Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
MEMAAFKAN


__ADS_3

*


Siska sudah lebih banyak diam dan tak pernah menuntut setelah kedatangan ayahnya beberapa hari yang lalu. Dimas masih mengacuhkannya, tapi aku mulai kasihan padanya. Melihat dia yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan termenung sendirian di taman setiap hari, aku tau sekali rasa sakitnya sendiri tanpa teman, sahabat, orangtua bahkan kekasih yang dicintai saat sedang hamil. " Sahabat"... aku jadi lupa pernah memiliki mereka.


Aku mendekatinya yang sedang duduk di taman belakang sendirian, dengan membawa segelas susu kehamilan. Aku duduk di sebelahnya tanpa meminta izin padanya terlebih dahulu. Dia menoleh kepadaku sebentar, lalu melanjutkan lamunannya.


" Kau belum sarapan dan tidak meminum susumu dua hari ini. Minumlah."


Aku memberikan susu yang aku bawa tadi padanya, tapi dia hanya diam.


" Siska... Ayolah."


Paksaku pelan


" Gak usah sok perduli Di, biarkan aku sendiri.'


Ucapnya lemah.


" Aku hanya perduli pada bayi yang kau kandung Sis... Ayolah."


Tanganku masih di posisi yang sama.


" Kau kan sudah tau ini bukan bayi Dimas, buat apa kau perduli?"


Tanyanya, masih dengan memandang ke satu titik di depannya


" Hmmmhhh... Anak siapapun dia, dia tidak bersalah. Jangan hukum dia atas semua kesalahan - kesalahan yang sudah kau perbuat."


" Dia tidak memilih sendiri, dari benih siapa dia terbentuk dan di dalam rahim siapa dia tumbuh. Kau pasti akan menyesal nanti jika terjadi sesuatu padanya Sis."


Siska lalu menunduk, bahunya bergetar hebat, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis di sana. Aku menggeser dudukku lebih dekat dengannya. Menguatkan hatiku sendiri untuk merangkul bahunya dan menenangkannya.


" Kita semua memiliki kesempatan kedua Sis, dan ini lah waktunya buatmu untuk memperbaiki diri dan keadaan."


Siska lalu menyentakkan tanganku dan menatap marah ke arahku.


" Kenapa tidak kau benci saja aku, kau berhak untuk melakukan itu. Kau maki - maki dan ludahi aku. Hukum saja aku atas semua yang sudah aku lakukan pada Dimas."


Aku mencoba menenangkan hatiku sendiri


" Apa gunanya buat aku Sis? Kau sendiri sudah memiliki banyak pembenci atas tingkah lakumu sendiri dan aku tidak mau menjadi bagian dari pembenci, meski sebenarnya aku sangat membencimu."


" Lihat perutmu yang semakin membesar, sebentar lagi ada yang memanggilmu mama. Kesempurnaanmu sebagai seorang wanita Sis, apa kau masih ingin menambah daftar pembencimu dan hidup dalam ketidaktenangan selamanya?"


" Dirgana Putri, berhenti bersikap baik! Aku muak melihatnya, kau tau itu?"


Aku membalas tatapannya padaku


" Aku tidak akan berhenti bersikap baik hanya untuk mendapatkan perlawanan, terserah kau suka atau tidak, semua pilihan ada padamu. "


Aku berdiri dan meletakkan gelas yang berisi susu di tempatku tadi duduk.


" yang penting, jangan siksa dia, hanya lewat dia lah nanti kebaikan akan mendatangimu."


Aku berlalu meninggalkannya.


**


Siska datang dan berjalan mendekat saat kami sedang sarapan. Tampak sekali dia sangat canggung dan rapuh, tidak seangkuh kemarin. Mama dan Dimas langsung membuang wajah begitu menyadari kehadirannya.

__ADS_1


" Selamat pagi Sis, ayo duduklah, kita sarapan bersama."


Aku menarik salah satu kursi makan dan menepuk kepala kursi untuk mengajaknya duduk. Dia melangkah perlahan dan duduk di tempat yang sudah aku sediakan.


Aku mengambilkan piring dan meletakkannya di depannya, lalu mengambil roti beserta selai strawberry kesukaannya.


" Ini, kau buatlah sarapanmu."


Aku lalu meminta asisten rumah tangga untuk menyediakan susu kehamilannya, lalu kembali duduk di dekat Dimas yang sedang memangku Zya dan menatapku bingung. Aku tersenyum membalas tatapannya, sambil mengucapkan I Love You tanpa suara padanya. Dimas menggeleng - gelengkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya dengan cepat.


***


" Ada apa denganmu Di?"


Aku mengangkat kepalaku menatap mama yang melihatku bingung.


" Aku tidak ada apa - apa ma. Aku baik - baik saja."


" Kau jangan coba - coba berbohong padaku anak nakal."


Mama menepuk lenganku pelan, aku tertawa terbahak - bahak.


Zya suka sekali bermain di taman, berlari kesana kemari, berputar - putar, jatuh dan menertawai dirinya sendiri.


" Aku sangat beruntung memiliki suami yang sangat mencintai dan menjagaku saat aku hamil Zya ma.. Punya mama dan mertua yang selalu memanjakanku... Betapa beruntungnya aku."


Mama diam, aku tersenyum mengingat masa - masa kehamilanku yang tak pernah merasa sendiri.


