
" Bagaimana saksi, sah?" tanya laki - laki paruh baya yang menikahkan kami. Dua orang saksi yang duduk berseberangan dengan kami mengucap kata sah secara serentak dan lantang. Aku hanya menundukkan kepala dan menangis. Apa yang akan dikatakan mama padaku, aku sudah menambah kekecewaan di hatinya. Apa juga yang akan dilakukan Dimas pada anak - anakku, aku tak mau jauh dari mereka. Lalu, ibu Sandra, apa penilaiannya nanti untukku... Aku menangis, tak berhenti menangis. Uni Rahmi yang mendampingiku dari tadi mengelus - elus pelan punggungku untuk menenangkan, bagaimana mungkin aku bisa tenang dengan kekacauan ini. Aku benar - benar menjaga kehormatanku, meski banyak cacian dan hinaan yang orang katakan padaku, tapi aku justru kalah sekarang. Aku salah mempercayai Dimas, aku tidak menyangka kalau dia juga berotak mesum.
Setelah acara pernikahan selesai, dan rumah kembali kosong, aku kembali berjalan ke halaman belakang. Aku duduk di teras, memperhatikan kursi santai yang menjadi saksi atas apa yang sudah Dimas lakukan semalam padaku. Andai kau bisa diajak bicara, tolong sampaikan padaku apa yang Dimas lakukan padaku semalam, sehingga aku sama sekali tidak merasakan apa - apa ketika dia menelanjangiku, bagian tubuh mana yang sudah dia cumbu, aku langsung merasa jijik padanya.
" Non, makan ya..." aku menggeleng menolak tawaran uni Rahmi. Aku sedang tidak merasa lapar, aku sedang kecewa, aku marah, aku membenci diriku sendiri.
Tiba - tiba Dimas sudah duduk di sampingku, dengan sepiring nasi dan sambal di tangannya. Aku tahu dia akan melakukan hal yang sama seperti semalam, jangan - jangan dia sudah menaburkan obat tidur pada semua makanan yang aku makan semalam. Dia menatapku, aku langsung berdiri, menolak duduk di dekatnya. " Aku mau pulang." kataku kemudian, sebelum melangkah jauh darinya. Dimas hanya diam, tak menjawab. Aku melangkah masuk ke dalam rumah, duduk di sofa tamu, merebahkan kepalaku yang mulai terasa pusing karena menangis semalaman. Aku menutup mata, membayangkan wajah anak - anakku, lalu kemudian tertidur.
Aku tersentak mendengar suara mesin mobil yang keluar dari halaman depan, Dimas.. Dimas pergi. Dia meninggalkan aku disini, berani sekali dia. Aku cepat berdiri hendak mengejarnya, tapi karena aku baru terjaga, tubuhku masih sempoyongan dan...
" Brukk.."
" Non!!" hanya teriakan itu yang terakhir aku dengar, setelah itu gelap dan hening...
**
" Di..." Aku mendengar sebuah suara yang aku kenal, memanggil namaku.
" hmmhhh... Azi... Iza..." panggilku, air mata menetes di sudut mataku, aku merindukan anak - anakku.
__ADS_1
" Di..." sekali lagi aku mendengar suara itu, aku mengumpulkan kesadaranku, mengingat apa yang tadi terjadi, tiba - tiba aku merasakan sakit di pergelangan kaki.
" Mmhhh... sakit ma..." teriakku, rasa sakit itu menjalar sampai ke betis dan pahaku.
Sebuah tangan mengelus - elus lembut kakiku yang sakit, sakitnya berkurang. Lama - lama rasa sakitnya hilang, berganti dengan kantuk yang tak tertahan.
" Di... " Lagi - lagi suara itu terdengar.
" Di ngantuk ma, nanti ya ma..." jawabku, lalu melanjutkan tidur.
Dimas
" Di..." aku berteriak histeris, berjongkok mendekati dan mengangkat tubuhnya pelan, kemudian membawanya masuk ke kamarku. Uni Rahmi cepat memanggil tukang urut terdekat setelah melihat ku berhasil merebahkan tubuh Di di atas tempat tidur. Tidak lama, ibuk tukang urut datang dan memberikan sentuhan pada Di. Aku memperhatikan wajahnya, melihat bulir bening itu mengalir jatuh dari sudut matanya. Aku merasa benar - benar bersalah, seharusnya ini tidak terjadi. Bukan ini rencanaku saat aku mengajaknya pergi malam itu. Bukan untuk membuatnya sakit, aku menundukkan kepala menyimpan wajah sesal dan kesalku.
Sudah malam, aku masih duduk menemani Di di sampingnya. Membelai lembut rambutnya yang panjang. Tiba - tiba Di bergerak, kemudian batuk dan tampak wajahnya menahan sakit di kakinya. Dia membuka mata dan menatapku lama.
" Kau mau meninggalkanku di sini?" tanyanya kasar. Aku diam dan mencerna kata - katanya. Ini pasti ketika aku mau keluar tadi.
" Nggak." jawabku santai.
__ADS_1
" Kau keluar membawa mobilmu tadi, mau kemana lagi kalau bukan meninggalkanku?" tanyanya lagi.
Aku hanya diam, mengambil sebuah gelas berisi air putih dari atas meja di samping tempat tidur. Aku membungkukkan tubuh, meletakkan tanganku di pundaknya, membantunya sedikit tegak agar bisa minum. Dia menurut, mungkin tenggorokannya pun sudah mulai kering karena sudah lama tertidur. Aku kembali mendekatkan kepalanya ke bantal, lalu meletakkan gelas kembali ke tempatnya tadi.
" Aku bosan di sini, melihat wajah masam dan ditekuk, seharian." kataku menjelaskan.
" trus, kau memutuskan meninggalkan aku?" tanyanya lagi.
" Nggak juga." aku sengaja menggantung kalimatku, memgambil piring yang sudah diisi nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayur, lalu menyendokkan nasi dan mengarahkan suapan ke mulutnya... Ahhhh... bibir itu sekarang pucat, tapi masih tetap penuh dan menggairahkan. Dia membuka mulutnya untuk menerima suapanku.
" Aku berencana membeli beberapa pakaian untukmu, tapi uni Rahmi keburu memberi kabar kalau kau jatuh. Aku langsung kembali." sambungku.
Entah karena perutnya yang sudah lapar, atau dia memang sudah melunak, suapanku tak ditolaknya sama sekali, dia memakan habis setiap suapanku.
" Ok, kau sudah selesai makan. Aku ingin bicara serius denganmu. Dengarkan aku dulu, jangan kau potong. Rendahkan egomu, sekuat apapun kau menolakku, aku sudah sah menjadi suamimu." Kataku mengingatkan, dia diam.
***
Di
__ADS_1
Tolong jangan buat aku jatuh cinta padanya Tuhan... Sudah cukup kesakitan - kesakitan yang aku lalui karena cintaku pada lawan jenis, aku tak mau terperangkap dan sakit lagi. Aku hanya diam mendengarkannya bicara, menikmati ketampanannya yang aku tolak untuk aku miliki.