Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
DIRGANA


__ADS_3

*


Author POV


Setelah beberapa minggu dirawat di rumah sakit, akhirnya Dirgana diperbolehkan pulang. Mama mengajak Di pulang ke rumahnya, karena saat ini rumah mama saja lah yang Di ingat.


Beberapa hari berada di rumah mama, Di sering merasakan gelisah apalagi pada malam hari. Rasanya ada kegiatan rutin yang biasa dia lakukan, tapi tidak dia lakukan selama kepulangannya dari rumah sakit.


**


Mama Sandra memutuskan mempercepat kedatangan Di ke rumah mereka, mengingat 3 bayi di rumah Dimas masih sangat membutuhkan Di, ibunya.


Mama Sandra mencari nama Di di ponselnya, lalu menggeser layar ponsel begitu nama Di ditemukan.


" Halo."


Di menjawab telpon dari seberang


" Oh... halo Dirgana, bagaimana kabarmu nak?"


" Baik, maaf ini siapa?"


Nomor ponsel mama Sandra dan Dimas sengaja di hapus dari ponsel Di sebelumnya, oleh karena itu Di tidak tau dia sedang bicara dengan siapa.


" Ini Ibu Di, Ibu yang kamu antar kemarin itu, masih ingat nak?"


" Oh.. iya bu, masih... Ibu koq bisa tau nomor ponsel saya?"


" Ibu kan pernah beli makanan lewat on line, kamu yang mengantar ke rumah. Nomor ponsel kamu ibu simpan setelah malam itu. Kamu ingat?"


" Iya ya bu? Aduh... Saya lupa bu... maaf kalau begitu."


" Iya Di, gak pa pa. Oh iya Di, kamu masih ngojek?


" Nggak bu, mama gak kasih izin. Takut ada apa - apa di jalan kalau ngojek. Jadi, sekarang ini di rumah saja bu."


" Wadduh.. kebetulan Di, Ibu butuh bantuan kamu nih, tapi kira - kira kamu mau gak ya?"


Mama Sandra memicingkan matanya, berharap Di mengiyakan tawarannya.


" Bantuan apa bu?"


" Begini deh, kamu datang ke rumah ibu besok, nanti ibu jelaskan di sana. Tapi, bukan ke rumah ibu yang di Azizi ya Di."


" Trus, yang dimana bu? Saya kan taunya hanya yang di Azizi."


" Besok ibu share lock ke WA kamu ya, kamu beritahu ibu kalau kamu mau berangkat ke sini. OK Di?"


" Iya bu."


Mama Sandra menghela nafas lega, Di bersedia datang. Mama Sandra yakin, ikatan batin tidak akan bisa terlupakan.


" Sabar ya sayang, besok mama kalian pulang."

__ADS_1


Air mata mengalir di pipi beliau, merasa iba pada keadaan Zya dan si kembar.


***


Ojol yang mengantarkan Di berhenti di depan sebuah rumah. Di lama memperhatikan rumah itu, rasanya dia pernah kesini, tapi lupa kapan.


" Udah sampai kak."


Di tersadar dari lamunannya dan turun dari motor. Setelah membayar jasa ojol, Di melangkah masuk melewati gerbang tinggi yang tidak terkunci. Seseorang keluar dari pintu samping rumah, terdiam sebentar melihat kehadiran Di.


" Permisi uni."


Perempuan itu cepat tersadar dan ingat apa yang harus dilakukannya.


" Ya, ibuk cari siapa?"


" Ibu Sandra nya ada uni?"


" Owh ada buk... ada... Silahkan masuk."


Di mengikuti langkah perempuan tadi ke dalam rumah. Di langsung di sambut tangisan bayi begitu berada di dalam. Hatinya tergerak mencari asal suara. Matanya berhenti di satu pintu, tapi dia tak berani masuk ke sana, meski hatinya memaksanya untuk mendekati pintu itu. Tiba - tiba pintu yang di pandang Di terbuka, Di melihat mama Sandra menggendong seorang bayi yang menangis.


" Halo Di..."


Mama Sandra menyambut kedatangan Di, berjalan mendekat pada Di. Di tak membalas sapaan mama Sandra, matanya hanya tertumbuk pada bayi yang ada di dalam gendongan mama Sandra. Mama Sandra tersenyum, tanpa Di sadari.


" Boleh saya gendong bayinya bu?"


" Tentu saja Di. Silahkan."


