
*
" Jangan tinggalkan aku, sebesar apapun kesalahanku, sesulit apapun kondisiku."
Aku duduk terdiam di ruang tunggu pasien. Dimas duduk di sampingku, berjarak 1 bangku denganku.
Mama terkena serangan jantung mendadak, kami tidak tau harus berkata apa sekarang. Kami hanya bisa menunggu dalam diam. Tenggelam dalam alam pikiran masing - masing.
" Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, jangan ada yang kau tutupi... sedikitpun."
Aku masih menatap ke depan, tenang dan tanpa air mata.
Dimas menghela nafasnya berat, tetap dalam posisi duduknya dan mulai bercerita.
**
" Aku bersumpah kalau aku tidak menyentuhnya Di."
Dimas menutup ceritanya dan kembali menghela nafas berat.
" Nikahi dia Dim."
Dimas terkejut, aku bisa melihat dia menolehkan wajah dengan cepat ke arahku, lewat sudut mataku.
" Tapi Di..."
" Nikahi dia Dim."
Aku memotong ucapannya.
" Nanti aku yang akan menjelaskan pada mama. " sambungku,
Diam...
" Apakah kau akan meninggalkanku Di?"
Dimas memecah keheningan antara kami. Aku menghela nafasku yang terasa sangat berat, lalu menoleh padanya. Dimas sangat kusut dan terpukul dengan kejadian ini. Aku percaya pada apa yang sudah diceritakannya. Aku sangat bisa merasakan ketulusannya.
" Aku mencintaimu Dim... Bagaimana aku bisa meninggalkanmu."
Tangisku mulai pecah, Dimas memberanikan diri mendekatkan tubuhnya padaku dan memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya, kami menangis bersama.
" Maafkan kebodohanku Di... Maafkan aku sayang... "
Lama kami menangis dan berpelukan. Seolah - olah besok kami tidak akan lagi bersua. Berkali - kali pula Dimas menciumi pipiku, seakan malam ini adalah kesempatan terakhir buatnya berada dalam pelukanku.
***
Dimas
Pernikahan dilangsungkan seperti apa yang sudah mereka rencanakan, tanpa kehadiran keluargaku satupun. Siska dan ayahnya membuat pesta kecil di salah satu villa yang aku sewa. Mereka meminta pesta sederhana dengan budget istimewa yang tidak mau mereka perdulikan biayanya, semua biaya diserahkan padaku. Aku melihat beberapa laki - laki yang pernah tidur bersama Siska ikut bergabung bersama para tamu yang lain.
" Dimas... senyum dong..."
__ADS_1
Aku menepis tangannya dari wajahku, sumpah aku sangat membencinya.
" Hi Sis..."
" Hi Delia... Hi Clara.. kalian datang juga... terimakasih sudah datang ke pernikahanku."
Dua orang perempuan mendekati kami. Salah satunya menyapu tubuhku dengan tatapannya yang genit. Mereka ternyata berasal dari habitat yang sama. Aku melangkah mundur dan menjauh dari mereka saat mereka sedang sibuk membanggakan kekayaan masing - masing. Aku muak dengan gaya mereka dan para tamu yang ada.
" Di... aku merindukanmu..."
Aku hanya bisa mengucap kata rindu dalam hati saja. Sudah 3 hari aku jauh darinya, tapi hatiku tidak, tidak sedetikpun. Aku berjalan menuju salah satu kamar di villa, langsung tertidur setelah mengunci pintunya sebelumnya.
****
" Kau dari mana saja sih Dim? Aku mencarimu semalaman."
Siska tiba - tiba datang menemuiku, yang sedang menikmati rindu dan pemandangan pagi di sekitar villa, bergelayut manja di lenganku. Aku cepat menarik tubuhku, memberi jarak antara tempatnya berdiri dengan tempatku sebelumnya.
" Tidur."
Jawabku pendek, kesal karena dia datang mengganggu kesenanganku
" Kenapa gak tidur bersamaku sih? Aku kan istrimu."
Aku menolehkan wajah padanya, tersenyum sinis mendengar kata - katanya.
" Hanya istri di atas kertas, tidak untuk di hati. Aku hanya mencintai satu wanita dan itu bukan kau. "
Siska nampak merengut kesal mendengar jawabanku.
" Kita akan tinggal bersama mama setelah tiba di Padang. Senin sampai Rabu, aku akan bersamamu di rumah mama, selebihnya aku akan ke rumahku bersama Di dan anak - anak."
" Tunggu,"
Siska menyela kalimatku, aku diam dan siap mendengarkan keberatannya.
" Kenapa di rumah mama? Kau kan tau mama tidak menyukaiku... Trus, kenapa kau harus lebih banyak bersama dia? Aku juga kan membutuhkanmu."
Aku tersenyum, sudah bisa ditebak apa yang akan dia katakan.
