
*
Aku harus mulai terbiasa tanpa Di mulai hari ini. Dia sudah berangkat ke kedainya pukul 04.00 pagi, huffttt... entah apa aku tahan selamanya begini atau tidak. Selera makanku langsung hilang, aku meletakkan kembali roti yang sudah aku ambil, lalu meminum teh hangat yang diletakkan disamping piring. Mama melirik ke arahku sambil terus mengolesi rotinya dengan selai kacang kesukaannya.
" Kenapa Dim?" tanyanya pelan
" Nggak ada ma." jawabku pendek
" Lama - lama kamu juga akan terbiasa koq." katanya lagi seakan tahu isi hatiku.
" Entahlah ma." jawabku. Aku meminum habis tehku, dan bangkit dari tempat duduk.
" Dimas berangkat ma." kataku dan berlalu keluar rumah menuju mobil yang sudah dari tadi menungguku.
**
Kepalaku mulai sakit lagi, aku lupa membawa obatku. Sudah hampir siang tapi Di tak juga menyapaku. Berulangkali aku memperhatikan HP, tak ada pesan WA darinya ataupun telpon. " Sesibuk itukah kamu Di, sampai melupakan aku." tanyaku dalam hati. Aku mulai menjambak kepalaku yang terasa sakit sambil menutup mata berharap sakitnya berkurang dan aku bisa tertidur. Tiba - tiba pintu ruanganku diketuk, aku membuka mata,
" Masuk." kataku
Pintu itu terbuka, Silvia masuk ke dalam ruanganku, bau parfumnya langsung menyapa hidungku dengan lembut. Aku memandangnya berjalan mendekat ke tempatku duduk. Dia mengenakan jeans dan kaos ketat berwarna hitam, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, dia mulai memasang senyum begitu sampai di depan mejaku.
" Pak, ini yang bapak minta tadi." suaranya terdengar sangat lembut di telingaku.
" Iya, terimakasih." kataku
" Bapak sakit?" tanyanya masih dengan nada yang lembut.
" Hanya sakit kepala, nanti juga hilang." kataku
" Saya bisa pijat lho pak, bapak mau saya pijatkan?"
Sebuah tawaran yang sangat sulit ditolak, apalagi ditambah senyuman manis memikat.
***
Dirgana
Aku kembali melihat jam di dinding kamar, sudah hampir tengah malam tapi Dimas belum kembali. Aku mulai cemas, HPnya pun tidak bisa dihubungi. Aku masih duduk di sofa menunggunya pulang, membuka sosial mediaku berulang - ulang, sampai akhirnya aku merasa bosan. " Dimana kamu Dim?" teriakku dalam hati. Aku rebahkan tubuhku di sofa, meletakkan HP di atas meja dan meringkuk seperti orang kedinginan. Aku merasakan mataku sangat berat, tapi suamiku belum pulang, bagaimana aku bisa tidur?
****
Aku terbangun oleh suara pintu kamar yang tertutup.
__ADS_1
" Dim.." sapaku
Dimas hanya melihatku sebentar terus berlalu ke kamar mandi. Aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul 02.00 pagi. Dimas keluar dari kamar mandi dan langsung naik ke tempat tidur, mengacuhkan aku. Aku menghela nafas berat, lalu berdiri dan berjalan naik ke tempat tidur. Dimas memunggungiku, dan aku tak tahu apa salahku. Aku diam dan melanjutkan tidur, mengingat sebentar lagi aku harus berangkat ke kedai.
*****
Dimas
Aku menghabiskan tehku lalu bangkit dan pamit pada mama. Beliau hanya diam melihat sikapku hari ini. Yah... lama - lama aku akan terbiasa diacuhkan. Aku mengaktifkan HPku setelah semalaman mati karena habis daya. Beberapa notifikasi masuk dan salah satunya dari Di. Aku membuka pesannya, oh Tuhan... Di sudah menghubungiku sejak pukul 11 siang kemarin, menjelaskan padaku kalau kedainya sangat ramai kemarin. Kenapa aku bisa lupa kalau HPku mati, aku fikir dia mengacuhkanku, makanya aku sengaja mengacuhkannya. Aku menyandarkan kepalaku yang masih terasa sakit " maafkan aku Di.." kataku dalam hati.
******
Aku berbaring di sofa sambil terus menjambaki rambut menahan sakit dikepala, seseorang mengetuk pintu dan membukanya pelan.
" Ada pa Sil?" tanyaku.
Dia berjalan mendekatiku dan duduk di sofa, dekat dengan kakiku. Kepalaku sudah terasa berat, jadi aku diam saja melihatnya melakukan itu.
" Bapak yakin tidak mau saya pijat, saya kasihan lihat bapak begini." katanya memberi perhatian.
" Tidak Sil, terimakasih. Saya sedang menunggu istri saya, biar nanti dia yang pijatkan." jawabku berbohong. Aku melihat perubahan warna mukanya mendengar jawabanku tadi.
" Kamu keluar saja, saya tidak apa - apa." kataku, bermaksud mengusirnya tanpa menyakiti hatinya. Tapi dia masih duduk menatapku dari tempatnya.
*******
Dirgana
Aku hanya diam terpaku melihat suamiku berdua saja dalam satu ruangan dengan wanita yang jauh lebih cantik dan seksi dariku sedang duduk santai di sofa. Aku menahan amarahku, bukan tempat dan waktu yang tepat untuk ribut karena masalah ini, pikirku.
