
*
Belum jam 02.00 tapi aku sudah berada di rumah besar ini. Aku langsung melangkahkan kaki ke kamar Dimas, begitu sampai disini. Bunyi air yang jatuh lewat shower menyambut kedatanganku di kamar, aku meletakkan tas punggungku, melepas satu persatu bajuku dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Dimas sedang menyabuni tubuhnya membelakangi pintu masuk kamar mandi. Aku membuka pintu kaca pembatas pelan - pelan, menyentuh tubuh suamiku yang langsung terperanjat kaget oleh sentuhanku.
" Sayang.. Kau sudah datang." katanya, menarik tubuhku untuk masuk ke dalam pelukannya, menciumi bibirku dan menyatu melepas rindu di bawah shower.
Sekarang, kami pindah ke walking closet. Belum mengenakan pakaian, bahkan belum mengeringkan tubuh kami masing - masing, aku kembali memancing hasratnya dengan memberikan sentuhan dan ciuman di dadanya, rasanya seperti tak mau melewatkan waktu untuk tetap menyatu bersamanya. Empat hari buatku adalah waktu yang lama berjauhan dengannya, aku tak mau dia berubah arah nantinya di sana. Aku harus membuatnya kenyang dulu sebelum berangkat, agar dia tak merasa lapar selama empat hari berjauhan denganku. Kembali beradu, melepas bersama dan saling berpelukan.
" Kau tidak membawa pakaianmu sayang?" tanyaku bingung. Aku tidak melihat travel bag ataupun minimal tas punggung di sana. Dimas keluar dari walking closet dengan hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada.
" Nggak yank, ntar beli aja di sana. Hitung - hitung nambah koleksi dan gak ribet." jawabnya santai.
Dia berjalan mendekatiku yang duduk di pinggir tempat tidur.
" Kenapa?" tanyanya mengejekku.
Aku menggeleng lemah, " cinta juga bisa dibeli nanti di sana?" kataku pelan. Dimas kaget mendengar ucapanku. Memegang pipiku dengan kedua tangannya, dan mengarahkan wajahku untuk menatap wajahnya.
" Kau sudah memberikan lebih dari apa yang aku butuhkan, untuk apa aku harus mengeluarkan uang lagi disana untuk sesuatu yang dapat mengenyangkan, bersih, halal dan gratis disini." katanya pelan, " Aku bukan tipe laki - laki yang mudah lapar yank." katanya lagi, menundukkan kepalanya dan memberikan ciuman hangat padaku. Aku beringsut pelan menaiki tempat tidur, tanpa melepaskan ciumannya. Dimas mengikuti gerakan tubuhku. Lalu, aku menolak tubuhnya pelan agar dia bisa duduk bersandar, sementara aku duduk di pangkuannya. Aku melepas ciumannya pelan, dan menciumi setiap senti wajahnya, menjilat tenggorokannya, lalu telinganya. Dimas mendesah, nafasnya memburu, aku terus melancarkan aksiku untuk memuaskannya. Aku tak mau dia merasa tiba - tiba lapar nanti di sana.
" Capek yank?" tanyaku padanya, melihat dia tergeletak menengadah sambil menutup mata. Sementara aku berbaring menyamping menghadapnya, merasa puas sudah membuatnya berkali - kali lepas.
" Aku mencintaimu perempuan gila." katanya pelan. Aku tertawa mendengar jawabannya dan beringsut turun dari tempat tidur melangkah menuju kamar mandi. Sudah sore, Dimas akan berangkat setelah magrib, artinya dia sudah harus mulai bersiap - siap, begitu juga aku.
**
Dimas
Gila... benar - benar gila istriku ini. Aku benar - benar dikalahkannya. Dia saja masih bisa berjalan santai walau sudah melayaniku berkali - kali, sementara aku masih tergeletak di sini mengatur napas dan mengembalikan tenagaku. " Syukur laki - laki brengsek itu melepaskannya, dia memang tidak pantas mendapatkan pelayanan sehebat ini." kataku dalam hati.
Aku akui, ini bukan pengalaman bercinta pertamaku. Bahkan dengan Nadia, aku sering melakukannya. Tapi, belum pernah aku seletih dan sepuas ini di layani. Padahal, uangku sudah banyak di hambur - hamburkannya. " Kau berhak mendapatkan lebih dari apa yang pernah aku berikan pada perempuan - perempuan itu Di, cintamu, perhatianmu, pelayananmu..." kataku lagi di dalam hati.
" AKU MENCINTAIMU DIRGANA PUTRI!!!" teriakku.