" Mama butuh seseorang yang siap mengurusinya selama 24 jam saat ini, Di sudah cukup sibuk dengan mengurus anak - anak, karena sekarang ada kau, maka kau lah yang akan mengurus mama."
Mulutnya menganga, aku yakin dia tidak akan mampu mengurus mama.
" Kenapa aku akan lebih banyak di rumah bersama Di daripada bersamamu, jawabannya simple. Karena aku mencintai mereka, sedangkan kau... aku sama sekali tidak mencintai, atau bahkan perduli padamu, OK."
Wajah Siska merengut mendengar penjelasanku.
" Jangan pernah sekalipun mencampuri urusanku, apapun itu. Keluargaku, pekerjaanku, urusan toko... Semua... Begitu juga aku, aku tidak akan ambil perduli pada apa yang akan kau lakukan, meski di belakangku sekalipun... aku tidak perduli."
" Tapi kau akan memberikan aku toko juga kan? Kalau tidak, apa kesibukanku nantinya?"
Siska bertanya dengan gaya sok manja
__ADS_1
" Kesibukanmu adalah mengurus mama, itu saja. Toko - toko yang ku punya sudah di jalankan dengan baik oleh orang - orang kepercayaanku. Aku tidak membutuhkan bantuanmu di toko."
" Terakhir, jangan pernah sekalipun menemui Di dan anak - anakku, kalau kau mau aku bersikap baik padamu."
Dia kembali merengut kesal dan cepat membuang wajahnya ke hutan yang terbentang di depan kami.
" Baiklah, kalau tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan, cepatlah bersiap - siap... Kita kembali ke Padang."
Aku berbalik dan melangkah menjauh meninggalkannya.
*****
Kami tiba di Padang setelah magrib, setelah mengantarkan om Wisnu ke bandara. Aku langsung membawa Siska ke rumah mama, tentu saja setelah berkordinasi dengan mama. Aku mengantarkannya ke kamar yang bukan kamarku.
" Rumah sebesar ini, kamarnya hanya segini? yang benar aja Dim..."
Aku hanya diam tak menanggapi ocehannya.
Setelah mengantarnya ke kamar, aku langsung turun menemui mama. Aku langsung memeluknya dan meminta maaf padanya. Tapi, seperti Di, beliau percaya pada ceritaku. Di mungkin sudah meyakinkan mama kalau apa yang aku sampaikan adalah benar dan Di sangat percaya padaku. Beliau masih sangat lemah, tapi rencana untuk Siska sudah di susun sangat rapi olehnya. Aku tersenyum, mengecup keningnya dan pamit untuk menemui Di dan anak - anak, aku sangat merindukan mereka.
******
Dirgana
Aku berbaring menemani Zya yang sudah terlelap. Iza dan Azi sudah sibuk dengan tugas - tugas sekolahnya di kamar mereka masing - masing.
Aku bangkit hendak melihat Iza dan Azi sebelum aku tidur. Tiba - tiba ada sebuah ketukan di pintu rumah, aku berjalan keluar kamar untuk melihat siapa yang datang malam - malam begini. Baru saja aku menutup pintu kamar, teriakan Iza dan Azi mengagetkanku.
" Papaaaa...."
Aku melangkah cepat ke arah ruang tamu yang bersebelahan dengan kamar Azi, langkahku terhenti begitu melihat pemandangan di depanku yang membuatku terharu. Iza dan Azi sedang memeluk Dimas dengan erat. Dimas juga membalas pelukan mereka dengan hangat.
Aku melanjutkan langkah ke dapur untuk membuatkan Dimas segelas teh hangat dan menghangatkan makanan. Aku yakin dia belum makan. Suara obrolan seorang papa dan anak - anaknya mulai meramaikan rumahku. Hampir seminggu rumah ini sepi, tapi terbayarkan malam ini.
" Hi, Di."
Dimas memelukku dari belakang, aku tersenyum mendengar suaranya dan merasakan hangat nafasnya di telingaku.
" Kamu lapar yank?"
tanyaku, Dimas dengan cepat membalikkan tubuhku untuk menghadap padanya, aku langsung memeluknya setelah beberapa menit menatap matanya, aku sangat merindukannya.
" Harusnya kau tanyakan apakah aku merindukanmu."
Ucap Dimas pura - pura kesal.
" Aku tak perlu tanyakan itu, aku tahu kau pasti sangat merindukanku."
Kami saling berpelukan, mengabaikan kompor yang menyala untuk menghangatkan makanan.
" Pa... papa..."
Dimas melepas pelan pelukannya,
__ADS_1
" Anak ini ternyata lebih merindukanku daripadamu."
Ucapnya sambil berlalu menuju kamar Azi yang sudah memangil - manggilnya, meninggalkan aku setelah meninggalkan kecupan hangat di pipiku.