Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
BYE NADYA...


__ADS_3

*


" Panggilkan bosmu, katakan kalau calon istrinya sedang menunggu!" Katanya memberi perintah, aku hanya diam. Aku langsung bingung, kenapa Dimas bisa tertarik pada wanita jelmaan badut seperti ini dulu. Riasan tebal, pakaian kurang bahan, cara bicaranya kasar dan sombong. Huffttt... aku tak mampu membayangkan kalau dia jadi menantu mama Sandra, mama bisa kena serangan jantung dibuatnya. Aku tiba - tiba tersenyum membayangkan itu.


" Heyyy... kenapa diam saja?? Ayo panggil bosmu, cepat! apa kau mau dipecat?"


hohoho... belum apa - apa dia sudah merasa punya kekuasaan untuk memberhentikan orang. Aku langsung berniat mengerjainya.


" Kenapa saya dipecat buk? salah saya apa?" tanyaku pura - pura.


" Ibuk? kau pikir aku setua itu? panggil aku nona. Tentu saja kau akan aku pecat, kalian semua akan aku pecat karena kalian tidak mematuhiku!" katanya sombong, aku tertawa dalam hati melihat tingkahnya.


Tiba - tiba Dimas keluar dari ruangannya,


" Dimaaassss... sayanggg... coba lihat pegawaimu ini berani sekali menentangku... aku gak suka Dimmmm..." suaranya berubah lembut dan manja, aku menahan tawaku melihat itu.


" Heyy... kau tertawa, kurang ajar sekali kau!" Dia menunjukku kesal, " Lihat Dim... Dia mentertawakan aku...." sambungnya lagi.


" Apa yang kau lakukan disini Nadya?" Dimas mulai bersuara, aku tetap diam pada posisiku membelakangi Dimas. Aku lebih tertarik melihat perempuan di depanku ini saat ini.


" Menjemputmu sayanggg... Kita makan yokkk... aku lapar..." Perutku langsung mual mendengar cara bicaranya.


" Gak bisa Nad, aku harus makan dengan istriku." jawab Dimas tegas mengacuhkannya.

__ADS_1


" Kau masih saja hidup dengan khayalanmu Dim... Dia sudah pergi meninggalkanmu sayang... ayolah... kita senang - senang, lupakan dia."


Kepalaku tegak menatapnya, " aku masih disini, dan tidak akan meninggalkan suamiku" kataku dalam hati, apalagi kalau untuk perempuan sepertimu.


" Aku masih disini buk." Aku mulai jengah dengan kata - katanya.


" Hussttt.. kau mengganggu saja. Aku tidak bicara denganmu!" katanya kasar.


" Maksudku, istrinya masih disini, belum kemana - mana dan tidak akan pernah meninggalkannya." kataku pelan. Dia diam, menatapku lama lalu menatap Dimas meminta penjelasan.


" Kita berangkat yank?" tanyaku sambil berdiri dan jalan menjauhinya. Melangkah menuju Dimas yang berdiri di dekat meja dan melingkarkan tanganku di pinggangnya. Dimas melingkarkan tangannya di bahuku dan mengangguk. Dia memberikan beberapa instruksi sebentar dan kami keluar bersama bergandengan.


" Dimas!! nggak, nggak mungkin Dimas!!"


" Ibuk gak malu dilihatin orang? Dimas sudah punya istri, berhentilah berharap." kataku pelan.


" Tidak, dia milikku." katanya dengan lantang


" Iya, dulu... dan ibuk sudah melepaskannya bukan? berbesar hatilah, Dimas saja sudah bisa menerima saat ibuk tinggalkan, sekarang giliran ibuk." kataku lagi, tetap tenang.


" Nad, please... aku malu. Pergilah..." Dimas ikut bicara.


" Kau tidak tahu saja apa yang sudah suamimu lakukan bersamaku ketika kau tidak ada. " katanya pelan mengadu domba aku dan Dimas.

__ADS_1


" Aku sudah tahu buk... Dimas sudah ceritakan semuanya padaku, aku percaya Dimas ku tahu bagaimana cara memperlakukan tempat sampah dengan benar." kataku pelan menahan emosi.


" Kau!!" dia menunjukku, tak terima dengan kata - kataku.


" Begini saja, kita atur waktu untuk bertemu, aku akan ajarkan ibuk cara mencintai orang, sehingga cintanya tidak berubah, OK... Mari buk."


Aku melingkarkan lagi tanganku dipinggang Dimas, kami melanjutkan langkah meninggalkannya yang diam menahan amarah.


**


" Kau yakin sangat mencintainya dulu?" tanyaku setelah kami berada dimobil. Dimas tertawa terbahak - bahak mendengar pertanyaanku.


" Kenapa yank?" tanyanya balik.


" Ishhh... kalau istilah anak zaman sekarang " nggak banget." Kau tidak buta dulu kan Dim?" kembali dia tertawa terbahak - bahak menanggapi pertanyaanku.


" Pada dasarnya semua manusia itu baik sayang... Lingkungan lah yang membentuk kita, akan tetap jadi baik atau aneh seperti dia tadi." jawabnya sambil melanjutkan tawanya.


Aku tersemyum dan mengangguk, setuju dengan apa yang disampaikan Dimas barusan. Merasa beruntung telah dikelilingi orang - orang baik selama ini.


" Kita makan disini?" ajaknya sambil membelokkan mobil ke salah satu restoran tak jauh dari rumah. Seperti biasa, kami akan ke rumah mamaku dulu setelah Dimas selesai bekerja, melihat mama dan anak - anak baru kembali ke rumah mama Sandra. Anak - anakku tidak terbiasa tidur di tempat lain, selain di tempatnya tidur selama ini. Makanya mereka tidak mau tinggal bersamaku di rumah mama Sandra. Paling sekali sebulan mereka mau di ajak tidur di sana, itupun hanya untuk 1 atau 2 malam. Aku berharap rumah yang sedang dibangun Dimas untuk kami cepat rampung, jadi tidak perlu lagi kesana kemari seperti sekarang.


***

__ADS_1


Huffttt... sampai juga dirumah, aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yamg sudah lengket oleh keringat. Dimas baru akan ke kamar mandi setelah aku selesai, dia memilih cek HPnya dulu, menyelesaikan pekerjaannya baru membersihkan tubuh dan naik ke ranjang. Menurutnya, kalau sudah di atas ranjang, dia malas melanjutkan pekerjaannya lagi. Apalagi setelah ada aku yang menemaninya tidur.


__ADS_2