
*
Dimas
Aku terbangun, sakit kepalaku sudah mulai berkurang. Aku berbaring terlentang dan terkesiap melihat pemandangan di sampingku. Di tertidur sambil duduk, tangannya masih memegangi rambutku, dan... oohhh... aku baru sadar kalau aku sudah menjadikan pahanya sebagai bantal. Aku bangkit untuk duduk pelan - pelan, takut Di terbangun, tapi aku gagal. Dia membuka matanya cepat dan melihatku dengan cemas.
" Kau haus Dim?" tanyanya, entah kenapa hatiku bahagia sekali mendapatkan perhatiannya. Aku menggeleng.
" Lalu, kau lapar?" tanyanya lagi.
" Iya Di, kau sudah makan?" tanyaku balik dan dia menggeleng. Aku memindahkan pandanganku ke jam di dinding, sudah pukul sebelas dan aku belum makan dari tadi siang.
" Temani aku makan, mau ya Di?" pintaku pelan. Dia mengangguk, mungkin dia juga sudah menahan lapar dari tadi.
Aku beringsut turun dari tempat tidur dan melangkah hendak ke kamar mandi,
" Aduhhhh..." aku cepat berbalik, mengurungkan niatku dan mendekati Di.
" Kenapa sayang?" tanyaku cemas
" Kakiku kesemutan... " katanya menahan sakit, aku lalu menyentuh salah satu kakinya, dia melotot padaku
" Sakit Dim..." katanya, aku lakukan hal yang sama di kakinya yang satu lagi,
" Dimaasss..." Dia menjatuhkan tubuhnya, aku tertawa melihat ekspresinya. Dia menarik bantal yang ada didekatnya dan melemparkannya padaku. Aku tertawa dan berjalan masuk ke kamar mandi.
Di sudah tidak ada di tempat tidur saat aku kembali dari kamar mandi. Aku berjalan keluar kamar menuju ke halaman belakang. Aku melewati Di yang sedang menyiapkan 2 piring makan tanpa bantuan uni Rahmi, aku melanjutkan saja langkahku ke kursi santai di halaman belakang.
Di datang membawa dua piring makan bersamanya, meletakkannya di atas meja disampingku lalu kembali ke ruang makan. Tak berapa lama dia sudah kembali lagi dengan dua buah gelas dan satu teko air hangat dan meletakkannya di meja yang sama dengan piring tadi. Dia mengangkat sebuah piring dan memberikannya padaku, lalu mengangkat satu piring yang lain untuknya. Aku memperhatikan semua gerakan yang dibuatnya malam ini. Dia melayaniku, seperti tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.
" Mengapa kau tak bangunkan uni Rahmi?" tanyaku
" Sudah, tapi tidurnya sangat nyenyak. Aku jadi gak tega." jawabnya
__ADS_1
" Lagipula, aku takut ada seseorang yang memasukkan sesuatu ke makananku agar aku tertidur lelap, lalu bangun - bangun sudah telanjang."
Aku melihat ke arahnya, dia membuka kembali cerita itu.
" Aku berani sumpah kalau aku tidak melakukan apapun padamu malam itu." jawabku merasa tersindir. Dia hanya mengedikkan bahunya santai.
" Kau pergi ke toko emas kemarin?" tanyaku santai.
" Iya." jawabnya, lalu berhenti mengunyah dan menatapku dengan tatapan menyelidik
" Toko emas DIA?" tanyaku lagi dan dia menjawab lewat anggukan. Aku tersenyum, ternyata benar itu memang suaranya.
" Kau beli sesuatu di tokomu sendiri." kataku dalam hati. Dia menatapku meminta jawaban, tapi aku pura - pura tidak tahu.
" Bagaimana kau tahu kalau aku membeli emas di sana?" akhirnya dia bertanya.
" Aku mendengar suaramu dari dalam ruanganku, aku keluar tapi kau sudah pergi, aku kejar tapi kau hilang dari pandangan."
" Jadi... toko itu milikmu juga?"tanyanya lagi dan aku menggeleng
" tahu apa?" tanyaku balik
" Itu toko emas milik pacarmu yang bergelayut manja di tanganmu waktu itu kan???" tebaknya " norak, kayak gak ada tempat lain untuk bermanja." Aku lantas tertawa terbahak - bahak melihat ekspresinya, " kau cemburu Di... aku tahu kau cemburu..." kataku lagi dalam hati.
" Apanya yang lucu?" tanyanya kesal.
Aku meletakkan piringku yang sudah kosong ke bawah meja, lalu mengambil piring dari tangan Di yang juga sudah kosong dan meletakkannya di tempat yang sama. Lalu aku mengambil gelas dan menyerahkan salah satunya padanya.
" Minumlah dulu." kataku. Setelah itu,
" Baiklah Di, aku mau mulai hari ini kita buka semua rahasia masa lalu kita. Kita habiskan disini dan tinggalkan disini, kembali ke rumah tanpa ada rahasia baru yang lainnya, bagaimana?"