__ADS_1
" Ribut!! Mandi Dim!!" pekiknya dari dalam kamar mandi.
" Kau keluar dulu, aku sudah menyerah." kataku sambil mengangkat bantal di sampingku. Aku mendengar tawa kemenangan dari dalam sana.
***
Selepas magrib, salah satu asisten rumah tanggaku memberi kabar kalau Andi sudah datang. Aku memang sudah siap dari tadi, hanya menghabiskan waktu berpelukan dan bercerita bersama Di di dalam kamar.
" Baiklah sayang, aku berangkat ya. Jaga dirimu dan anak - anak kita ya." kataku, yang dijawabnya hanya lewat anggukan saja.
" Beri aku senyuman dong yank... jangan gini, aku akan pulang secepatnya." kataku lagi. Di menghambur ke dalam pelukanku, aku membalas pelukannya dan mencium puncak kepalanya. Aku melepas pelan pelukannya dan membelai pipinya lembut, akhirnya sebuah senyuman hadir.
" Tak usah kau antar ke bawah, beristirahatlah dulu sebentar di sini. Kau pasti sangat letih." kataku, " Kalau kau pulang nanti, bawa paperbag itu sekalian ya... Jangan sampai lupa." sambungku.
***
Dirgana
Aku mengambil paper bag, yang dipesankan Dimas tadi, memasukkannya ke dalam tas punggungku dan berjalan keluar kamar. Setelah menutup pintu kamar Dimas, aku menuruni tangga dan berjalan keluar rumah.
" Iya mak, Di pulang dulu ya..." jawabku.
" Iya non... hati - hati ya." kata beliau.
***
Aku membuka paper bag yang tadi ku bawa dari rumah Dimas, mengeluarkan satu persatu isinya. Ada 1 kotak HP baru dan 3 buah credit card. Aku mengambil HPku dan baru akan menelponnya, tapi tiba - tiba Dimas sudah menelpon duluan.
" Halo yank." kataku pelan.
" Halo, kau kenapa Di?" tanyanya cemas.
" Kenapa?" tanyaku balik kebingungan
__ADS_1
" Suaramu lemas sekali sayang... Kau baik - baik saja kan?" tanyanya lagi.
" Baik koq." jawabku pendek.
" Kau dimana?" tanyanya lagi.
" Udah di rumah, sama anak - anak." jawabku.
" Yank... ini apa maksudnya?" tanyaku kemudian
" Yang mana yank?" tanyanya balik.
" paper bagmu." jawabku singkat.
" Owh... iya. HP yang kau pakai sudah banyak kerutannya ku lihat, kau pakailah HP yang baru itu ya." jelasnya.
" Iya, lalu yang 3 ini?" tanyaku lagi.
" Itu hakmu dan anak - anak yank... Kau belum lupa kalau kau istriku kan? Aku menunggumu meminta, tapi sepertinya kau sudah puas dengan cash yang aku berikan padamu, malah kau tak pernah mempermasalahkan jumlahnya, kau selalu sibuk menyenangiku." katanya tertawa. Aku tertawa mendengar penjelasanku.
" Besok kau akan mengurus sekolah Iza, banyak yang harus kau persiapkan sementara aku sedang di luar kota, kau gunakanlah kartu - kartu itu. Azi juga pasti tidak akan tinggal diam melihat kau hanya membelanjakan Iza kan?" Aku mencerna satu persatu kalimat yang keluar dari mulutnya, seharusnya ayah kandung mereka lah yang perduli.
" Di, kau masih disana?" panggilnya.
" Iya, yank... aku masih mendengarkanmu." jawabku.
" Jangan buat malu anak - anakku di depan teman - temannya nanti yank... Jangan terlewat satu benda sekecil apapun kebutuhan mereka. Tolong lakukan itu untukku. Bersenang - senanglah, gunakan kartu itu." Kata - katanya membuat airmataku mengalir deras. Secinta itukah Dimas pada anak - anakku.
" Ok yank, jaga anak - anak ya... Jaga juga kesehatanmu, aku janji akan mengalahkanmu setibanya aku di rumah besok." aku tersenyum mendengar perkataannya.
" Doakan semua urusanku lancar dan cepat selesai, aku mencintaimu Di." katanya kemudian.
" aku juga yank... Hati - hati ya..."
__ADS_1
Aku menatap lekat kedua buah hati yang selama ini aku jaga. Ini waktunya kalian bersenang - senang nak... Aku akan mengabulkan apapun permintaan kalian, seperti pesannya kepadaku.