Hifza seketika saja terdiam, menatap Di dengan tatapan kerinduan. Di menepuk - nepuk pantat Hifza pelan, kakinya bergerak ke depan tanpa mengalihkan tatapannya pada Hifza, Di sangat hafal letak semua benda di rumah ini.


Di duduk di sofa ruang keluarga, merasakan de javu. Sepertinya dia pernah menggendong bayi ini, tapi kapan? Di tidak menemukan jawaban. Dia mencium kening Hifza dengan lembut dan menyapa bayi tersebut,


" Hi little princess."


Mama Sandra cepat berbalik badan ke arah kolam renang, seketika tangisnya pecah. Di mungkin tidak ingat tapi dia juga tidak lupa dengan panggilan kesayangannya untuk Hifza.


Tiba - tiba satu tangisan lagi terdengar dari dalam kamar, Di mengangkat kepalanya dam berkata,


" Little prince juga udah bangun dek."


Di terdiam, lama... bingung... lalu cepat memegang kepalanya yang terasa sakit.


Mama Sandra yang menyadari keadaan itu cepat melangkah mendekat, setelah sebelumnya menghapus air mata di pipinya.


" Sini Di."


Mama Sandra cepat mengambil alih menggendong Hifza, lalu memanggil baby sitter untuk menenangkan Hifza.


" Kau tidak apa - apa Di?"


Di masih diam, menunggu sakit di kepalanya mereda.

__ADS_1


" iya bu, gak pa pa."


Mama Dimas lalu menyerahkan segelas air pitih hangat pada Di. Di mengambil gelas tersebut dari tangan mama Sandra dan meminumnya habis.


Setelah melihat keadaan Di membaik, mama Sandra langsung mengutarakan maksudnya memanggil Di ke rumah.


" Ada sepasang bayi kembar dan 1 balita di rumah ini Di."


Di mendengarkan mama Sandra dengan seksama.


" Ibunya, menantu saya, sedang sakit dan sedang menjalani pengobatan di luar negeri saat ini."


" Saya lagi butuh jasa baby sitter saat ini, karena saya hanya punya 1 baby sitter. Saya butuh satu baby sitter lagi untuk mengurusi 3 anak Dimas."


Di membelalak kaget, mendengar kenyataan kalau Dimas sudah beristri dan punya anak pula.


" Bisa gak Di bantu ibu menjaga anak - anak, ibu udah kewalahan saat ini."


Di ingin sekali menolak tawaran mama Sandra, tapi entah mengapa kepalanya malah mengangguk."


Mama Sandra tersenyum menang.


" Kamu bisa mulai bekerja kapanpun kamu mau."


Di tersenyum,


" Zya... Zya jangan."


Di menolehkan pandangannya pada Zya yang sedang berlari dengan sebuah baju kaos perempuan di tangannya. Zya berlari ke arah Di, larinya semakin cepat begitu melihat Di.


" Mama.. mama.. miss you."


Zya menghambur ke dalam pelukan Di, Di memeluk Zya erat, seperti sedang melepas rindu yang sangat berat. Mama Sandra kembali menitikkan air matanya, tapi dihapusnya cepat.


" Saya mulai hari ini saja bu."


Mama Di mengangguk cepat dan tersenyum menang lagi.


Dimas POV


****


Aku melangkah masuk ke rumah terburu - buru, mengingat ini sudah jam tujuh malam. Mama pasti kesulitan menjaga 3 bayi hanya dengan bantuan 1 baby sitter di rumah.


Aku cepat masuk ke dalam rumah, hening.. Tenang..


Aku melangkahkan kakiku menuju kamar bayi, membuka pelan pintu kamar bayi dan


" Di."


Di sedang duduk di kursi menyusui, tempat favoritnya setiap kali akan menyusui si kembar. Tiba - tiba saja mataku basah, ingin sekali rasanya aku mendatanginya dan memeluknya seperti dulu. Tapi itu sama saja aku menggagalkan rencana untuk membawa Di ke masanya yang sekarang.


" Di."

__ADS_1


Aku menutup kembali pintu kamar bayi dan melangkah menjauh. Melangkah gontai masuk ke kamarku, langsung merebahkan tubuhku di sisi yang biasa Di gunakan untuk merebahkan tubuhnya. Memeluk bantal dan menciumi aroma rambut dan tubuhnya disana. Inilah derita merindu saat kau jauh dariku kemarin Di, sekarang berbalik, aku lah yang merasakan derita merindukanmu. Padahal kau berada sangat dekat denganku.


__ADS_2