" Untuk apa?" tanyanya lagi
__ADS_1
" Untuk memperbaiki semua yang pernah rusak. Aku masih mencintaimu, membutuhkanmu, dan aku tak mau berpisah denganmu." kataku meyakinkannya
" bukan tidak mau, tapi belum mau... suatu hari pasti mau." jawabnya mengejek dan buatku itu tidak lucu. Aku menatap wajahnya, menahan kekesalanku atas kata - katanya. Dia diam dan mengalihkan pandangannya ke laut gelap di depan.
" Maaf..." katanya kemudian, tanpa memandang wajahku.
" Perempuan itu Nadya, perempuan yang sudah 2 tahun menemaniku sebelum aku bertemu denganmu. Dia juga yang menyebabkan aku babak belur malam itu. Aku mendapatinya sedang bermanja - manja di tempat hiburan. Aku melabrak mereka, tapi kekasihnya tidak terima dan memanggil teman - temannya untuk menghabisiku. Aku tidak melawan, karena aku pikir Nadya akan iba dan memelukku, tapi aku salah. Ada perempuan lain yang iba dan jatuh hati padaku malam itu, bahkan perempuan itu juga yang mengatai aku " bodoh." saat itu." aku meliriknya, mengingatkannya, dan dia tersenyum.
" Jadi benar toko itu milik dia kan?" tanyanya lagi.
" Bukan, toko itu milik kalian bertiga." jawabku, dia menatapku meminta penjelasan.
" Dirgana Iza Azi, DIA bukan DYA." jelasku kemudian, dia kembali melempar pandangannya kelaut.
" Untuk apa?" tanyanya lagi.
" Untuk persiapan kalau - kalau aku mati nanti, kalian bertiga tidak perlu khawatir soal ekonomi. Itu toko yang ke 3, satu di Bukittinggi dan dua ada di pasar." jelasku
" Kenapa kami?" lagi - lagi dia bertanya soal toko itu.
" Siapa lagi yang akan meneruskan usahaku Di... Aku hanya dapat 1 toko warisan ayahku, hanya 1 toko, itupun hanya toko kecil. Kalaupun sekarang jumlahnya sudah puluhan, semua atas nama ku Dimas arya, kalau aku mati, pemilik nama besar Arya akan memperebutkan itu, padahal aku merintisnya sendirian. Kau sudah lihat Raditya Arya datang dan meminta 5 toko, sementara mereka sudah dapatkan banyak dari yang seharusnya mereka terima, tapi masih merasa kalau semua yang menggunakan nama Arya adalah milik ayahku, mereka salah." Aku mulai terbawa emosi menjelaskan.
" Kenapa kau tidak menikah lagi saja Dim, agar kau mendapatkan keturunan yang bisa melanjutkan usahamu? Kau tahu ayah dari anak - anakku adalah Raditya Arya, suatu hari dia bisa saja datang mengangkangi hasil usahamu, karena dia ayah mereka?" dia kembali menanyakan hal bodoh.
" Kau suruh aku menikah lagi, sementara hanya kau yang aku mau. Kau gila Di." jawabku kesal.
Aku langsung berdiri, menarik tangannya untuk ikut berdiri juga dan kami berdiri berhadapan.
" Tatap mataku dan bilang kalau kau sudah tidak mencintaiku, aku akan antarkan kau pulang malam ini juga, lalu mengurus surat - surat yang kau minta, 2 hari hanya 2 hari maka kau akan mendapatkannya. Katakan Di!! Cepat!!" Kataku dengan kesal, aku sudah muak melihat kepura - puraannya. Di melonjak kaget mendengar teriakanku. Dia menggeleng - gelengkan kepalanya dan menangis terisak, matanya tak berani menatapku. Aku menyentuh kedua pipinya yang basah, memaksanya menatap mataku,
" Katakan kalau kau tidak mencintaiku." kataku pelan untuk memperjelas kalimatku, tangisnya semakin keras, dia menatap mataku, dan... menghambur kedalam pelukanku, memelukku erat, aku membalas pelukannya yang selalu hangat " aku tahu kau sangat mencintaiku sayang..." kataku dalam hati, bulir bening ikut mengalir membasahi pipiku,
" Aku mencintaimu Dim... Aku sangat mencintaimu, aku juga sangat mencintai mereka, mereka hidupku Dim... " Di mengungkapkan perasaannya bersama isak tangisnya.
__ADS_1
" Aku tahu sayang, aku salah... aku minta maaf, maafkan aku sayang... maafkan sikapku.." jawabku lembut.
Malam itu satu hal mulai terkuak, masih ada rahasia lain yang harus diungkap. Tapi rasanya itu sudah cukup untuk malam ini. Aku ingin melepas rindu bersama kekasihku, 2 tahun aku menahan sakitnya merindu, aku tak mau menyia - nyiakan waktu. Aku mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke kamar tidur, ini tentang cinta dan peraduan...