Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
TAK TERDUGA


__ADS_3

*


Seperti biasa, setelah anak - anak pulang dari sekolah, aku langsung bersiap - siap untuk ngojek. Meskipun aku tinggal bersama mama, segala urusan anak - anak tetap aku yang mengurus sendiri. Baru saja aku aktifkan aplikasi, orderan langsung masuk. Setelah menelpon untuk mengkonfirmasi pesanan, aku langsung berangkat.


**


Aku kembali melirik jam tangan, masih sore dan orderan sepi. Aku kembali sibuk dengan ponsel ku, buka - buka sosial media dan mengecek perjalananku hari ini. Baru 3 orderan yang aku dapatkan. Aku menghela nafas kuat, pasrah.


" Sabar... rejeki gak kemana kak." ujar salah satu teman biker yang sedari tadi menemaniku bersama 3 biker lainnya, seperti tahu keresahan ku.


" Anak bujang mana tau rasanya pulang ke rumah gak bawa uang." kataku menimpali. Mereka semua tertawa mendengar jawabanku, sambil tetap asyik dengan game di gawai nya masing - masing.


" Lagian... bukannya cari suami, malah keluyuran." ujar yang lain mengejek. Aku baru saja ingin membalas ejekannya,


" Tolong!! tolong!!" serentak kami terdiam dan melihat ke arah suara. Aku cepat turun dari motor yang sudah ku standar kan dari tadi dan berlari ke arah suara yang meminta tolong, diikuti oleh teman - temanku yang lain. Aku menyeruak ke dalam kerumunan, untuk ukuran tubuhku yang lumayan berisi, tidaklah sulit untuk menyingkirkan orang - orang yang berperan sebagai penonton yang berkerumun. Aku melihat seorang wanita terduduk di sana, tangan dan kakinya terluka, wajahnya pucat, mungkin shock, tapi aku pun tak tahu apa yang terjadi. Aku cepat berdiri kembali dan berlari ke arah warung yang ada di dekat tempat si wanita terduduk dengan wajahnya yang pucat, kemudian mengambil satu botol air mineral, membayarnya lalu kembali ke tempat wanita tadi. Aku bersimpuh di depan wanita tersebut, lalu menyodorkan botol air mineral kepadanya.


" Minum dulu buk." kataku padanya, beliau cepat mengambil botol yang ku berikan dan meminum airnya sampai setengah.


" Apa yang terjadi uni ( kakak )?" tanyaku pada perempuan muda yang tadi berteriak minta tolong.


" Ibu ini terjatuh saat sedang jalan tadi, saya yang berjalan di belakangnya jadi panik. Makanya saya minta tolong." jawabnya.


" Jadi uni bukan anak atau keluarganya?" tanya temanku yang lain.


" Bukan." jawabnya masih dalam keadaan panik.


Orang - orang yang tadi berkerumun, satu persatu mulai pergi. Setelah beberapa dari mereka mengabadikan kejadian tadi, berkerumun hanya untuk mengabadikan, bukan memberi pertolongan. Miris.

__ADS_1


Aku mengambil tissue dari dalam tas punggung yang selalu ku bawa, mengeluarkan beberapa lembar tissue, lalu...


" Maaf ya buk... " aku membersihkan wajahnya yang sudah tidak pucat lagi setelah minum. Bagian wajah sebelah kanannya sudah di penuhi pasir, mungkin bagian wajah tersebut sudah sempat mendarat di jalanan saat jatuh tadi. Inilah alasan kenapa aku tidak pernah membiarkan mama pergi sendirian, hal seperti ini yang aku takutkan. Lalu aku lanjutkan dengan membersihkan tangan dan kakinya yang terluka.


" Ibu tinggal dimana?" tanyaku pelan, setelah melihat kondisinya mulai stabil.


" Jalan Andalas." jawabnya singkat.


" Ibu punya no yang bisa di hubungi, biar kami bantu hubungi untuk menjemput ibu." tanya salah satu temanku.


" Tas saya di jambret tadi di sana, saya gak hapal nomor anak saya." jawabnya sambil menangis. Aku mengelus tangannya, mencoba menenangkan.


" Kalau saya antar kan ibu pulang, apa ibu ingat jalan menuju rumah?" tanyaku lagi.