" Di." Dimas menyebut namaku
Perempuan itu langsung berdiri tegak melihat kedatanganku.
" Baik pak, saya keluar dulu. Permisi..." katanya dan melangkah menjauhi Dimas yang masih duduk kikuk menatapku. Aku melihat dengan jelas senyuman kemenangan di sudut bibirnya ketika melewatiku, tapi aku acuhkan. Ku tutup pintu dengan cepat begitu dia sudah berada di luar. Aku berjalan santai ke sofa, meletakkan sarapan yang aku bawa untuk Dimas di atas meja, lalu duduk. Aku membuka bungkusan sarapan yang aku bawa dan menyendokkan isinya, lalu aku antar sendok tersebut ke mulut Dimas. Dia hanya diam menurut tanpa ku beri perintah, kami hanya diam saja sampai sarapannya habis kusuapkan.
" Aku tahu dari mama, kau tidak sarapan kemarin." kataku menjelaskan.
" Makanya hari ini aku antarkan sarapan buatmu." sambungku lagi.
" Aku sudah menghubungimu seharian kemarin, tapi HPmu mati."
" Aku minta maaf, "
__ADS_1
Dimas hanya diam dan menatapku saja.
" Maaf sudah mengganggu kesibukanmu tadi, aku mau kembali ke kedai." kataku menutup pembicaraan.
Dimas cepat menarik tanganku, mengubah posisi duduknya dan memelukku. Tiba - tiba saja tangisku pecah, aku kecewa melihat pemandangan tadi, aku terluka.
" Maafkan sikapku kemarin sayang... maafkan aku, aku yang salah, aku lupa kalau HPku mati, bukan kau yang tak mengacuhkanku. Maafkan aku sayang..." Dimas berbisik lembut ditelingaku
" Aku tidak sedang sibuk, aku tidak melakukan apapun, aku bersumpah. Aku mencintaimu Di, aku tidak akan mengkhianatimu, aku terlalu mencintaimu sayang." Dimas ikut menangis sambil terus memelukku.
Aku membalas pelukannya, masih menangis. Seharian kemarin kami tidak berkomunikasi sedikitpun, dia mengacuhkanku, hari ini aku mendapatinya sedang berduaan dengan wanita lain, sakit sekali rasanya.
" Aku mohon Dimas, jangan lakukan ini lagi padaku, sampai kapanpun. Aku sakit kau acuhkan, benar - benar sakit Dim..." kataku masih menangis.
" Iya sayang.. Iya... aku janji, aku janji tidak akan pernah memgacuhkanmu sayang... maafkan aku sayang... maafkan aku." kemudian dia melonggarkan pelukannya, memegang pipiku dengan kedua tangannya dan mengusap airmataku dengan kecupan - kecupannya, lalu kembali memelukku erat.
********
Kami berdiri di depan sebuah rumah, tidak terlalu besar tapi sangat nyaman untuk kami tempati berempat.
" Ayo masuk, pa... Azi gak sabar." Azi menarik tangan Dimas masuk ke dalam rumah.
" Siap bos... tenang..." jawab Dimas. Aku dan Iza hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua.
Dimas membuka pintu rumah sambil mengucapkan salam dan masuk ke dalam sambil terus berpegangan tangan dengan Azi, sementara aku dan Iza mengikuti dari belakang.
" Ini kamar Azi, tidak boleh tidur sama mama, kecuali kalau papa sedang ada pekerjaan di luar kota." Dimas menunjukkan sebuah kamar bercat putih berukuran 4 x 4 dengan single bed yang dibungkus seprai berwarna biru gelap dan sarung bantal dengan warna yang sama. Ada sebuah lemari dan rak buku yang berdiri bersebelahan dan sebuah meja belajar kecil tanpa kursi dengan karpet biru gelap yang terbentang di bawahnya.
" Azi suka pa... Azi suka." dia langsung merebahkan badannya di atas tempat tidur.
Kami lalu pindah ke kamar yang berada di sebelah kamar Azi.
" Ini kamar kakak." Dimas membuka pintu dan kami masuk bertiga ke dalam. Ukuran kamar ini lebih luas daripada kamar Azi, dengan satu kamar mandi di sudut kamar, cat dinding berwarna putih juga, tempat tidur, lemari dan meja belajar yang juga berukuran lebih besar, dan karpet bulu berwarna ungu senada dengan seprai dan sarung bantalnya.
" Iza suka?" tanyaku padanya. Dia memelukku, mungkin tak pernah terbayang olehnya akan bisa memiliki kamar sendiri.
" Iza suka nggak?" tanya Dimas. Iza melepaskan pelukannya dan menghapus airmata yang mengalir di pipinya.
" Iza suka... Terimakasih pa... terimakasih ma..." katanya kemudian. Dimas tersenyum melihatnya.
Aku dan Dimas berjalan masuk ke tempat peraduan kami yang baru. Kamar ini yang terluas diantara 3 kamar yang ada. Dengan 4 jendela besar menghadap ke halaman belakang dan semuanya di dominasi warna putih terang. Sebuah walking closet di sudut ruangan dengan cahaya lampunya yang temaram dan bathtub putih di dalam kamar mandi menggoda imanku.
" Kita harus coba gaya baru sepertinya." katanya meledekku, aku tertawa dan memeluknya.
__ADS_1
" Terimakasih untuk semua ini Dimas... terimakasih untuk bahagia mereka." kataku dalam pelukannya, lalu aku melonggarkan pelukanku dan mengecup bibirnya.