
Dia duduk menghadap laut yang terbentang di bawah hamparan langit gelap, membelakangiku. Aku berjalan ke arahnya dengan sebuah piring penuh berisi makanan di tanganku, lalu duduk di kursi santai yang ada di sampingnya. Dia menatap ke arahku sebentar, lalu kembali melemparkan pandangannya ke laut. Aku pura - pura mengacuhkannya, menikmati makanan yang ada di piringku. Sesekali aku memergokinya sedang mencuri pandang ke arah piringku, aku tahu dia lapar. Tiba - tiba dia berdiri, kemudian duduk di sampingku, menatap piringku dan meletakkan tangannya di atas pahaku. Aku melihat ke arahnya, dia memasang wajah memelas dan membuka mulutnya, seperti bayi yang minta disuapkan. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, berpura - pura ingin menciumnya, dia cepat palingkan wajahnya dan menepuk pahaku. Aku tertawa melihat tingkahnya. Kembali dia membuka mulutnya sambil mengelus - elus pahaku merayu.
"Di... kau tak perlu merayuku, aku memang ingin menyuapimu." kataku dalam hati. Aku menyendokkan nasi dari piring dan memberikan suapan padanya. Dia cepat mengambil suapan itu dan menggeser tubuhnya lebih dekat padaku. Aku juga menggeser tubuhku lebih dekat padanya, meletakkan pahaku di atas pahanya, tapi kali ini dia hanya diam sambil terus mengunyah makanan yang aku suapkan. Aku mendekatkan mulutku ke telinganya,
" Maafkan aku Di.." kataku berbisik. Dia menoleh ke arahku sambil bergidik.
" Geli..." katanya tertawa dan membuka lagi mulutnya.
Ini lah yang aku mau Di, bermanjalah padaku, aku hanya ingin itu. Jangan sembunyikan kelemahanmu bila di dekatku, aku tahu kau sangat ingin bermanja - manja.
Uni Rahmi datang membawa dua mangkok bakso dan dua gelas teh hangat bersamanya, aku melihat mata Di membesar dan bercahaya melihat makanan itu. Aku senang melihat cahaya itu Di, sungguh. Uni Rahmi langsung pergi meninggalkan kami. Di cepat mengambil satu mangkok bakso dan mengacuhkan nasi yang tinggal sedikit di piringku. Dia menambahkan banyak cabe ke dalam mangkoknya, warna kuahnya sudah berubah merah sekarang.
" Sudah Di, stop." aku menghentikan gerakannya untuk menambahkan cabe lagi, dia merengut tapi menurut. Meletakkan kembali mangkok cabe tadi ke atas meja dan mulai menyeruput kuah bakso sebelum memasukkan bakso itu satu persatu ke dalam mulutnya. Aku meletakkan piring di tanganku ke bawah meja, lalu meraih gelas teh hangat dan menyeruputnya.
Suasana mulai cair lagi, akhirnya aku bisa berbincang santai dan berada sangat dekat dengannya. Sejak tadi aku sudah menahan keinginanku untuk mencium bibirnya, aku takut dia kembali murka. Jadi, aku membiarkan saja semua ini seperti ini. Aku yakin dia pun tahu gelagatku saat menahan hasrat, karena dia pernah menikah. Kami berbincang lama, sampai tidak menyadari kalau kami sama - sama lelah. Entah siapa duluan yang tertidur, yang aku ingat, aku sudah tidak lagi mendengar ceritanya saat aku pun terlena tak kuasa menahan kantuk. Jadilah kami sama - sama tertidur di atas kursi santai, dibawah langit bertabur bintang dan dibalut dingin dan pekatnya malam. " Di... " aku menyebut namanya, tapi tak ada suara jawaban, tak ada juga dengkuran, dan akupun terlelap.
**
Aku bangkit tersentak oleh sebuah keributan di luar rumah, Di juga terbangun karena suara keributan itu. Kami saling berpandangan dan tersentak melihat tubuh kami sama - sama tidak mengenakan pakaian, Di membuka lebar matanya kepadaku, aku menggelengkan kepala cepat, aku tahu apa yang dia pikirkan. Di cepat menarik selimut tebal yang menutupi tubuh kami berdua, air matanya mulai mengalir, dia menggeleng - gelengkan kepalanya berulang - ulang.
" Dimaaasssss!!!!" teriaknya kencang.
Tak berapa lama suara keributan itu masuk ke halaman belakang, tempat kami sedang tenggelam dalam kebingungan, saat Di sedang menyalahkan aku, sementara aku yakin sekali aku tak melakukan apa - apa.
