Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
SISKA AGAIN


__ADS_3

*


Dirgana


" Mama pulang ya Di... Jaga anak - anak dan suamimu yang bengal itu. Mama tau sekali sebenarnya Dimas sangat menyayangimu dan anak - anak. Kau juga dapat merasakan itu kan Di?"


Aku mengangguk dan tersenyum kepada beliau. Aku langsung memeluknya sebagai ucapan terimakasih untuk menyelamatkan hubunganku dengan Dimas. Mama menepuk - nepuk bahuku pelan. Kami lalu melepaskan pelukan dan saling tersenyum.


" Yok ma."


Dimas berjalan mendekati kami, dia akan mengantarkan mama ke rumah sebelum ke toko.


" Yok.. "


Mama lalu mencium pipiku,


" O iya ma... Ini untuk mama."


Dimas menyerahkan selembar cek kosong pada mama, mama menerima cek tersebut lalu menatap tajam pada Dimas, mencoba membaca isi pikiran anaknya.


" Kamu nyogok mama?"


Dimas tertawa terbahak - bahak, memeluk bahuku, aku yang tidak mengerti pun ikut tersenyum mendengar pertanyaan mama.


" Nggak lah... cinta mama ke kami gak perlu pakai sogokan... yeee..."


Dimas kembali tertawa


" Lalu, ini apa? "


Mama menghadapkan cek tadi ke Dimas


" Hadiah buat mama."


" Hadiah untuk apa? Ini bukan hari ulangtahun mama."


" Hadiah karena sudah mengajarkan Di untuk jadi perempuan gila kemarin, ok."


Aku merengut malu dan mencubit perut Dimas. Mama tersenyum bangga atas prestasinya, sementara Dimas tertawa sambil memegangi perutnya yang sedikit sakit akibat cubitanku.


" Kemarin kan pengen beli kalung berlian kan ya? mama tulis aja sendiri harganya, Dimas gak tau harga kalung berlian yang mama mau."


Mama langsung tersenyum bahagia, matanya cepat berbinar indah mendengar kata - kata Dimas.


" Aku berangkat ya yank... Jaga anak - anak."


Dimas berpamitan padaku dan mengecup keningku.


**


Dimas


Aku melihat ke layar HP begitu mendengar nada panggilnya berbunyi, " Siska "


huffttt... dia sudah tidak menghubungiku lagi setelah kejadian bersama Di waktu itu,


" Halo "


Aku menjawab telponnya dengan malas - malasan


" Dimaaaasss... ke hotel sekarang."


Aku mengernyitkan kening begitu mendengar perintahnya

__ADS_1


" Aku banyak kerjaan Ka... Sorry."


" Papa mau ketemu kamu."


Aku membelalak kaget, om Wisnu di sini? Ngapain?


Om Wisnu adalah papa Siska. Beliau pengusaha toko emas di Jakarta, bukan hanya satu, tapi puluhan. Beliau adalah salah satu sahabat almarhum papa, beliau juga yang banyak membantuku membesarkan 1 toko emas kecil yang ditinggalkan papa untukku. Beliau jauh lebih bandel dari papa, sampai di usianya yang sudah tidak muda seperti sekarang pun, keluar masuk hiburan malam adalah hobinya, setiap malam ditemani oleh 3 atau 4 perempuan yang berbeda. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, itu yang selalu mama sampaikan untuknya, mama sangat membenci om Wisnu juga Siska.


***


Di sini lah aku sekarang, di dalam kamar Siska. Menunggu om Wisnu yang sedang bersenang - senang di kamar yang lain di hotel ini juga. Aku melirik jam di tanganku, sudah dua jam aku menunggunya di sini.


Tak berapa lama Di keluar dari kamar mandi hotel menggunakan lingerie berwarna hitam,


" Dim, seksi nggak?"


Aku menatapnya, " Pertanyaan bodoh " menurutku, lingerie itu menunjukkan semua isi tubuhnya yang tidak mengenakan pakaian dalam. Bahkan puncak gunungnya pun sudah kelihatan mengintip.


" Kamu ngapain sih Sis, ada - ada aja."


Aku langsung membuang pandangan ke balkon, bagaimanapun aku ini normal. Aku mungkin bisa menahan pandanganku, tapi si adik kecil bereaksi pada apa yang aku lihat.


" Ish... kamu ni... gak asyik. Lihat aku dulu dong Dim..."


Siska sudah duduk di sampingku, memaksa wajahku untuk mengahadap ke arahnya. Dia tersenyum nakal.


" Bagus nggak?"


Kembali dia meminta pendapatku


" Iya, bagus. Ok."


Aku kembali membuang pandanganku, sekarang ke TV yang berada di depanku.


" Kamu gak asyik, nih... Minumlah dulu, aku mau berpakaian."


Dia langsung kembali ke kamar mandi.


