Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
JATUH CINTA


__ADS_3

*


Author POV


Dimas keluar dari kamar dan langsung duduk di ruang makan. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat jelas wajah Di yang penuh senyum pagi ini. " Aku harus merasa puas hanya dengan melihat senyumanmu saja Di." kata Dimas dalam hati. Dimas cepat membuang wajahnya begitu melihat Di melirik padanya.


Dimas yang salah tingkah cepat - cepat bangkit dari kursi makan dan melangkah menuju garasi


" Uni, saya jalan dulu."


Uni menganggukkan kepala dan tersenyum pada tuannya.


**


Di merasa tidak asing dengan ketiga anak kecil yang sedang tertidur lelap di atas tempat tidurnya masing - masing. Di memberikan ciuman pada ketiganya sebelum meninggalkan mereka untuk beristirahat di kamarnya di lantai 2. Di baru menutup pintu kamar bayi dan hendak melangkah ke kamarnya, ketika Dimas masuk rumah sambil mengucapkan salam. Tatapan mata mereka beradu... diam... lama... tak ada yang berniat menurunkan tatapan saat ini. Mereka saling beradu pandang dengan syahdu. Rania merasakan dorongan dalam dirinya untuk mendekat pada Dimas, tapi dia menolaknya. Dalam fikirannya, Dimas adalah pria beristri dan istrinya sedang sakit, semenarik apapun Dimas dimata Di, Dimas adalah pria beristri yang tak pantas lagi untuk didekati.


Di menurunkan tatapannya, tak mau hanyut oleh perasaannya, sementara Dimas melanjutkan langkah menuju kamar tidur, setelah melihat Di membuang tatapan ke arah lain.


Di berjalan ke dapur dan memasak air, menyeduh teh, lalu meletakkannya di atas meja makan. " Tuan muda pasti membutuhkan teh hangat untuk membuat tubuhnya relaks", pikirnya. Di lalu pergi ke kamarnya, meninggalkan secangkir teh panas di atas meja.


Tak berapa lama setelah Di masuk ke kamar, Dimas keluar dari kamar dan melangkah ke dapur untuk membuat sendiri teh hangat untuknya. Tapi, langkahnya berhenti di meja makan, Dimas menatap secangkir teh panas sudah tersedia di sana, dengan cangkir yang sama dengan hari - hari sebelumnya. Dimas menolehkan pandangannya ke lantai dua, " apa kau benar - benar tak ingat aku Di?" tanyanya dalam hati. Dimas mengusap air mata yang mengalir tiba - tiba dari sudut matanya dan menurunkan pandangannya dari lantai dua. " percuma saja aku berharap, Di memang tidak mengingatku." pikirnya lagi. Kemudian, Dimas mengambil cangkir yang berisi teh dan kembali ke kamarnya.


***


Di yang sedang menyuapi si kembar tertegun melihat penampilan Dimas pagi ini. Wajahnya lebih santai dan banyak tersenyum pagi ini, jauh berbeda dari biasanya sejak Di bekerja di rumahnya. Sebelumnya Dimas selalu murung, tak ada senyuman di wajahnya, apalagi ketika melihat Di. Beberapa kali Di memergoki Dimas sedang menatapnya dan berlalu menjauh ketika mata Di menangkap tatapannya itu. " Fokus Di.. Dia suami orang." Di cepat membuang pandangannya dari Dimas dan kembali fokus pada si kembar.


Setelah menyuapi si kembar, Di menyerahkan keduanya pada dua baby sitter yang lain. Zya sedang asyik bermain dengan Dimas sekarang, tawanya memenuhi seisi ruangan. Di ikut tersenyum mendengar suara tawanya. " Anak itu merindukan ibunya." pikir Di, Zya selalu memanggil Di dengan panggilan mama, oleh karena itu Di berpikir seperti itu. Dia tidak menyadari kalau Zya hanya menyematkan panggilan itu padanya, tidak pada kedua baby sitter yang lain ataupun pada uni.


" Mama... ni."


Di berjongkok dan mengambil sebuah benda dari tangan Zya.


" Terimakasih sayang."


Zya lalu berlari kembali kepada Dimas.


Di meletakkan bunga pemberian Zya di atas meja makan dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


" Assalammualaikum"

__ADS_1


" Omaaa... emmmaaa..."


Zya berlari menyambut kedatangan mama Sandra dan mengangkat kedua tangannya meminta pelukan.


" Halo sayanggg... kangen oma."


