Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
BERTEMU LAGI


__ADS_3

*


Hujan lebat tidak menyurutkan langkahku untuk mencari pundi - pundi. Bahkan, di saat hujan lebat beginilah orderan malah lancar. Banyak orang yang malas untuk keluar rumah, tapi mereka sangat ingin makan sesuatu. Sudah hampir pukul 09.00 malam, tapi alhamdulillah orderanku masih lancar. Syukurnya lagi, pelanggan hanya order makanan saja. Aku berhenti di sebuah rumah mewah bercat putih yang tidak asing di mataku. Aku tersenyum sebelum akhirnya turun untuk mengantarkan orderan. Seorang satpam berdiri menyambut kedatanganku, lalu tersenyum seperti menyadari sesuatu.


" Uni." katanya sambil membukakan pintu gerbang. Aku hanya mengangguk sambil membalas senyumannya.


" Mau antarkan pesanan makanan pak, atas nama ibuk Sandra." Kataku setelah pak satpam berdiri di depanku.


" Owh... iya uni. Itu nama nyonya, yang uni antarkan waktu itu." jelasnya.


" Owh... Trus, bagaimana pak, bapak saja yang menerima orderannya?" tanyaku.


" Pak... Suruh antar sini saja pesanan saya!" sebuah suara tiba - tiba menjawab pertanyaanku tadi.


" Silahkan uni, udah ditunggu nyonya." pak satpam mempersilahkan. Aku melangkah melewati gerbang, menuju seorang wanita yang berdiri di teras rumah sambil tersenyum ramah. Semakin aku mendekat, senyumnya perlahan menghilang, kerutan di keningnya keluar, seperti sedang mengingat sesuatu..


" Ondeh....." aku kaget mendengar teriakannya, lengkingannya bahkan bisa mengalahkan suara derasnya hujan.

__ADS_1


" Mari nak, mari... naik sini." aku menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai teras rumah tempatnya berdiri. Dia menepuk - nepuk bahuku begitu aku sudah berada di dekatnya.


" Masuk, kita masuk dulu." ajaknya sambil menarik tanganku untuk masuk ke istananya. Setelah melepas mantel dan menyampirkannya di kursi kecil di teras, aku masuk melewati pintu rumahnya yang tinggi dan besar. " Dimaaaassss.... Dimaasss!!" aku tersentak mendengar teriakannya untuk yang kesekian kalinya. Aku benar - benar bingung, waktu pertama kali aku bertemu dengannya, dia terlihat lemah lembut. Tapi hari ini, aku melihatnya sangat powerfull.


" Duduk nak... silahkan duduk." aku menuruti perintahnya.


" Iya ma... iya." tiba - tiba suara laki - laki terdengar, dan aku memandangi kehadirannya kaget. Benar saja dugaanku kemarin, wajah laki - laki yang menolongku waktu motorku mogok tidaklah asing. Aku pernah melihat wajahnya, dia yang menyambut kepulangan mamanya dengan wajah cemas waktu itu.


" eh, uni." katanya sambil menunjuk ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan senyuman juga.


" Udah sembuh motornya?" tanyanya tanpa melepas senyuman.


" Waduh.. waduh... apaan nih, koq malah cerita motor. Kamu ingat dia kan Dim?" wanita itu bertanya pada anaknya.


" Ingat mama..." jawabnya. Laki - laki bernama Dimas itu menceritakan pertemuan kami saat motorku mogok. Wanita itu tertawa mendengar cerita anaknya, aku hanya tersenyum saja mengiyakan.


" Saya mau ngucapin terimakasih ke uni waktu itu, tapi waktu saya berbalik, uni udah hilang aja." katanya menambahkan.

__ADS_1


" Iya, maaf... siapa namamu nak?" wanita itu baru tersadar kalau dari tadi dia tidak tahu namaku.


" panggil saya Di saja bu." jawabku.


" OK Di, mumpung kamu di sini. Mama sama Dimas mau mengucapkan terimakasih banyak atas bantuan kamu hari itu." katanya kemudian.


" Iya bu, sama - sama." jawabku.


Hampir satu jam aku duduk dan ngobrol bersama wanita itu, beliau orang yang ceria juga berwibawa. Kemudian aku tersadar kalau sudah waktunya untuk pulang. Aku terpaksa mematikan aplikasiku langsung, sudah terlalu larut buatku untuk melanjutkan pekerjaanku. Dimas sudah dari tadi meninggalkan aku dengan mamanya bercerita. Wanita itu memberikan beberapa lembar kertas berwarna biru, yang aku sendiri tidak tahu jumlahnya sebenarnya, untuk membayar orderannya, tentu saja aku menolaknya karena harga makanan yang dia pesan tidak semahal itu. Tapi beliau memaksa, bahkan langsung memasukkan lembaran itu ke dalam saku jaketku dan mengusirku dengan candaan.


" Hati - hati ya nak." pesannya sebelum aku menuruni tangga terasnya.


" Iya bu, sekali lagi terimakasih banyak." kataku berpamitan dan melangkah menjauh menuju motorku yang masih terparkir diluar gerbang. Aku cepat menyalakan motor dan tancap gas untuk pulang. Berkali - kali aku mengucapkan syukur atas rejekiku hari ini. Teringat si sulung dan si bungsu yang minta dibelikan tas baru. " Alhamdulillah nak... besok kita beli tas baru ya." kataku dalam hati, airmata mengalir di pipiku, membayangkan betapa bahagianya mereka besok.


**


Ny. Sandra

__ADS_1


" Janda anak dua." aku menghembuskan napasku keras. Ini akan bertambah sulit, apalagi untuk menjodohkannya dengan Dimas. Aku tidak masalah dengan usianya yang 3 tahun lebih tua dari Dimas, ataupun soal status jandanya. Tapi, anak - anaknya? Apa bisa cocok dengan Dimas? Dia kalah jauh dari Nadia si matre itu, tapi dia baik, dia sopan, dan aku menyukainya. Ahh... aku tidak akan tahu kalau aku tidak mencobanya. Toh Dimas juga menyukai anak - anak dan aku juga butuh anak - anak di rumah ini untuk membuat otakku tetap waras.


__ADS_2