
" Hohoho.... Jangan bilang kalau Di ini istrimu Dimas..." katanya mengejek, setelah dia berhasil memastikan kalau itu adalah aku. Aku mendongak menatap Dimas yang masih diam mematung menatapku.
" Dia memang istriku." jawab Dimas dingin
Radit bertepuk tangan dan tertawa mengejek, " selamat Di... selamat... akhirnya kau mendapatkan apa yang kau cari selama ini. Aku yakin hidupmu sudah senang sekarang... kau sangat pandai." Radit menceracau
" Apa maksudmu?" tanya Dimas marah, tubuhnya menegang menahan amarah.
" Ya, memang ini yang dia cari... Harta... kekayaan... kemewahan.... dan dia sudah berhasil dengan tujuannya." tambahnya kembali menceracau. Dimas dan mama menatapku lekat, ada kilat marah di mata mereka. Aku memggelengkan kepalaku, berulang - ulang.
" Nggak Dim... nggak... dia bohong." kataku membela diri. " Aku akan ceritakan nanti Dim, aku mohon... jangan percaya kata - katanya." tambahku memohon.
" Ceritakan sekarang!" Dimas meminta dengan marah, dia menjauhkan tanganku darinya.
" Dimas... aku mohon..." kataku takut.
Dimas masih diam menanti jawaban,
" OK ma... Aku akan datang lagi lusa, cepat siapkan semua surat - surat atas hakku yang kalian ambil." Radit berhasil membuat keluarga ini memusuhiku.
" dan kau Di... selamat bersenang - senang... Kabari aku kalau kau sudah mendapatkan semua ya..." katanya mengejekku.
__ADS_1
Dimas masih menatapku tajam, kilatan marah masih ada di sana, aku benar - benar takut melihatnya
Radit dan wanita yang bersamanya itu berjalan keluar dari rumah,
" Kau tidak tanyakan anak - anakmu Dit?" kataku lantang. Mereka berhenti, Dimas dan mama kembali menatapku mengharap penjelasan, setelah tadi sempat membuang muka dariku. "Kau mau tau semuanya kan Dim, maka aku akan beritahu semuanya." kataku dalam hati.
" Oh iya... aku sampai melupakan mereka." jawabnya santai. " Bagaimana kabar mereka?" tanyanya berbasa basi.
" Mereka sehat, mereka baik, dan mereka bahagia." jawabku. Aku tidak tahan melihat kemarahan dimata Dimas, aku harus ceritakan semuanya sekarang, terserah apapun yang akan terjadi setelahnya.
" Kau ingat aku pernah bilang kalau aku merindukan mantan suamiku Dim?" tanyaku pelan pada Dimas yang masih menatapku tajam. " Dialah mantan suamiku, ayah dari Iza dan Azi."
Dimas
" Bukan aku yang meninggalkan, tapi aku yang ditinggalkan, setelah berkali - kali menerima pengkhianatan, menghadapi proses kelahiran Azi sendirian. Aku pulang ke Padang dengan bantuan orang yang baru aku kenal. Beliau iba melihatku dan anak - anakku, lalu memberikan biaya dan membantu mengurus kepulanganku. Kalau kau tidak percaya, aku akan memberikan nomor HPnya nanti, kau bisa tanya dia, apakah aku berbohong atau hanya merekayasa cerita." Di melanjutkan ceritanya. Tapi aku hanya diam mendengarkan.
" Aku tidak meninggalkanmu Radit, kau ingat itu kan tante?" Di mulai melangkah maju mendekati Radit dan mamanya. Wanita itu kelihatan mulai takut dan bergerak mundur perlahan, berlindung di belakang tubuh Radit.
" Apa tante lupa, kalau aku sudah mengembalikan uang yang tante berikan padaku untuk meninggalkan Radit, agar Radit bisa menikah dengan Vena, kekasih gelapnya yang memiliki pacar orang kaya?" Aku terkesiap, langsung menatap mama yang juga sedang menatapku. Mama Radit diam, tak berkutik.
" Kalian memperdayainya, menguras habis harta orang lewat dia. Dia hidup di bawah ancaman kalian, kalian jebak dia dengan foto - foto syurnya bersama Radit. Dia tertekan, sampai akhirnya memilih bunuh diri. Itu semua karena kalian, kalian pembunuh." Di mulai berani, menunjuk Radit dan mamanya. Aku cepat melangkah mendekati Di untuk memberinya jarak dengan kedua manusia iblis itu, aku takut dia dilukai.
__ADS_1
" Kau mengada - ada Di... Itu hanya khayalanmu. Kau hanya perempuan teramat polos. Kau tidak tahu apa - apa." Radit kembali mengejeknya, Di mendekati Radit, berdiri menantang. Aku cepat menarik tangannya, tapi Di menepisnya. Wajahnya berubah sendu menatap Radit, lalu tersenyum manja.
" Aku memang polos Radit sayang... " shitt, dia menyentuh Radit dengan manja, aku mengepalkan tangan menahan amarah.
" Tapi aku tidak bodoh, kau mau mendengar Vena bercerita dari mulutnya sendiri, aku bisa tunjukkan." Tangan Di berpindah ke jas yang Radit kenakan, merapikan jas itu, shittt... aku muak dan mulai memalingkan wajah.
" Apa maksudmu?" tanya Radit bingung
" Aku bertemu Vena di malam sebelum jenazahnya ditemukan terkapar di kamar hotel. Dia menangis Radit... Dia sangat mencintai kekasihnya, kalian tega sekali. Aku juga tidak sadar kalau dia merekam sendiri ceritanya malam itu, secara tidak langsung dia memberikan HPnya padaku untuk di simpankan. Sampai sekarang masih ada bersamaku, aku yakin kita akan bertemu lagi suatu hari nanti dan tugasku adalah meminta pertanggungjawaban atas kematian Vena pada kalian!!" Di berteriak kesal.
Radit mundur, begitu juga mamanya.
" Hmmm... Aku akan kembali, urusan kita belum selesai Dimas." ancamnya sebelum pergi meninggalkan kami.
Di diam mematung di tempatnya, mengatur nafas dan emosinya.
" Di, ayo..." aku baru hendak mengajaknya ke kamar, tapi Di tiba - tiba terjatuh lemas, aku cepat menangkap tubuhnya yang limbung
" Di... Di!!" aku memanggilnya berulang - ulang
" bawa Di ke kamar mama Dimas, mama telponkan dokter." mama langsung pergi menghubungi dokter keluarga, aku mengangkat tubuh Di yang lemas, membawanya ke kamar mama dan membaringkannya di atas tempat tidur. Wajah Di pucat, sangat pucat, tiba - tiba saja airmataku mengalir, takdir seperti sengaja mempertemukan kami. Aku sempat tak percaya padanya tadi, " maafkan aku Di... aku mohon maafkan aku..." aku membelai keningnya, dan meninggalkan kecupan disana.
__ADS_1