Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
MENGHILANG


__ADS_3

Di kembali melirik jam di dinding ruang keluarga, sudah hampir magrib tapi Azi belum juga kembali dari latihan sepakbola. Berkali - kali Di mencoba menelponnya, tapi ponsel Azi tidak aktif.


" Assalammualaikum."


Di langsung berdiri dan menghampiri Dimas yang baru masuk rumah.


" Waalaikumsalam.. Dim.."


Dimas menatap Di, lalu mengernyitkan kening melihat wajah Di.


" Ada apa?"


" Azi.."


Dimas lalu menoleh ke atas, ke arah kamar Azi. Lalu kembali menoleh pada Di.


" Kenapa Azi?"


" Azi belum pulang Dim."


Dimas menoleh sebentar ke dinding,


" Dia pergi latihan kan hari ini?"


Di menganggukkan kepalanya cepat,


" Tapi dia tak pernah pulang setelat ini Dim.."


Dimas menghela nafas berat, memahami perasaan Di. Dimas yakin Di masih trauma atas kejadian yang menimpa Iza,


Dimas baru akan keluar lagi untuk mencari Azi,


" Assalammualaikum."


" Waalaikumsalam."


Dimas dan Di berbarengan menjawab salam dari Azi,


" Dari..."


" Baru pulang Zi?"


Dimas cepat memotong pertanyaan Di


" Iya pa... maaf pa, Azi main dulu tadi."


" Iya.. gak pa pa.. HP kamu rusak?"


" Nggak pa, baterainya low."


Dimas menganggukkan kepalanya, sementara Azi masih berdiri menunggu pertanyaan lagi dari Dimas.


" Ya sudah, mandi lah. Udah mau magrib ini."

__ADS_1


" Iya pa.. ma.. Azi ke kamar dulu."


Azi langsung berlalu meninggalkan Di dan Dimas menuju kamarnya di lantai dua. Dimas kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya, tapi berhenti sebentar begitu akan melewati Di.


" Jangan terlalu berlebihan, dia sudah remaja."


Dimas berkata pada Di dengan sangat pelan, hampir berbisik. Di diam tak menjawab. Berlebihan.. Itukah yang Dimas pikir tentangnya? " Berlebihankah kalau aku merasa cemas pada anak - anakku?" Tanya Di dalam hati.


Sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian Iza, tapi Dimas seakan masih kesal dan marah pada Di. Dimas bahkan tak banyak bicara pada Di, hanya sesekali bertanya, tak pernah lagi mengajaknya ngobrol atau bercanda.


Iza juga begitu, anak itu semakin memberi jarak cukup jauh dengannya. Dia hanya bicara dengan Dimas saja, tapi tidak dengannya.


*


Di mengetuk pintu kamar Azi, tak ada jawaban. Dia lalu menekan handle pintu ke bawah dan mencoba membuka pintu, terkunci. Di kemudian mencoba mengetuk lagi beberapa kali, masih tak ada jawaban. Akhirnya Di menyerah, dia berlalu ke kamar Iza.


" Kak."


Iza menoleh cepat pada Di,


" Ya ma."


" Sejak kapan Azi suka mengunci pintu kamarnya?"


Iza mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Di, Iza yang tadi sibuk dengan laptopnya langsung bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya, melewati Di dan menuju kamar Azi. Iza melakukan hal yang sama seperti yang tadi dilakukan Di, lagi - lagi dia mengenyitkan kening.


" Nggak tau kakak ma."


Di menghela nafas berat, dia benar - benar belum siap menghadapi perubahan - perubahan yang terjadi pada anak - anaknya.


Di berlalu meninggalkan Iza yang masih berdiri di depan kamar Azi, sementara Iza langsung masuk ke kamarnya setelah melihat Di berbelok dan menuruni tangga.


*


Pagi - pagi sekali Azi sudah minta izin untuk latihan sepakbola pada Di, padahal hari ini hari Minggu, dan hari ini bukan hari latihannya.


" Koq hari Minggu latihan juga?"


Tanya Di hati - hati,


" Latihan tambahan ma, mau ada turnamen."


Di menatap Azi lama, anak itu menghindari tatapan Di dengan cara mengganggu adik - adiknya


" Azi gak lagi bohong sama mama kan nak?"


" Nggak ma.. Azi memang latihan hari ini."


