Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
BERSAMAMU


__ADS_3

Author POV


Seminggu sudah berlalu, para nenek sedang dalam perjalanan refrehingnya. Dimas dan Di mengajak anak - anak, baby sitter, uni dan Andi berlibur ke villa. Mereka tiba di villa siang hari, anak - anak di temani baby sitter langsung menghabiskan waktu di kolam renang, Di dan uni menyiapkan makanan, sementara Dimas dan Andi asyik ngobrol sambil memperhatikan anak - anak berenang. Tawa, canda dan bahagia memenuhi isi villa.


Semua sudah terlelap keletihan, tinggal Di dan Dimas. Andi memutuskan untuk jalan - jalan sendiri, dia memang sudah sangat kenal daerah sekitaran villa. Dimas dan Di memilih melepas rindu di kamar mereka di lantai dua. Kamar dengan balkon sangat luas, pemandangan langit gelap bertabur bintang meneduhi kota sekitar villa yang berkilau cahaya lampu. Dimas dan Di duduk bersisian memandangi keindahan alam di malam hari. Di menyandarkan dagunya di bahu Dimas, sementara Dimas menggenggam tangan Di dengan lembut.


" Capek yank?"


Di menggelengkan kepalanya


" Aku bahagia, tidak sedikitpun merasa capek."


" Aku lapar yank."


Di mengangkat dagunya dan memiringkan tubuh menghadap Dimas yang mengerling nakal.


" Aku juga."


Mereka tertawa dan saling berpelukan. Di pindah duduk di pangkuan Dimas dengan kaki terbuka, menempelkan keningnya di kening Dimas, wajah mereka sangat dekat saat ini.


" Kau ingin di sini atau di dalam?"


Di bertanya manja sedikit mendesah

__ADS_1


" Aku ingin coba sensasi di sini, kau mau?"


Di mengangguk dan memulai ciuman hangatnya di bibir Dimas. Dimas yang juga sangat membutuhkan Di menyambut hangat ciuman itu, lidah mereka sama - sama menyeruak masuk menjelajah mulut, sesekali mereka saling hisap lidah, mendesah dan melekatkan pelukan. Tangan Dimas menggerayangi tubuh Di yang menuntut untuk di sentuh, membuat desahan Di terdengar lebih banyak dan lebih bergairah.


Satu persatu baju Di terlepas oleh Dimas, pemandangan perempuan tercinta yang hanya mengenakan bra sebagai penutup tubuh atasnya membangkitkan gairah Dimas. Perlahan ciuman di bibir terlepas, bibir Dimas pindah ke dagu dan leher Di, Di menikmati sentuhan hangat bibir Dimas sambil menengadah, menyerahkan seluruh tubuhnya dengan pasrah.


Bibir Dimas bergerak lembut menuju dada Di, tangannya membuka pengait bra, setelah itu menanggalkannya dan menjatuhkan bra itu ke bawah kursi santai tempat mereka bergumul. Dimas menggenggam gunung keindahan dari tubuh Di, kemudian menjilati seluruh bagian gunung sampai titik puncaknya yang memerah dan mengeras. Di menggeliat sambil menarik pelan rambut Dimas menahan kenikmatan yang tiada tara.


" enak yank, terusss"


Dimas merasa tertantang, lidahnya mulai bergerak rakus tanpa menyakiti. Di kemudian merenggangkan pelukan, jilatan Dimas terhenti. Di bangkit perlahan dan berdiri menghadap Dimas. Dia melepaskan celana panjang longgarnya pelan - pelan, sementara Dimas membuka celana pendeknya sendiri dalam keadaan duduk. Di sengaja membungkuk lama, mendekatkan wajahnya pada Dimas


" Aku gak tahan yank.."


" Hmmmmmhhhh Dim..."


" Ahhhhhhh yank."


Mereka diam sebentar, merasakan keberadaan tubuh masing - masing menyatu. Di lalu bergerak turun naik dengan perlahan, kemudian berhenti, pinggul Di bergerak maju mudur menghentak, lalu Di menggoyangkan pinggulnya. Mereka berdua menengadah menikmati perjalanan itu. Tangan Di dikalungkan di leher Dimas, sementara Dimas menahan tubuh Di dengan meremas bokongnya. Tak berapa lama gerakan mereka bertambah cepat, berlari bersama menuju puncak, Setelah beberapa kali melakukan goyangan dan gerakan maju mundur, mereka kembali berciuman dengan panas, disertai gerakan menghentak yang semakin cepat, dan... Lepas.


Dimas dan Di diam dan berpelukan. Nafas mereka memburu, mata mereka tertutup, menikmati aliran panas yang menjalar di tubuh mereka masing - masing.


" Aku mencintaimu Di."

__ADS_1


Dimas lalu mengecup lembut kening Di. Di yang tadinya menunduk, mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Dimas.


" Aku juga mencintaimu Dim."


Di lalu memeluk Dimas, matanya tiba - tiba saja terasa panas, hatinya merasa haru atas percintaan malam ini. Dimas membalas pelukan Di dengan hangat, membiarkan Di menangis di bahunya. Tubuh mereka masih bersatu, mereka seakan tak mau di pisahkan saat ini.


" Dari perjalanan pertama sampai hari ini, bahumu lah tempat ternyaman untuk meluapkan segala rasa Dim."


" Aku tau sayang, setiap kali kau ingin menangis, bahu ini selalu jadi tempat favoritmu. Dan aku menyukai ketergantunganmu terhadapku."


Di melepaskan pelukannya, mereka saling beradu tatap sekarang.


" Kita masuk ya?"


Di mengangguk setuju. Di turun perlahan dari pangkuan Dimas dan berniat mengumpulkan semua pakaian yang berserakan di lantai balkon, tapi Dimas mengangkat tubuhnya, seperti pengantin wanita di film - film yang diangkat dan digendong pengantin prianya ke kamar tidur.


" Pakaian kita Dim."


" Biarkan saja mereka dulu yank, mereka juga akan mengerti koq."


Dimas membawa Di menuju tempat tidur. Dia membaringkan tubuh Di dengan perlahan, lalu berdiri menghadap Di yang sedang terbaring menggairahkan. Perlahan Dimas mengarahkan kembali senjatanya yang masih beramunisi ke dalam gua, lalu menggerakkan pinggulnya maju dan mundur perlahan. Sesekali Dimas memberi hentakan dan itu membuat Di menjerit kecil. Dimas sangat suka mendengar jeritan itu, berkali - kali dia melakukan itu. Mereka saling tatap, menyebutkan kata - kata cinta, lalu kembali mengejar puncak bersama dan berirama. Gerakan Dimas di dalam tubuh Di mampu mengantar Di sampai puncak terlebih dahulu, sementara Dimas masih memburu untuk mendapatkan puncaknya. Denyutan di dalam gua menambah nikmat di sekujur tubuh Dimas, gerakannya semakin cepat dan... kembali lepas.


Dimas menjatuhkan tubuhnya pelan dan berbaring di samping Di. Mereka berdua menatap ke langit - langit kamar seperti sedang menikmati indahnya langit dan gemerlapnya. Di lalu menarik selimut yang berada di dekat tangan kirinya, lalu menutup tubuh mereka dengan selimut. Di bergerak mendekat lagi pada Dimas, kulit mereka bertemu, saling menebar rasa hangat yang mengalir di kulit keduanya. Di kemudian memeluk tubuh Dimas dengan sebelah tangan dan meminta Dimas untuk menyediakan lengannya untuk di jadikan penyangga kepalanya, Dimas kemudian merentangkan tangannya dan merebahkan kepala Di di atas lengannya.

__ADS_1


__ADS_2