sayang?"
__ADS_1
Aku berbicara pada foto Di yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurku, air mataku kembali mengalir deras tak tertahan.
Aku kemudian bangkit dan mengambil foto Di tersebut, lalu membawanya sambil berbaring di tempat tidur.
" Ini jauh lebih sakit dibandingkan saat kau lupa padaku. Karena aku tak bisa melihatmu, tak mendengar suaramu, tak mencium aroma tubuhmu di dekatku, tak bisa menatap senyumanmu. Ini benar - benar menyakitkan sayang..."
" Aku mohon... Maafkan aku, aku benar - benar tersiksa dengan perasaan bersalah ini. Aku benar - benar menyesal sudah mendiamkanmu, aku sangat merindukanmu sayang."
Aku menciumi foto Di, lalu menelungkupkannya di dadaku, sampai aku tertidur bersama air mata yang membasahi wajah.
*
Di menatapku dalam diam, tersenyum lalu mengecup keningku dengan lembut dan lama.
" Jangan tinggalkan aku lagi sayang... Aku mohon..."
Di melepaskan kecupannya perlahan dan menatapku sambil terus tersenyum.
*
" Mamaaaa... Hwaaaaa... mamaaaaaaaa..."
Aku terbangun oleh teriakan Azi yang sangat keras, langsung bangkit dan berdiri hendak berlari ke kamarnya. Anak itu pasti mengigau, aku merasakan tubuhnya panas saat memeluk tubuhku semalam, dia pasti demam.
" Bukkk."
" Arrghhh... Sialan."
Kakiku membentur meja sofa yang aku lewati secara sembarangan, aku terjatuh sambil terus memegangi kakiku yang terasa sangat sakit.
" Hwaaaaaa... Aziii... Papaaaaa... hwaaaaaa...."
Teriakan Iza, aku memaksa tubuhku untuk bangkit, mengabaikan rasa sakit di kakiku. Aku kemudian berlari keluar kamar, lalu langsung menaiki tangga menuju kamar Azi dengan menyeret kakiku yang masih terasa sakit. Tangisan dan teriakan dua anak itu membangunkan seisi rumah, aku melihat uni dan kedua baby sitter berdiri di depan pintu kamar Azi.
" Kenapa Azi, Azi kenapa!!"
Aku meneriaki mereka, tapi mereka hanya menangis tak menjawab pertanyaanku dan menggeser tubuh untuk memberikan aku ruang untuk masuk ke kamar Azi.
" Azi!! Iza!!"
Langkahku terhenti seketika, diam terpaku di depan pintu kamar.
__ADS_1
" Dirgana."