" Ya udah, biar mama antar."


Di berdiri hendak ke kamar mengganti pakaian,


" Eeehhh... Mama ni, biasanya juga kan mama biarkan Azi pergi sendiri. Jangan buat malu Azi ma..."

__ADS_1


Di mengernyitkan keningnya


" Azi malu sama mama?"


Hatinya tiba - tiba terasa sakit sekali mendengar ucapan Azi tadi


" Azi udah besar, Azi gak mau diperlakukan kayak anak kecil!"


Azi berlari meninggalkan Di dan masuk ke kamarnya. Di melangkahkan kaki ke kamarnya sendiri, lalu duduk di sofa. Anak - anaknya sudah berani membantah dan ini mengagetkan sekaligus menyedihkan. Di benar - benar tak siap dengan situasi seperti ini. Masalah dengan Dimas saja masih membekas di hatinya, sekarang anak - anak pula yang menggores hatinya. Rasanya seperti luka yang ditaburi garam dan perasan jeruk, pedih.


Di menangis tersedu sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


*


Dimas pulang ke rumah hampir tengah malam. Beberapa hari ini Dimas lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah. Dia masih merasa kesal pada Di atas sikapnya pada Iza pada hari itu. Dimas benar - benar tak habis pikir, kenapa Di bisa semarah itu pada Iza. Padahal Iza sudah meminta maaf.


" Kamu baru pulang Dim?"


Di ternyata menunggu Dimas pulang di taman dekat kolam renang. Dimas menoleh sebentar pada Di,


" Hmmm."


Dimas menjawab sambil berlalu ke kamarnya meninggalkan Di


Beberapa hari yang lalu, Iza. Pagi ini, Azi. Malam ini, Dimas. Mereka bertiga seperti sudah tak membutuhkan Di lagi. Di menengadah menatap langit gelap, airmata mengalir dari sudut matanya. Betapa dia mencintai semua anggota keluarganya, tapi cintanya dianggap terlalu berlebihan. Dimas dan kedua anaknya seperti tak lagi membutuhkannya. Di menghapus airmata di pipinya, lalu bangkit menuju kamar baby. Di memutuskan untuk tidur bersama ke tiga anaknya yang lain malam ini.


*


Hari ini Di bangun pagi - pagi sekali dan menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarganya. Setelah selesai, Di kembali masuk ke kamar baby dan mengurus satu persatu babynya, termasuk Zya yang balita. Di mengambil alih semua tugas baby sitter pagi ini.


Terdengar olehnya obrolan pagi Dimas bersama Iza dan Azi di ruang makan. Mereka bercanda sambil melempar ejekan dan tawa, tak satupun menanyakan ketidakhadiran Di di ruang makan pagi ini. Perlahan air mata Di mengalir, seketika merasa kalau dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi di rumah ini.


Tak berapa lama, satu persatu suami dan anak - anaknya berpamitan pada uni untuk berangkat ke tempat mereka beraktivitas hari ini.


Di kemudian keluar dari kamar baby setelah mendengar mobil Dimas keluar dari garasi, Dimas memang memutuskan untuk mengantarkan anak - anak ke sekolah setiap pagi mulai beberapa hari yang lalu, dan itupun tanpa membicarakannya dahulu dengan Di.


*


Di kembali menyeka air mata dari pipinya yang tak berhenti mengalir sejak dia menaiki taksi on line bersama Zya. Hatinya benar - benar hancur saat ini,


" Ibu baik - baik saja?"


Di menoleh ke arah supir taksi yang sedang mengendarai sambil sesekali melirik ke arahnya lewat kaca kecil di atas kepalanya.


" Saya baik - baik saja pak."


Supir itu mengambil kotak tissue dari atas dashboard dan mengulurkannya pada Di


" Terimakasih pak."


Di mengambil kotak tissue tersebut dan meletakkannya di samping tempat duduknya, lalu menarik beberapa lembar tissue untuk mengusap wajahnya yang basah.


*

__ADS_1


Di melirik ke kaca di samping tempat duduknya. " Mungkin ini bukan cara terbaik, tapi kalau tidak dengan cara ini, kalian tidak akan mengerti apa yang aku rasakan."


Burung besi yang membawa Di dan Zya di dalamnya mulai bergerak pelan di atas landasan, lalu naik perlahan membelah angkasa.


__ADS_2