" Ingat nak, ingat. Bisa tolong antar kan ibu nak?" jawabnya sambil tersenyum senang. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.


***


" Ini nak, ini rumah saya." aku memberhentikan motor tepat di depan sebuah rumah mewah yang sudah tidak asing buat mataku. Dua orang satpam yang sedang berdiri di depan pagar cepat menghampiri kami dan membantu si ibu turun dari motorku.


" Nyonya... Alhamdulillah nyonya sudah kembali." kata salah seorang dari satpam tersebut.


" Ma..." teriakan itu mengagetkan aku, seorang laki - laki muda berlari ke arah si ibu. Nampak sekali kecemasan di wajahnya juga orang - orang yang memanggilnya " nyonya." Laki - laki itu langsung memeluk dan membelai wajah ibunya yang kacau, lalu mengajak ibunya masuk ke dalam rumah. Salah seorang satpam tadi mendatangiku,


" Berapa ongkosnya uni?" tanya si satpam


" Ndak pak, saya hanya membantu mengantarkan saja." jawabku

__ADS_1


" Bukannya si uni ini ngojek?" tanyanya sambil melirik ke arah jaket yang aku kenakan.


" Iya, saya tukang ojek. Tapi saya tidak di pesan, hanya berniat membantu. Si ibu tadi jatuh di dekat tempat saya mangkal, tolong sampaikan pada keluarganya agar di obati dulu luka - lukanya." kataku. Aku langsung tancap gas menjauh dari rumah tersebut setelah berpamitan dengan si satpam. Entah kenapa aku jadi merindukan mama. Mungkin sudah saatnya aku pulang, membawa berapapun yang sudah aku dapatkan hari ini. Lagipula, ini masih suasana libur, orderan juga pasti masih sepi.


( Di dalam rumah )


" Mulai besok, mama tidak boleh lagi keluar rumah sendirian." anak laki - laki itu berkata dengan tegas. Tangannya sibuk membersihkan luka - luka yang ada di tangan dan kaki wanita yang dia panggil " mama ".


" Makanya carikan aku menantu untuk menemaniku kemanapun aku pergi." jawab si mama sambil meringis menahan sakit.


" Iya, sebentar lagi aku dan Nadia akan menikah. Jadi,... "


" Tidak." si mama memotong ucapan si anak. Si anak menghentikan kegiatannya dan menatap mata mamanya yang berkilat dan membesar. " Mama tidak mau punya menantu seperti Nadia, dia aja sibuknya minta ampun, gimana dia bisa menemani mama. Tiap bulan keluar negeri, reunian gak habis - habis, ngabisin duit aja. Mending kalau dia keluar negeri untuk bekerja atau seenggak - enggaknya pergi tuh pakai uang sendiri, ini nggak... Apa - apa pakai duit kamu. Cinta sih cinta Dim... tapi nggak gini juga." si mama terus mengomel sambil berlalu meninggalkan anaknya yang hanya diam terpaku. Anak laki - laki itu hanya bisa menghela napas, susah sekali meyakinkan mama soal hubungannya dengan Nadia. Sudah setahun dia meyakinkan mama, tapi mama tetap saja tidak setuju.


ptak


" aduh." Anak laki - laki itu memegang kepala belakangnya yang dilempar sesuatu. Dia langsung membalikkan badannya.


" yang ngantarin gua pulang tadi gimana?" mama melihat ke arahnya dengan wajah mengejek.


" Dia, mama minta aku nikahin tukang ojek tadi?" tanyanya sambil mengelus kepalanya yang sakit kena lemparan botol obat merah.


" Udah lu bayar belum? udah bilang terimakasih belum? sarap lu!" bentak mama sambil kembali masuk ke dalam kamarnya.


" Tapi, boleh juga saran lu. Dia baik, gua suka." teriak mama kemudian, laki - laki itu cepat menoleh ke arah pintu kamar mama yang masih terbuka,


" Nggak sekalian anak uni Rahmi aja yang mama nikahin sama aku, dia juga baik." jawabnya sambil berdiri dan melangkah menuju kamarnya.

__ADS_1


" Akan gua pertimbangkan." laki - laki itu semakin kesal mendengar jawaban dari mamanya, masuk ke kamar dan sedikit membanting pintu untuk melampiaskan kekesalannya.


__ADS_2