
Author POV
Enam tahun kemudian
Dimas dan Di duduk berdampingan sambil tetap tersenyum. Mereka memandang ke depan, terdapat sebuah panggung besar dengan beberapa petinggi universitas dan MC acara wisuda yang berdiri bersisian di atas panggung.
Iza kecil sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya. Dia sudah tumbuh jadi gadis dewasa yang cantik dan pintar sekarang. Dimas dan Di benar - benar bangga padanya.
" Aku jadi ingat saat pertama kali dia hadir dalam kehidupanku, malu - malu dan memberi jarak padaku."
Di tersenyum lebar, ingatannya seketika kembali ke masa itu.
" Namun akhirnya, kau memenangkan hatinya Dim."
Dimas mengangguk mengiyakan
" Sebentar lagi dia akan menikah dan pergi meninggalkan kita. Kau sudah siap Di?"
Di tiba - tiba berubah sedih
" Kau mengganggu kebahagiaanku saja Dim."
Dimas merengkuh bahu Di
" Satu persatu mereka akan meninggalkan kita sayang.. Kau harus sudah siap untuk menyambut hari itu."
Di menepuk pelan bahu Dimas, air mata mengalir dari sudut matanya.
" Meskipun anak gadisku ini benar - benar memberi jarak pada laki - laki, aku tidak mau dia jadi perawan tua sayang.."
Di mengangguk.
" Iya Dim.. Tapi biarkan dia mendapatkan pekerjaan dulu. Jangan ganggu dia dengan permintaan untuk menikah. Usianya masih muda, biarkan dia mengejar mimpi - mimpinya terlebih dahulu."
Dimas mengangguk sambil tersenyum menatap Di.
__ADS_1
*
" Apa rencana mu mulai besok Za?"
Iza meletakkan sendok dan garpu nya bersamaan, karena makanan di piringnya sudah habis.
" Iza boleh liburan dulu gak pa?"
Dimas tertawa mendengar permintaan anak gadisnya itu.
" Boleh sih. Kamu mau liburan kemana?"
" Azi ikut!"
potong Azi tak mau kalah. Di ikut tertawa kecil mendengar ucapan Azi.
" Kau selesaikan kuliahmu dulu, baru pergi liburan."
jawab Di tegas pada Azi. Anak laki - laki itu nampak merengut kecewa.
Di seketika merasa sangat terharu mendengar jawaban Iza, begitu pula Dimas. Dimas yang juga sudah menghabiskan makanannya, meletakkan sendok dan garpu nya di atas piring dan mengambil gelas yang berisi air minum. Dalam sekejap saja, air itu sudah berpindah tempat sekarang.
" Kamu bilang mau liburan, koq malah mau di sini aja."
tanya Dimas memastikan, setelah gelasnya kosong dan diletakkan kembali ke tempatnya semula.
" Iza mau ikut papa ke toko, boleh?"
Dimas membelalak kaget, tak percaya dengan permintaan anak sulungnya itu.
" Kamu yakin?"
Iza mengangguk yakin. Dimas menoleh pada Di yang juga sedang menatap Dimas. Mereka berdua tak pernah meminta anak - anak untuk mengurus toko, mereka tak mau memaksa anak - anak untuk menyukai sesuatu yang mereka suka atau mereka kerjakan.
" Boleh, boleh banget malah."
__ADS_1
jawab Dimas akhirnya.
" Suatu hari kamu juga harus mengelola toko mu sendiri."
Iza tersenyum.
" Terimakasih pa."
" Papa yang seharusnya berterimakasih, kamu sudah berinisiatif untuk belajar mengelola toko."
" Yeee.. Kirain mau kemana... Gak seru kakak mah."
Iza mengambil sendok bekas makannya tadi dan memukulkannya oelan di kepala Azi.
" Aduhh.. Apalah kakak ni.. Maa.."
" Issshhh... Kau sudah besar pun masih mengadu juga sama mama. Lagian itu kan gak sakit."
" Abang cemenn..."
Azi membelalakkan matanya pada Zya yang masih asyik mengunyah makanannya. Sementara Zya tak memperdulikan pelototan nya.
" Berani mengejek abang kamu ya.. Awas aja."
ancam Azi pada Zya, tapi tetap saja Zya mengacuhkannya. Dimas, Di dan Iza tertawa melihat gaya cuek Zya.
" Ya udah, mau mulai kapan?"
tanya Dimas pada Iza.
" Besok pa."
" Ok. Besok kamu ikut papa ke toko, sekalian papa ajak kamu ke toko kamu."
Iza tersenyum menatap papa dan mamanya yang duduk berhadapan dengannya dan Azi.
__ADS_1
TAMAT