Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
MY LOVELY BABY


__ADS_3

*


Dimas masih tidur di sampingku, senyuman di bibirnya membuatku sangat bahagia. Sudah banyak yang ia lakukan untukku, aku bersyukur mendapatkan cintanya. Aku mengecup keningnya pelan, lalu bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.


" Dim... bangun yank..." aku membangunkannya pelan - pelan setelah mandi dan menyiapkan sarapan untuknya.


" Hmmmhhh... iya yank." katanya sambil menggeliat, membuka mata dan mengerjapkannya sebentar, lalu menatapku.


" Kamu udah mandi?" dia bertanya mengubah posisinya yang terlentang tadi jadi menyamping menghadapku.


" Kenapa gak ngajak aku yank?" tanyanya lagi sambil menutup matanya dan memeluk pahaku.


" Emangnya masih kuat?" tanyaku bercanda.


" Masih mau, jadi harus kuat."


" Udah, bangun yok... Kamu gak ke toko?" tanyaku lagi


" Ke toko, bentar lagi."


" ya udah, bangun... sarapan dulu." kataku lagi. Dimas duduk dan langsung memelukku. Aku membalas pelukannya.


" Masih kangennnnn..." katanya manja, aku tersenyum mendengar kata rindunya


" Iya.. iya... nanti kan bisa kangen - kangenan lagi." balasku dan mengecup pipinya.


" Antar aku ke kedai ya Dim, nanti aku ke toko setelah selesai dari kedai." pintaku dan ia mengangguk.


Seminggu sekali aku cek keadaan di kedaiku, meskipun sudah ada Reni, aku tetap harus tahu bagaimana keadaan kedai.


**


" Hendra kesini terus nanyain kamu." Reni mulai memberikan laporan yang gak penting.


" Biar aja, jangan beri no WAku yang baru padanya. Aku gak mau Dimas jadi mikir macam - macam tentang aku dan Hendra." kataku mengingatkan, Reni mengangguk setuju.


" Panjang umur dia Di."


Ternyata orang yang dibicarakan datang.


" Kamu disini aja." pintaku serius dan Reni menuruti.


" Hi, Di."


Hendra masuk ke kedai dan duduk di depanku, Reni hanya diam melanjutkan pekerjaannya di sampingku.


" Hi, Hen." kataku membalas sapaannya.


" Kamu kemana aja sih?" tanyanya, aku mengkerutkan dahi, " kenapa dia harus tau aku kemana dan dimana?" pikirku aneh.


" di rumah, ngurus anak dan suami." jawabku sambil menekan kata " suami " untuk menyadarkannya kalau aku ini wanita bersuami.


" Gak bosan di rumah terus?" tanyanya lagi


" nggaklah, suamiku tau cara membuatku betah di rumah sih... hehehe." jawabku sambil tersenyum - terpaksa.


" Hmmm... Ren, minta mie rebus dan teh hangatnya dong." pintanya langsung pada Reni.


" Ok pak... Tek Raaaaa, mie rebus sama teh hangat satu!" Reni memesankan pada tek Ra yang ada di dapur. Hendra menghembuskan nafasnya keras, usahanya untuk mengusir Reni gagal, aku tersenyum dalam hati.


" Biasanya kamu yang buatkan Ren." katanya


" Iya pak, tapi pak Dimas suruh saya jagain istrinya, saya gak boleh jauh - jauh dari Di." jawab Reni berbohong.

__ADS_1


" Duhhhh... possesif sekali suamimu." tuduhnya.


" protektif, bukan possesif." kataku memperbaiki bahasanya.


" Kalau aku jadi perempuan, aku pasti gak betah lama - lama jadi istrinya." nada bicaranya mulai kesal, tapi aku tak perduli.


" Karena kamu bukan perempuan makanya kau bisa bicara seperti itu, tapi semua perempuan pasti senang di jaga pasangannya." jawabku membalas perkataannya.


" ya sudahlah, sarapannya buat kamu aja Ren, nafsu makan saya tiba - tiba hilang." Hendra berdiri dengan perasaan kesal, mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dan meletakkannya di meja. Lalu, pergi keluar kedai.


" Hen." Aku memanggilnya, berdiri perlahan dan berjalan mendekatinya.


" Kedaiku tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun," aku mengambil tangannya dan menyerahkan uangnya kembali,


" Maaf, aku masih mampu membayar jasa teman - temanku. Terimakasih sudah mampir pak Hendra." kataku lalu berbalik badan dan kembali masuk ke kedai.


" Sombong kamu, Di." Ucapnya sebelum berlalu pergi meninggalkan kedai.


Aku dan Reni saling bertatapan sebentar, lalu melihatnya melangkah menjauh,


" Aneh," kataku berbarengan dengan Reni lalu tertawa bersama.


***


" Sudah dikunci semua Ren?" tanyaku pada Reni, untuk memastikan semua pintu kedai sudah dikunci.


