Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
POSITIF


__ADS_3

*


Dokter tersenyum setelah selesai memeriksa keadaan Di. Beliau bangkit dan berdiri berhadapan denganku.


" Bagaimana dok? Di sakit apa?" tanyaku tak sabar.


" Semuanya normal koq, saya belum bisa jawab, tapi..." dokter seperti sengaja menggantung kalimatnya.


" tapi apa dok?" tanyaku memaksa


" Coba kamu bawa istrimu cek ke dokter kandungan untuk memastikan ya Dim. Kalau menurut saya, dia sedang hamil." jawabnya tersenyum. Aku terperangah, kaget. Teriakan kecil keluar dari mulut mama yang sedari tadi duduk mendengarkan kami.


" Ha.. hamil, Di hamil dok?" aku tidak tahu, apakah semua ayah juga merasa seperti ini ketika mendengar istrinya hamil. Bingung, panik, bahagia... ya Tuhan...


" Menurut saya sih iya... tapi, lebih baik lagi kalau kamu ajak istrimu cek, atau coba pakai testpack aja. Dia juga pasti paham bagaimana cara menggunakannya." jawab dokter sambil tersenyum. Beliau adalah dokter keluarga yang sudah seperti keluarga, jadi beliau tahu kalau Di seorang janda beranak 2.


" Baik dok, terimakasih." kataku sambil menyalaminya.


Aku kembali ke sisi tempat tidur, memperhatikan wajah istriku, " maafkan aku sayang, terlalu banyak rahasia di antara kita, dan takdir Tuhan yang terbaik telah mempersatukan. Aku janji akan selalu mempercayaimu, setelah ini aku juga akan ceritakan padamu semua rahasiaku. Aku memandangi wajah tulusnya yang terlihat lelah, membelai lembut pipinya,


" Hmmh..."


Di mulai bangun,


" Di... Sayang... " aku memanggil namanya pelan.


" Hmmmh... yank... pusing..." katanya sambil memegangi kepalanya. Aku lalu membelai puncak kepalanya, berharap dapat mengurangi rasa sakitnya.


**


Aku mengajak Di ke dokter kandungan pagi ini, Di sedikit bingung tapi dia diam dan menurut.


" Gimana mbak?" tanyaku pada dokter kandungan yang juga kakak sepupuku ini.


" Sabar kek Dim... ngebet banget sihhh..." katanya sambil tertawa.


" Hmmm... " dia melihat ke arahku, lalu menatap Di.


" Positif Dim." katanya kemudian.

__ADS_1


" Alhamdulillah..." tanpa sadar aku mengucapkan syukur dengan suara keras. Di cepat menepuk pahaku untuk menyadarkanku. Aku tersenyum dan mengerlingkan mataku padanya.


" Ok mbak, terimakasih. Kami pamit pulang dulu ya..."


" Iya, hati - hati ya Di... Jaga kandunganmu." Di tersenyum mengiyakan pesan mbak Murni sebelum kami pulang.


**


Dirgana


Sejak Radit dan mamanya datang ke rumah Dimas, aku mulai melihat perubahan sikap Dimas dan mamanya pada anak - anakku. Berkali - kali kami datang ke rumah mama, sikap Dimas dan mama Sandra pada Azi dan Iza selalu dingin. Iza sekarang malah selalu menghindar untuk bertemu mereka, mungkin karena dia perempuan, makanya lebih peka. Azi, yang beberapa kali ku lihat di acuhkan Dimas, masih selalu mencari perhatiannya. Aku tahu kenapa Dimas dan mamanya bersikap seperti ini, tapi mereka lupa kalau anak - anakku tidak memilih sendiri benih yang membuatnya ada atau rahim tempatnya tinggal selama 9 bulan. Aku belum pernah membahas masalah ini pada Dimas, aku masih mencari waktu yang tepat untuk membahasnya.


***


" Mama..."


Azi dan Iza menyambut kedatanganku dan Dimas dengan hangat. Iza langsung beranjak masuk ke kamarnya setelah memelukku sebentar tadi. Sementara Azi langsung mendekatkan tubuhnya pada Dimas. Aku hanya memperhatikan sikap mereka berdua dari kejauhan. Aku duduk bersama mama dan berbagi cerita, sementara Dimas sibuk dengan HPnya duduk didepan TV bersama Azi. Aku sempat sekali mendengar Dimas meminta Azi pindah duduk dari sebelahnya dengan alasan dia merasa gerah, Azi pergi menjauh sebentar lalu kembali duduk disebelah Dimas. Dia meletakkan tangan menumpu tubuhnya pada paha Dimas yang masih sibuk dengan HPnya, Azi nampak serius ikut melihat ke layar HP. Tak beberapa lama, Dimas mengangkat pahanya dengan kasar, sehingga Azi kehilangan tumpuan dan terjatuh. Hatiku terasa dicabik - cabik melihat pemandangan itu,


" Azi, sini nak..." aku memanggilnya dan dia cepat datang menghampiriku. Aku memeluk dan menciuminya sambil mengucapkan kata maaf dalam hati.