" Tapi aku juga pernah merasa sangat tidak beruntung dan kesepian saat kehamilan Iza dan Azi. Mertuaku tidak menyayangi ataupun perduli pada kehamilanku, suamiku sibuk dengan dunia kesenangannya, bahkan aku harus melahirkan sendiri di dua kehamilanku dulu. "


Aku jadi kembali pada masa suramku itu.


" Aku hanya tau bagaimana rasanya hamil dalam kesendirian, aku hanya tidak mau orang - orang yang berada di dekatku merasakan hal yang sama ma... Apapun yang sudah dia lakukan padaku. Toh, aku dan Dimas malah bertambah dekat akibat perlakuannya kemarin - kemarin."


" Oh... sayang... berhentilah membuatku jatuh cinta padamu setiap hari. Aku muak merasakan ini."


Mama lalu memelukku,


" Aku janji akan tetap waspada pada apa yang akan diperbuatnya ma, tapi saat ini, izinkan aku menemaninya."


Mama menganggukkan kepalanya, masih memelukku.


" enga oma... ma... enga... tantik..."


Aku dan mama melihat pada Zya yang memanggil - manggil kami,


" Zyaaaaa!!!!"


" Kau cabuti bunga oma anak pintarrrr... Dia baru saja berbungaaa"


Mama shock melihat bunga yang ada di tangan Zya, beliau langsung berdiri dan menepuk pantat Zya yang mencoba berlari menjauh darinya. Aku tertawa melihat tingkah oma dan cucu itu.


****


Kami duduk untuk sarapan dengan formasi lengkap, termasuk Siska. Dia sudah mulai perduli pada kehamilannya saat ini. Aku selalu membantunya mengenyahkan kegugupan dan rasa takutnya setiap bergabung di meja makan.


" Dim, aku nanti keluar bareng Siska sebentar ya yank."


Dimas memindahkan tatapannya pada piring kepadaku. Siska juga kaget mendengar aku yang akan mengajaknya keluar rumah.

__ADS_1


" Kehamilan Siska sudah masuk bulan ke delapan yank, sebentar lagi babynya hadir. Tapi, Siska kan belum sempat membeli perlengkapan bayi... Aku temani dia ya?"


" Di, sudahlah."


Dimas kembali fokus pada sarapannya.


" Biarkan dia memikirkan dirinya sendiri, dia tidak butuh teman dalam hidupnya. Aku tau itu."


Siska menunduk sedih


" Aku juga tidak mau jadi temannya, tapi aku mau jadi aunty untuk bayinya. Keponakanku akan segera lahir Dim... Keponakanku juga keponakanmu sayang."


Aku masih belum putus asa merayunya. Dimas kembali menatapku aneh dan kembali menggeleng - gelengkan kepalanya.


" Maafkan aku Dimas.."


Aku cepat melihat pada Siska yang sedang menangis, mama ikut menatapnya iba, tapi Dimas diam tak bergeming


" Aku sudah menghancurkan kepercayaanmu padaku, Dimas benar Di, aku tidak pernah butuh sahabat, bahkan aku sudah melukai hati sahabatku satu - satunya. Aku menyesal, sangat menyesal."


Tangisnya pecah, Siska menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, aku berjalan mendekatinya.


" Aku yakin sahabatmu memaafkanmu Sis, kalau dia orang baik dan punya hati."


Aku menekan kata - kataku, sengaja membuat Dimas tersinggung, dan aku berhasil setelah melihat Dimas menatapku kesal.


" Sahabat adalah dia yang tidak akan melukai, dia yang akan selalu memaafkan kesalahanmu sebesar apapun itu."


Pikiranku langsung melayang pada wajah ketiga sahabatku dulu.


" Kau pernah berbuat salah yang sangat fatal pada sahabatmu, melukainya, tapi aku yakin akan selalu ada kata maaf untuk sahabat yang pernah lupa."


" Semua orang pernah berbuat salah, tapi hanya orang - orang baiklah yang siap mengakui kesalahannya dan meminta maaf."


Aku menepuk - nepuk bahunya pelan untuk menenangkannya.


" Dan juga, ada orang yang pernah bilang, meminta maaf dan memaafkan adalah hal yang mudah, yang penting itu apakah kau akan berubah setelah dimaafkan."


Dimas kembali melirikku, aku pura - pura mengacuhkan lirikannya dan kembali duduk di dekatnya.


" Jadi, bagaimana Dim, aku diizinkan pergi atau tidak?"


Dimas meletakkan sendok dan garpunya lalu menatapku,


" Yank... "


Aku membelai pahanya dan mengerling nakal.


" ya.. ya.. ya.. Pergilah, Andi nanti akan menemanimu."


Aku baru akan menyela perintahnya, tapi matanya sudah melotot tajam padaku.


" Jangan membantah."


Lalu Dimas bangkit dan mengecup keningku lembut,


" Aku berangkat ma.. Di..."


Seperti biasa, aku mengantarkan Dimas sampai ke teras. Dimas menarik pinggangku dan membuat tubuh kami menempel,

__ADS_1


" Kau berhutang penjelasan padaku, tolong kau bayar nanti malam."


Ucapnya berbisik dan tersenyum, lalu melepaskan tangannya dariku dan berjalan ke mobil.


__ADS_2