" Sudah," jawabnya.


Tek Ra sudah dijemput oleh anaknya, Dita juga sudah pulang bersama kekasihnya, jadi tinggal kami berdua saja.


" Kamu masih nungguin ojol?"tanyaku pada Reni, dia mengangguk sambil menatap ponsel di tangannya.


" Udah dekat sini, kamu duluan aja." katanya


" Ok, hati - hati Di."


Aku baru hendak menyeberang, ketika sebuah mobil tiba - tiba berhenti di depanku. Refleks aku mundur dan memegangi perutku. Seorang laki - laki keluar dari dalam mobil,


" Hendra,"


Laki - laki itu menatapku tajam, wajahnya tampak menyeramkan. Aku mundur lagi dari tempatku berdiri tadi.


" Ikut aku!" katanya kasar, lalu menarik tanganku. Aku melawan sekuat tenaga, tapi dia lebih kuat.


" Nggak!! Lepaskan Hendra!!"


" Aku bilang ikut aku! Menurutlah sekali saja Di!" bentaknya kasar


" Nggak!! Tolong!! Reni!! Tolong .. Tolong!!" aku berteriak sekuat tenaga


plak


Dia menamparku, pipiku panas, tiba - tiba aku merasakan cairan asin mengalir dari sudut bibirku,


" Tidak Hen!! Lepaskan akuuuu!! Tolonggg!!" Aku kembali berteriak, dan teriakanku kali ini menarik perhatian orang - orang disekitarku.


" Woy.. lepas woooyyyy... lepas.."


beberapa orang berteriak dan berlari mendekatiku, Hendra merasa ketakutan, dia menolak kuat tubuhku dan aku jatuh menelungkup di aspal.


" Ahhhh... sakitt... perutku...."


Sakit sekali rasanya, aku menangis menahan sakit di perutku, lalu...

__ADS_1


Gelap


****


" Abah..."


Aku memanggil laki - laki berpakaian serba putih yang sedang berdiri tersenyum melihatku. Dia melambaikan tangannya ke arahku, memintaku mendekat. Aku berjalan cepat ke arahnya dan memeluknya.


" Di kangen abah..."


Lagi - lagi laki - laki itu tersenyum


Lalu, entah dari mana asalnya, dia memberikan seorang bayi perempuan padaku.


" Untuk Di, bah?" tanyaku bahagia, abah mengangguk dan tetap tersenyum. Dia merangkul pundakku dan mengajakku pergi bersamanya. Aku mengikuti langkahnya, sampai tiba - tiba...


" Maaa..."


Aku berbalik badan, Iza dan Azi memanggilku dari kejauhan


" Pulang ma... Kami rindu mama..."


Keduanya menangis menatapku, masih dari tempat yang sama. Aku menatap abah yang masih tersenyum


" Di temani mereka dulu ya bah?" kataku meminta izin, abah hanya mengangguk tanpa melepaskan senyumannya


" Di sayang abah." kataku sebelum melangkah meninggalkannya dan mendatangi Iza dan Azi yang masih saja menangis. Aku berbalik badan lagi untuk melihat abah, tapi tempat tadi sudah kosong,


" Abah... Abah....." Aku berteriak memanggilnya sekuat tenaga, tapi tak menemukan wajahnya lagi...


*****


Dimas


" Abahhh..."


" Di... Di... Alhamdulillah... Dokter... dokter, cepat periksa istri saya, pintaku pada dokter yang ada di sana.


Dokter beserta beberapa perawat di sana langsung memeriksa Di.


Airmataku jatuh, Di sudah sadar, " Alhamdulillah ya Allah, kau sudah bawa istriku kembali." kataku dalam hati.


Setelah beberapa menit, dokter berbalik badan dan menatapku tersenyum,


" Alhamdulillah pak, istri bapak sudah sadar. Kondisinya pun sudah sangat baik. Jangan di ajak bicara terlalu lama dulu ya pak, biarkan ibu istirahat dulu."


Aku mengangguk cepat pada dokter yang kemudian berjalan keluar ruangan. Aku cepat mendekati tempat tidur Di setelah dokter dan para perawat keluar dari pintu kamar,


" Di... sayang..."


Aku memeluknya erat, sangat erat... Aku benar - benar merindukannya.


" Maafkan aku Dimas... Maafkan aku... Aku ceroboh, aku tidak bisa menjaga anak kita."


Di menangis memegangi perutnya yang sudah rata, aku menegakkan kepalaku dan menatapnya,


" Kau tidak perlu minta maaf sayang... anak - anak kita sedang menunggumu." kataku lembut


" Perempuan, kuat sepertimu." lanjutku.


" Kau serius Dimas? perempuan?"


Airmatanya mengalir deras, Di mengucapkan syukur berulang kali, aku menempelkan keningku di keningnya, kami menangis dan mengucap syukur bersama... " ALHAMDULILLAH YA ALLAH..."

__ADS_1


__ADS_2