
*
Dimas masuk ke rumah setelah mengucapkan salam, dan mendapati sederet wajah cemas sedang duduk di ruang keluarga.
" Za, ada apa?"
Wajah Iza sudah basah oleh air mata, Azi hanya menunduk dalam dan diam saja. Para baby sitter dan uni masih menunggu Iza untuk menjawab, tapi yang dilakukan Iza hanya menangis saja.
Dimas mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan keluarga, lalu ke taman dan kolam renang, dia tidak mendapati Di.
" Iza, jawab papa. Ada apa?"
" Hik.. mama pa.. hik.."
Dimas cepat melangkah ke kamarnya, membuka pintu dengan kasar dan lagi - lagi tak mendapati Di. Kemudian Dimas melangkah ke kamar mandi, kosong. Lalu kembali ke ruang keluarga
" Mana mama? Uni, Di kemana?"
Uni hanya diam sambil menarik - narik ujung blousenya, menandai dia sangat cemas.
" Siapa yang bisa jawab, mana istriku!"
Dimas mulai kesal dengan aksi diam semua orang yang ada di dekatnya
" Kami gak tau pa... Mama pergi mengajak Zya setelah kita berangkat tadi pagi kata uni."
Tangis Iza pecah.. Salah seorang baby sitter mendekati dan memeluknya.
Dimas mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelpon Di, tidak aktif. Dimas mencoba lagi, lagi dan lagi, tetap tidak aktif.
" Arrggghhhh!!"
Azi bangkit dan berlari masuk ke kamarnya, begitu pula dengan Dimas.
*
Dimas berulang kali mengintip keluar, namun tak ada tanda - tanda Di pulang. Matanya melirik sebentar ke jam dinding, sudah pukul 02.00 malam.
" Kemana kamu Di??"
Dimas mengacak - acak rambutnya dan menjambak sejumput, kepalanya mulai terasa sakit lagi sekarang. Dia sama sekali tak menyangka kalau diamnya malah membuat Di memutuskan untuk meninggalkannya lagi.
Dimas mengambil ponselnya, mencari nama Andi dan menggeser layarnya
" Ya Dim."
" Di pergi lagi Ndi."
" Apa!! Kalian bertengkar?"
" Aku mendiamkannya sejak kejadian hilangnya Iza setelah acara pernikahanmu Ndi."
" Gila kau Dim, itu kan sudah hampir dua minggu. Gila kau."
Air mata Dimas mengalir, tak tau apa yang harus dilakukannya saat ini.
" Sudah kau hubungi ponselnya? Sudah kau cek GPS nya?"
__ADS_1
" Dia meninggalkan ponselnya di kamar Ndi, beserta semua kartu yang aku berikan padanya."
Andi diam,
" Reni, kau sudah menelpon Reni."
Dimas langsung teringat pada asisten Di yang bertanggungjawab mengurus usaha Di selama ini.
" Coba kau..."
" Tuuuuuuuttttt."
Andi memandang ponselnya dengan kesal,
" Dimas Arya, kalau kau bukan bosku, sudah ku pelintir lehermu."
" Kenapa dipelintir yank?"
Andi melonjak kaget melihat kehadiran istrinya yang tiba - tiba.
" Dirgana pergi dari rumah."
" Ha? Ibuk? Kapan? Kemana?"
Andi menatap wajah istrinya dengan kesal
" Apa kau mau ku pelintir juga yank?"
" Eh.. ng.. nggak.. maaf yank... "
" Besok pagi ku antar kau ke rumah Dimas, kau tolong uni menjaga dan mengurus anak - anak Dimas sampai Di kembali. Mau kan?"
" Ya sudah, ayok kita istirahat lagi."
Andi dan Andien kembali ke kamarnya.
*
Dimas sudah berulang kali menelpon Reni, tapi tak ada jawaban. Tentu saja Reni sedang bergelung di alam mimpi di jam 03.00 pagi ini. Dimas melangkah menuju kamarnya dan memutuskan akan menelpon Reni nanti pagi.
*
" Di!!"
Dirgana berlalu bersama seorang anak perempuan dalam gendongannya.
" Berhenti Di!!"
Dia tetap melanjutkan langkahnya yang pelan, sangat pelan malah. Tapi, entah kenapa Dimas tak jua bisa menyamakan langkah dengannya, padahal Dimas mengejarnya dengan cara berlari
" Dirgana Putri berhenti kau, atau..."
Dirgana menghentikan langkahnya, berbalik menghadapnya, tanpa senyuman
" Di, aku mohon."
Dirgana menatap Dimas tanpa ekspresi, hanya diam saja meski si gadis kecil dalam gendongan memanggil - manggil Dimas.
__ADS_1
" Papa.. papa ma... Papa!!"
Dirgana hanya diam, menghadap ke arah Dimas, namun terus menjauh dari Dimas dengan perlahan
" Dirgana stop!! Di!!"
" Diiiii!!!"
Dimas bangkit dengan nafas tersengal, tubuhnya tiba - tiba terasa sangat letih, keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya.
" Huffft... Mimpi sialan."
Dimas mengutuki apa yang dia lihat dalam mimpinya tadi, Dimas kemudian melirik ke jam di dinding, lalu cepat menyambar ponselnya.
Nama Reni tertera di layar ponsel Dimas, artinya Reni sudah mencoba menghubunginya tadi, tapi Dimas yang tertidur lelap tak mendengar ponselnya yang berdering dari subuh tadi.
Dimas kembali menggeser layar ponsel di atas nama Reni.
" Ya halo pak Dimas."
" Reni, maaf saya mengganggu. Saya hanya mau tanya soal Di, istri saya. Apa kemarin atau tadi malam Di ada menghubungi kamu?"
" Ada pak."
" Di bilang apa ke kamu Ren?"
" Hanya minta saya handle semua pekerjaan dulu, Di bilang mau pergi liburan."
" Jam berapa dia menghubungi kamu?"
" Pagi pak, sekitar jam delapan atau jam sembilanan lah pak."
Artinya Di masih di rumah saat menghubungi Reni, Dimas menghela nafas berat.
" Pak, ada apa dengan Di?"
Dimas menggeleng - gelengkan kepalanya,
" Nggak ada Ren, nggak pa pa. Tolong beri kabar ke saya kalau Di menghubungi kamu lagi ya."
" Iya pak."
" Terimakasih Ren."
Sambungan terputus,
" Aaaargggghh"
" Praaakkkk"
Ponsel Dimas hancur berkeping - keping setelah menghantam dinding dengan sangat keras.
" Di... Maafkan aku Di..."
Dimas mulai putus asa, benar - benar merasa bersalah atas semua yang dia lakukan beberapa hari ini pada Di. Tidak ada maksud di hatinya untuk menyakiti hati Di, Dimas hanya ingin melunakkan hati Di untuk Iza, tapi Di salah mengartikan semuanya dan pergi meninggalkannya.
*
__ADS_1
Maaf banget untuk up date nya yang kelamaan dan hanya sedikit... Authornya lagi patah hati karena pengajuan kontrak di tolak... Hadeuhhhh... Jadi bikin stack, imajinasi pun gak mau dipaksa mengembara liar... Sekali lagi author minta maaf... Terimakasih untuk yang masih setia membaca...