" Azi gak kangen sama mama?" tanyaku mengalihkan perhatiannya.


" Dimas mungkin capek, kalian pulanglah."


Mama seperti tahu apa yang sedang bermain dipikiranku, makanya beliau menyarankan aku untuk pulang. Aku mengangguk pelan, sedih sekali.


****


Aku tak sekalipun merespon pertanyaan Dimas sejak kami pulang dari rumah mama tadi. Hatiku perih, karena mereka adalah bagian dari diriku. Aku langsung turun dari mobil dan masuk ke rumah sendirian, menyapa mama Sandra yang sedang asyik membaca dengan senyuman dan menapaki pelan satu persatu anak tangga menuju kamar.


Dimas masuk ke kamar ketika aku sedang memasukkan beberapa pakaianku ke travelbag.


" Mau kemana?" tanyanya ketus


Aku diam saja, masih tak merespon.


" Jawab aku, kau mau kemana?" ulangnya tapi dengan nada lebih rendah


Aku masih diam

__ADS_1


Dia melangkah cepat ke arahku, mengambil kasar tanganku dan menariknya agar aku berdiri menghadap kearahnya. Matanya berkilat marah.


" Apakah sakit rasanya di diamkan Dim?" tanyaku. Dia mengkerutkan keningnya


" Maksudmu?" tanyanya lagi


" Apakah kau merasa sakit hati ketika seseorang yang biasanya hangat dan penuh cinta padamu berubah dingin dan mengacuhkanmu?" tanyaku lebih detail.


" Kasusnya berbeda." jawabnya santai, melepas tanganku. Dia sepertinya tahu kemana arah pembicaraanku


" Apa kau dulu memilih sendiri benih yang akan membentukmu Dim?" kembali aku bertanya


" Pertanyaanmu tidak masuk akal." jawabnya, melepaskan pegangannya dan menjauh, lalu mengambil duduk di sofa.


" Anak - anakku tidak tahu kalau benih yang membentuknya adalah benih seorang ********. Mereka tidak tahu kalau ayahnya adalah orang yang akan menyakiti ibunya, mereka juga tidak tahu kalau ayahnya adalah Raditya Arya." tangisku mulai pecah, dadaku sudah sesak menahan ini.


" Kalau mereka bisa memilih waktu itu, mereka pasti akan memilih terbentuk dari benihmu yang hangat dan penuh cinta, seperti dia." kataku melanjutkan sambil menunjuk perutku.


" Kenapa pada mereka kau hempaskan marahmu, kenapa tidak kau cari saja ayahnya si Radit itu, habisi dia dan buang mayatnya ke tempat pembuangan sampah. Karena hanya itu yang pantas buatnya, jangan anak - anakku Dim." Suaraku mulai meninggi, kecewa pada sikapnya. Dia hanya diam dan mengacak - acak rambutnya. Aku kembali melanjutkan kegiatanku, lalu berdiri begitu semuanya sudah rapi.


" Aku tidak mengizinkanmu pergi Di." katanya dengan suara keras.


" Aku tidak perduli, seperti kau yang juga tidak perduli bagaimana perasaanku." kataku sambil berlalu keluar kamar.


Aku menuruni tangga perlahan dengan travel bag di tangan. Hanya tinggal beberapa anak tangga lagi, tapi kakiku terkilir, aku limbung tak mampu menyeimbangkan tubuhku,


Dimas


" Brukkk"


Aku bangkit dan berlari keluar kamar,


" Dimaassss!!!"


" Diii!!!"


Aku berlari menuruni anak tangga, Di tergeletak di lantai, mama duduk menopang kepala Di dengan pahanya.


Aku langsung meminta supir menyiapkan mobil, sementara aku menggendong tubuh Di masuk ke mobil. Aku menopang tubuhnya selama berada di mobil,

__ADS_1


" Di!! aku mohon bangun Di!!" berulangkali aku mencoba membangunkannya, tapi Di hanya diam tak bergerak.


__ADS_2