Aku kembali melirik jam tanganku, om Wisnu belum juga datang ke kamar Siska. Aku jadi bingung, kalau aku berpamitan pulang, malah di anggap tidak tahu balas budi, kalau tetap di sini, aku takut khilaf.


" eehhhhh..."


Aku menggeram kesal dan cepat menyambar gelas yang diletakkan Siska di atas meja di depanku, lalu meminumnya sampai habis.


Aku lalu menyandarkan tubuhku, menonton acara di TV. Siska belum juga keluar dari kamar mandi dan itu bagus. Daripada dia di dekatku dan terus memancing nafsuku.


Tiba - tiba saja kepalaku terasa sangat pusing, seperti orang yang baru selesai minum minuman beralkohol, aku menutup mata dan membukanya kembali, pandanganku tiba - tiba kabur, aku kembali membuka tutup mataku, masih kabur, aku coba menutup lagi, tapi...


gelap... .


****


Dirgana


Aku terkejut mendengar bunyi sesuatu yang pecah dari ruang keluarga, cepat berlari keluar kamar dan melihat Iza dan Azi pun sudah berada di sana, melihat pintu kaca pembatas antara ruang keluarga dan teras belakang yang satu sisinya pecah. Kami bertiga saling berpandangan.


" Kamu Zi?"


Aku bertanya pada Azi apakah ini ulahnya, dia menggeleng cepat.


" Azi di kamar kakak main game HP ma..."


Jawabnya membela diri yang dibenarkan oleh Iza.

__ADS_1


" Ya sudahlah, bantu mama membersihkan pecahan ini semuanya nak.."


Iza dan Azi membantuku membersihkan pecahan kaca dengan sangat hati - hati. Pikiranku langsung melayang pada Dimas dan kedua mamaku, " Tuhan... Lindungi mereka dimanapun mereka berada." ucapku dalam hati.


*****


Dimas


Aku terbangun dan mengerjap - ngerjapkan mata, kepalaku berat sekali rasanya. Aku langsung mengedarkan pandangan, mencoba mengenali sekelilingku. Pandanganku berhenti pada seorang perempuan yang sedang tertidur di sampingku, satu ranjang denganku,


" Siska... "


Dia menggeliat, mengangkat tangannya, membuat selimut yang menutup tubuhnya bergerak ke bawah dan menampakkan dua bukit kembar miliknya.


Aku cepat melihat diriku, memeriksa tubuhku yang tertutup selimut, dan bertambah kaget setelah melihat kalau tak sehelai benangpun melekat di tubuhku.


" Nggak... ini nggak mungkin."


Aku bicara pada diriku sendiri.


" Hi Dimas... Hmmmmhhh... aku gak tahu kalau kau sehebat itu di ranjang. Pantas istrimu senang."


" Istri... Di...Ya Tuhannnnnn..." aku berteriak dalam hati.


" Kita gak ngapa - ngapain kan ya Sis? Jangan bilang kalau kita sudah melakukannya?"


Siska memandangku dengan aneh,


" Kamu bercanda atau pura - pura lupa sih Dim... Kan kamu tadi yang maksa aku minta dilayani... iiihhhh.. gak lucu."


Aku cepat bangkit dari tidurku, mengambil semua pakaianku yang berserakan di lantai dan mengenakannya


" Halo honey... ups... Sorry, kalian baru bersenang - senang kelihatannya, silahkan... papa menunggu di balkon saja."


Aku bertambah kaget melihat kedatangan om Wisnu yang tiba - tiba dan melihat kami berdua sedang telanjang. Aku cepat mengenakan semua pakaianku.


" Ini sebuah kesalahan, ini bukan mauku."


Aku kembali bicara pada diriku sendiri.


" Lalu, kalau bukan maumu, kenapa kau bisa membuka semua bajumu tadi Dim?? Kau pikir aku mampu melakukannya sendiri? Kau jahat Dim."


" Tapi, aku tak merasa melakukan apapun padamu Sis... Aku yakin sekali. Aku tadi sedang nonton TV, kau di kamar mandi dan... arrrgghh!"


Aku tidak bisa mengingat apa yang sudah terjadi tadi, tapi aku yakin aku tidak menyentuhnya sama sekali.


" Kau tadi menonton TV, aku di kamar mandi, kau memintaku duduk di dekatmu lalu kau menciumiku Dim... Apa kau tidak ingat?"


Aku menggeleng cepat,


" Jangan bilang kau juga tidak ingat sudah melucuti pakaianku dan menggendongku ke tempat tidur, lalu mengajakku bercinta?"


Aku kembali menggelengkan kepalaku


" Tidak... kau bohong Sis... Aku tidak melakukan itu."


Aku menyanggah cepat, karena aku yakin sekali kalau aku tidak melakukannya.


" Kau jahat Dimas... Kau jahatttt!!"


Siska berteriak sangat keras, om Wisnu masuk kembali ke kamar dengan wajah terkejut, kepalaku langsung sakit, aku bingung.


" Kenapa sayang?"

__ADS_1


__ADS_2