
Author POV
Dimas memenuhi janjinya, setelah 3 hari menginap di villa yang berada dekat pegunungan, Dimas membawa keluarga kecilnya menyambung liburan mereka di sebuah villa pinggir pantai.
" Kau tak pernah mengajakku ke sini, dengan siapa kau berlibur ke sini ha?"
Di mencubit pinggang Dimas, sementara Dimas hanya menanggapi dengan tertawa dan memberikan kecupan di pipi Di.
" Pa, kami main di pantai ya."
Dimas dan Di menatap Azi dan Iza yang meminta izin
" Ajak om Andi, biar ada yang jagain."
Azi dan Iza cepat berlari mencari Andi dan memaksa Andi menemani mereka bermain. Para baby yang masih tertidur sudah berada di dalam kamar beserta baby sitternya masing - masing.
" Mmmm... Kita ke atas."
Dimas mengajak Di ke kamar yang berada di lantai 2. Di lagi - lagi mengagumi villa itu. Sebuah ranjang besar dengan seprai berwarna merah menyala, membangkitkan gairah siapa saja yang masuk ke dalam kamar tersebut.
Dimas dengan cepat memeluk Di dari belakang dan menciumi tengkuknya, Di yang kaget berteriak kecil sambil tertawa.
" Aku menginginkanmu Dirgana Putri."
Dimas mengangkat tubuh Di dan membawanya naik ke ranjang, Dimas lalu melucuti satu persatu baju yang dikenakan Di. Setelah itu, dia melucuti pakaiannya sendiri. Kemudian Dimas naik ke ranjang dan langsung menindih tubuh Di.
Mereka berciuman dengan sangat rakus, seakan bertahun - tahun lamanya mereka tidak melakukan hubungan. Kemudian Dimas melepaskan ciumannya dan menjilati tubuh Di, dari leher, dada, gunung kembar, perut, sampai ke bukit dan gua sempitnya. Di merasakan tubuhnya mengejang ketika Dimas menjilati bagian itu, tapi Dimas tidak menghentikan gerakan lidahnya, malah bertambah liar dengan cara memasukkannya ke dalam gua dan mengajak pintu gua itu berciuman.
Sebentar saja, hanya sebentar, Di mencapai klimaksnya yang terindah.
" Kau mulai nakal Dimas Arya, dari siapa kau belajar ilmu itu?"
__ADS_1
Dimas cepat menindih tubuh Di dan kembali menyerang bibir Di dengan ciuman penuh nafsu. Di tak mau kalah, dia malah memainkan lidahnya di dalam mulut Dimas dengan sangat lihai, masuk menyeruak dan bergerak liar di sana, berkali - kali Di membuat Dimas mengerang.
Di lalu bergerak memindahkan posisi Dimas ke bawah tubuhnya. Dimas tersenyum menatap tubuh Di dengan payudaranya yang bergerak turun naik mengikuti gerakan dadanya dan wajahnya yang bersemu merah, jongkok di atas senjatanya. Di mengarahkan senjata Dimas yang sudah mengeras dari tadi untuk memasuki gua sempitnya yang basah.
" Di..."
Dimas menengadah, kepalanya terkulai begitu merasakan hangatnya isi gua milik Di meskipun basah. Di bergerak naik turun sesekali menggoyang pinggulnya, lalu kembali bergerak naik turun
" cepat yank"
Gerakan Di mulai dipercepat, dengan meletakkan tangannya di dada Dimas, Di menggerakkan bokongnya naik turun dan menghentak, terus menghentak, semakin cepat tak berirama, sampai Di menekankan miliknya tanpa gerakan, sementara Dimas meremas bokongnya dengan sangat kuat dan mengerang, sementara Di terkulai lemas di atas tubuhnya.
