Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
SENYUMMU


__ADS_3

Author POV


Terkadang, kita memang harus merasakan kehilangan dulu, baru kita tau arti seseorang di hidup kita. Bersyukurlah kalau yang pergi bisa datang kembali, kita tinggal minta maaf, kemudian memperbaiki segala kesalahan. Tapi, apa jadinya jika yang pergi itu tak akan mungkin kembali? Ribuan penyesalan tanpa akhir lah yang akan kita hadapi. Berjuta kali kau mengatakan cinta dan sayang, tapi orang tersebut tak dapat kau peluk dan tak bisa kau temukan lagi senyumannya, percuma.


Dimas POV


Aku terbangun oleh kecupan hangat di pipiku pagi ini. Senyuman Di langsung menyambutku saat aku membuka mata.


" Banguuuunnnn."


" Iyaaa.. Bentar lagi sayang."


" Sekarang. Kewajiban kita sebagai orangtua belum selesai, kau masih harus bekerja keras untuk memenuhi kewajiban itu. Ayo bangun."


Aku tertawa kecil mendengar ucapannya.


" Iya.. Iya. Anak - anak udah siap?"


Aku mengucek - ngucek mataku sebentar, sementara Di malah ikut berbaring dan meletakkan kepala di dadaku.


" Udah bangun dan lagi siap - siap."


" Hmmmmhhhh.. Aku masih ingin bersamamu seharian yank."


Di tertawa bahagia mendengar kalimat yang kuucapkan.


" Setidaknya kau antar anak - anak ke sekolah, lalu cek semua pekerjaanmu. Aku akan menunggumu di rumah."


" Hmmmmmmhhhhh... Ok, aku mandi dulu."


aku menepuk pelan bahu Di, meminta ruang untuk bergerak bangkit dari tempat tidur. Di kemudian bangkit, lalu mengecup pelan dan cepat bibirku. Aku membesarkan mataku padanya, kaget akan gerakannya yang sangat cepat.


" Jangan memancingku sayang."


" Nggak.. Aku bukan memancing. Aku memberikan semangat untukmu, agar rejeki kita hari ini lancar."


" Aamiin.."


" Ya udah, mandi gih. Pakaianmu juga sudah kusiapkan. Aku cek anak - anak dulu."


Di beranjak turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Aku pun beringsut dari tempat tidur, kemudian berjalan ke kamar mandi.


*


Aku keluar dari kamar dan membelalakkan mata, kaget melihat Iza dan Azi yang duduk bersama Di dan Zya di ruang keluarga sedang disuapi Di.


" Apa - apaan ini? Kenapa tiba - tiba semua disuapi?"

__ADS_1


aku berjalan ke meja makan, melewati istri dan anak - anakku yang tertawa bersama meladeni pertanyaanku.


" Lagi datang manjanya semua Dim."


Iza dan Azi nampak tersenyum sambil rebutan suapan Di. Zya memukuli kakak - kakaknya satu persatu, tak memberikan izin pada mereka untuk bermanja pada Di.


" Iya deh.. Papa ngalah lagi.. Sarapan sendiri."


Mereka tertawa terbahak - bahak bersama.


Di langsung bangkit dan berjalan menuju meja makan, setelah piring nasi gorengnya habis tak bersisa. Iza dan Azi kembali ke kamar untuk mengambil perlengkapan sekolah mereka, sementara Zya sudah ikut bergabung bermain bersama si kembar di teras belakang.


" Maaf yank."


Ucap Di menyesal, melihat piringku yang semula kosong sudah ku isi sendiri.


" Nggak pa pa. Kalau untuk anak - anak, aku rela perhatianmu berkurang padaku. Tapi kalau untuk hal lain, maaf... Aku tidak mau."


Di menepuk lenganku dengan pelan sambil terus tersenyum, lalu duduk menemaniku sarapan.


" Kau yakin ingin di rumah saja?"


tanyaku sambil menyendokkan sarapanku ke dalam mulut. Di mengangguk, senyumnya tak pernah lepas sejak tadi malam. Sungguh aku benar - benar merindukan senyuman itu.


" Aku selalu suka senyumanmu, teruslah seperti ini."


kataku sambil menyendokkan nasi goreng dari piringku dan mengarahkannya ke mulut Di. Di membuka mulutnya dan menerima suapanku.


Aku tersenyum, lalu menyendokkan nasi goreng ke mulutku.


" Udah pa, kami tunggu di luar ya."


Iza dan Azi memotong percakapan kami. Mereka berdua mendatangi Di dan menyalaminya. Setelah itu, ritual berpamitan bertambah dengan sebuah pelukan dan ciuman di pipi Di. Di menyambut bahagia pelukan dan ciuman dari anak - anak.


" Mama tunggu kami pulang ya."


Di mengangguk, anak - anak seperti takut ditinggalkan Di lagi.


" Azi gak langsung latihan? Ini kan hari Senin."


Aku menoleh pada Azi, wajah anak itu seketika gugup.


" Azi mau berhenti latihan aja ma."


" Kenapa?"


Aku dan Di serentak bertanya

__ADS_1


" Azi gak suka latihan di sana ma.. Maaf pa."


Azi seperti takut melukai hatiku. Memang aku yang mendaftarkannya latihan sepakbola di tempat latihannya selama ini.


" Kenapa gak suka? Azi harus sampaikan juga alasannya. Jadi papa gak kecewa."


Di mengingatkan Azi. Aku yakin dia pun ingin tau kenapa Azi tidak menyukai tempat latihannya. Karena setau kami, Azi memang suka sepakbola. Lagipula, dia yang meminta ikut latihan sepakbola. Aku hanya memilihkan tempat latihannya dan mendaftarkannya saja.


" Azi gak suka aja ma."


" Azi!"


Iza menegur Azi yang mulai meninggikan nada suaranya. Azi cepat - cepat menunduk


" Maaf ma.. pa.. Azi gak suka aja sama tempat latihannya. Azi gak pernah diikutsertakan turnamen. Kalaupun terpilih, itu hanya jadi cadangan. Itupun tak pernah turun ke lapangan."


" Kenapa begitu?"


Di menoleh padaku meminta jawaban, aku hanya mengedikkan bahuku.


" Gini aja, kamu pergi aja latihan nanti. Papa nanti datang sama mama ke sana lihat kamu latihan. Papa mau tau, kenapa kamu tidak diturunkan setiap ada turnamen."


" Tapi Azi tetap gak mau latihan di sana pa."


Azi bersikeras menolak ikut latihan.


" Iya.. Iya.. Kita cari tempat latihan yang lain. Papa hanya ingin tau alasan pelatih kamu dulu."


Azi diam, Di menatapnya iba.


" Bagaimana Zi?"


Di meminta persetujuan Azi


" Iya ma."


" Papa janji, kita cari tempat latihan yang lain. Azi punya rekomendasi tempat latihan yang Azi mau nggak?"


Wajah Azi seketika berubah, matanya bersinar menatapku.


" Ada pa."


" Ok, kita ke sana besok. Hari ini, Azi pergi latihan dulu ke tempat latihanmu yang sekarang. Tidak perlu beritahu siapapun kalau papa dan mama akan datang. Ok."


" Ok pa."


Azi kemudian berlari kembali ke kamarnya,

__ADS_1


" Ya sudah, nanti sore kita jemput Azi latihan ya Di."


Di mengangguk setuju.


__ADS_2