__ADS_1
" Nah, benar kan... lagi mesum!!" seseorang berteriak ke arah kami, menunjuk - nunjuk dan memaki - maki. Aku tak tahu bagaimana caranya membela diri, apalagi dengan kondisi kami yang seperti ini. Di menangis, dia berteriak, aku bingung, otakku sama sekali tak bisa diajak berpikir.
" Tunggu, tunggu.. jangan mendekat! " kataku kasar, melihat seseorang ingin melangkah mendekati kami. Aku mengambil baju dan celana panjang Di yang tergeletak di tanah dan menyerahkannya padanya.
" Pakai, cepat!" kataku memerintah. Di cepat mengambil pakaiannya dan mengenakannya dengan bantuanku menutupi tubuhnya dengan selimut. Aku memandangi tubuhnya yang masih mengenakan pakaian dalam, aneh... kenapa pakaian dalam, bahkan celana pendek ketat Di masih melekat rapi di tubuhnya. Di mengangkat kepalanya, sadar kalau aku memperhatikan tubuhnya. Dia melotot dan belum berhenti menangis. Setelah Di selesai, aku membuka penutup selimut di tubuhnya. menutupi tubuh bagian bawahku yang juga masih mengenakan boxer.
" Nak Dimas... apa - apaan ini?" seorang laki - laki yang aku kenal sebagai ketua RT di daerah ini menyapaku.
" Kami tidak melakukan apa - apa pak. Saya berani sumpah." kataku menjelaskan.
" Waduh nak, keadaan kalian saja sudah menjelaskan apa yang sudah kalian lakukan." katanya kemudian. Aku menggaruk - garuk kepalaku yang tidak gatal, bingung. Uni Rahmi nampak berdiri ketakutan memandangi kami, lalu dia menunduk.
" Begini nak, kalian harus menerima hukuman atas apa yang kalian lakukan ini." pak RT menambahkan.
" Nggak bisa nak, pekerjaan berdua ya harus di tanggung berdua. Kalian berdua harus menerima hukumannya." jawab pak RT.
Aku melihat ke arah Di yang masih menangis, " maafkan aku Di... tapi sumpah, aku tak lakukan apapun padamu ", kataku dalam hati.
" Pertama, kalian berdua harus membayar denda." pak RT mulai menjelaskan. Ok lah, hukuman pertama bisa aku handle sendiri. Berapapun dendanya, aku mampu membayarnya. Aku diam mendengar penjelasan ketua RT.
" Kedua, kalian harus segera dinikahkan." Mataku membesar mendengar hukuman kedua, hatiku bersorak, tapi Di... Aku mengalihkan pandangan ke arah Di, dia menggeleng - gelengkan kepalanya kuat. Aku jadi tak tahu harus bagaimana.
" Tidak ada hukuman lain selain menikah pak?" tanyaku pelan, sedih... Di saat banyak wanita menginginkan aku untuk jadi suami mereka, tukang ojek ini malah cepat sekali menolakku. Aku mengumpat dalam hati.
__ADS_1
" Tidak ada nak. Makanya, yang wanita cepat hubungi keluargamu untuk datang dan menikahkan kalian berdua." pak RT mulai memerintah kami.
" Ayahnya sudah meninggal pak, saudara laki - lakinyapun tidak ada." kataku menjelaskan. Di kaget mendengar penjelasanku, mungkin dia bingung kenapa aku tahu silsilah keluarganya.
" Owh... ya sudah, kita pakai wali nikah saja. Nanti kami akan beritahu syarat - syarat lainnya. Bersiap - siaplah." pak RT berbalik badan dan membubarkan kerumunan, lalu dia pergi meninggalkan kami.
Aku berbalik menghadap dan menunduk menatap Di yang juga sedang menunduk dan masih menangis. Aku menurunkan tubuh dan duduk di depannya. Di mengangkat kepala, lalu...
plak...
bukk..
bukk..
Dia memukuli tubuhku setelah sebelumnya menamparku, aku diam tak melawan juga tak berusaha menjelaskan apa - apa.
" Jahat kamu Dim... Kamu jahat!!" katanya berteriak.
" Harga diriku hanya semangkok bakso dan sepiring nasi." katanya kemudian, aku geli mendengar kata - katanya itu, tapi aku menahan tawa, membiarkan dia melepaskan kemarahannya padaku.
" Tidak ada cara lain Di, kita harus menikah." kataku, lalu bangkit berjalan menuju kamarku. Aku bisa mendengar jelas teriakannya, tapi aku acuhkan saja. Kau salah Di, harga dirimu lebih dari semangkok bakso dan sepiring nasi. Aku yakin sekali kalau aku tidak menyentuhmu. Aku menyirami tubuhku dengan air dingin, untuk mewaraskan otakku.
Di tempat lain.
__ADS_1
Seorang wanita tersenyum penuh kemenangan, selamat sayang... ucapnya dalam hati.