*
Dimas dan Di melanjutkan permainan mengejar kenikmatan mereka di dalam bathtub, mereka duduk berhadapan dan saling membuka lebar kaki masing - masing, mempertemukan senjata Dimas dan gua sempit Di, di dalam air. Di menahan berat tubuhnya dengan kedua tangannya yang diletakkan di bibir bathtub, sementara Dimas memegang pinggang Di dan bergerak maju dan mundur perlahan, santai, namun menghentak ke dalam. Di berteriak kecil setiap hentakan itu menyentuh dinding terdalam gua nya, dan itu membuat Dimas semakin bergairah.
Dimas mulai mempercepat laju gerakan maju mundur pinggulnya, matanya sesekali terpejam, lalu kembali menatap mata Di yang menatapnya dengan nakal dan bibirnya yang sengaja digigit menahan nikmat.
Dimas menuruti permintaan Di, menambah kecepatan gerakannya. Di meremas bibir bathtub sambil menengadah dan meneriakkan nama Dimas, gairah Dimas semakin bergelora, sampai akhirnya dia memberikan hentakan terakhir dan menundukkan kepalanya lemas.
*
Dimas memeluk Di yang sedang berdiri sambil menyisir rambut, dari belakang. Berkali - kali Dimas mendaratkan ciuman di tengkuk Di.
" Udah yank... simpan untuk nanti malam."
Dimas tak memperdulikan permintaan Di, dia tetap menciumi tengkuk Di. Di berkali - kali mengerang, Dimas malah semakin terobsesi mendengar erangan Di.
Tangan Dimas masuk melalui pinggiran bawah rok Di, lalu membelai lembut milik Di. Tangan kirinya memainkan puncak gunung Di, sementara mulutnya sibuk di tengkuk Di.
" Yankkkk... Udah dong..."
__ADS_1
Dimas tak perduli, dia malah mengetatkan pelukannya. Tangan Dimas bergerak masuk ke dalam underwear dan meremas bukit Di, lalu Dimas menyentuh pintu gua Di yang lagi - lagi basah. Di akhirnya menurut, tubuhnya menuntutnya untuk menikmati perjalanan yang Dimas mau. Di mengangkat sebelah tangannya dan memegang tengkuk Dimas, lalu mengangkat kaki kirinya dan meletakkannya di kursi kecil dekat meja rias. Hal itu mempermudah Dimas menyentuh bagian yang dia mau.
Dengan sedikit membungkuk, Dimas memasukkan dua jarinya ke dalam gua milik Di, Di kaget dan mengerang. Dimas mulai memainkan jarinya di dalam sana, menggerakkannya keluar masuk, sementara jempolnya memainkan bagian lain di dekat pintu gua. Di mendesah, pinggulnya bergerak seirama dengan gerakan jari Dimas. Dimas melakukannya dengan sangat terampil, mempercepat gerakan jarinya sampai Di menengadah, mengerang panjang, kakinya lagi - lagi goyah dan Dimas menahan tubuh Di dengan tangan yang lain, yang dia gunakan untuk memainkan puncak gunung Di tadi.
Dimas merasakan jarinya sangat basah ketika keluar dari gua. Jari itu bergerak keluar dari underwear Di.
Dimas memberikan kecupan penutup di tengkuk Di, lalu membalik tubuh Di yang lemas untuk menghadapnya.
" Kau suka sayang?"
" Aku lebih suka dengan senjatamu, sesekali saja seperti ini."
Dimas mengerling nakal pada Di.
" Bergairahlah selalu bersamaku Di, aku akan selalu memuaskanmu, dengan cara apapun."
Di mengangguk dan tersenyum nakal.
" Hanya kau yang bisa buatku bergairah sayang. Seluruh tubuhmu tau bagaimana cara membuatku puas, aku menyukai semua caramu."
Di mengecup lembut bibir Dimas
" Aku harus mandi lagi jadinya."
Dimas tertawa terbahak - bahak.
" Kau bahagia sekali menyusahkanku."
" Karna aku suka mendengar erangan dan desahan yang keluar dari mulutmu sayang."
Dimas memberikan kecupan lembut di bibir Di.
__ADS_1
" Aku sangat mencintaimu."