Mama Sandra memeluk Zya sambil berjongkok, lalu berdiri sambil membawa Zya dalam gendongannya.


" Hi Di."


Di tersenyum membalas sapaan mama Sandra. Mama Sandra berjalan ke arah Dimas yang duduk di karpet di kelilingi mainan milik Zya.


" Kamu udah siap - siap?"


Dimas mengangguk dan tersenyum


" Di, ke sini sebentar."


Dimas berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya begitu mendengar mama Sandra meminta Di untuk mendekat.


" Ya bu?"


Deg, jantung Di serasa berhenti berdetak mendengar kalimat yang disampaikan mama Sandra. Di diam tak menjawab, " bukankah aku ini baby sitter ya? Apa menemani Dimas termasuk desk jobku juga?" pikir Di.


Mama Sandra menurunkan Zya dan membiarkannya berlarian kesana kemari.


" Begini Di, ada sesuatu yang belum mama sampaikan pada kamu mengenai keadaan Dimas."


Di diam mendengarkan


" Dimas itu sedang dalam perawatan, kanker otak."


Mama Sandra menunduk, langsung merasakan kesedihan mengingat penyakit yang sedang diderita putra kesayangannya itu.


Di langsung merasa iba, " kasihan anak - anak ini, kedua orangtuanya sedang sakit." pikirnya.


" Dimas harus pergi mengurus pekerjaannya, mama tidak tega membiarkannya sendirian tanpa ada yang mengawasinya."


" Mama bukannya pelit mengeluarkan uang untuk menyewa perawat buat Dimas, tapi mama pernah mengalami kejadian buruk dengan perawat Dimas yang lama. Mama jadi trauma menyewa perawat buatnya."

__ADS_1


" Tapi, dengan kamu mama percaya. Kamu pasti akan menjaga Dimas dengan baik."


Mama menatap sedih pada menantunya yang menganggap dirinya hanya seorang baby sitter di rumahnya sendiri. " karena kau istrinya Di, kau pasti akan menjaga anakku dengan baik." mama berkata dalam hati.


Di terenyuh menatap wajah wanita di depannya, " Ibu Sandra pasti sangat sedih sekali." pikirnya.


" Tolong mama ya Di? Tolong jaga dan awasi Dimas. Sementara kamu menemani Dimas, mama akan menemani anak - anak di sini."


Di tersenyum, tak bisa menolak permintaan mama Sandra.


" Iya bu, tapi saya harus antar uang belanja untuk anak - anak saya dulu ya bu. Seharusnya besok kan saya libur dan pulang."


Mama Sandra mengangguk mengerti. Beliau memang mengizinkan Di pulang sekali seminggu di hari Jumat sore untuk menemui anak - anaknya. Lalu kembali ke rumah pada hari Senin.


" Nanti kamu aja yang nyampein sama Dimas, dia pasti mau koq menemani kamu ke rumahmu."


Di mengangguk dan langsung berjalan ke kamarnya untuk bersiap - siap.


Sebenarnya, tanpa mengantarkan uang ke rumahnya pun, Iza dan Azi tidak akan pernah kekurangan. Dimas selalu datang ke rumah Di untuk menemui mereka berdua dan mama Di, sekaligus mengantarkan uang untuk mereka.


****


Di naik membuka pintu mobil dan kaget melihat Dimas yang juga duduk di bangku belakang. Dimas menatapnya,


" Masuklah Di."


Di tersentak, lalu menatap Dimas. Dia merasa sangat akrab dengan cara Dimas memanggilnya,


" Ada apa Di?"


Di menggeleng cepat, mengenyahkan perasaannya.


" Ya sudah, masuklah. Bukankah kita harus ke rumahmu dulu?"


Di mengangguk, tapi masih tetap berdiri di luar mobil. Dia merasa risih kalau harus duduk berdua dan berdekatan dengan Dimas.


" Nggak pa pa, masuk aja."


Di mulai menurut, lalu masuk ke mobil. Duduk di samping Dimas. Jelas sekali wajahnya sangat kaku duduk dekat Dimas, Andi yang melirik dua manusia di belakangnya tersenyum terharu. " Pasti sulit sekali bagi Dimas menahan keinginannya untuk menyentuh istrinya." pikir Andi. Andi mulai membawa mobil pelan keluar melewati pagar setelah Di menutup pintu mobil, dan mengarahkannya ke rumah Di.

__ADS_1


__ADS_2