
Dirgana
*
Dimas mengantarkanku pulang, sebelum turun dia kembali menciumi bibirku dan menangkupkan tangannya di pipiku,
" Aku akan merindukanmu Di..." katanya sendu, aku tersenyum dan ikut menangkupkan tanganku di pipinya.
" Besok aku ke rumahmu ya.." bujukku. Dimas mengangguk dan pelan melepaskan tangannya dari pipiku.
Dimas turun dari mobil, memintaku untuk menunggu sebentar. Lalu dia membukakan pintu mobil untukku, membantuku turun dari mobil dan memegangi tanganku erat sambil melangkah bersama ke dalam rumah.
" Mama!! Kakakkkk mama pulang!!"
Aku tersenyum melihat tingkah si bungsuku, lalu melihat ekspresi Dimas yang juga tersenyum menatapnya.
Tak berapa lama seorang anak gadis berlari keluar dan menghambur ke pelukanku, Dimas nampak kewalahan menahan tubuhku yang langsung limbung.
" Kak, hati - hati... kaki mama sakit."
Aku cepat menatap Dimas, dia membuka percakapan dengan anakku. Iza menjauhkan tubuhnya cepat dan memperhatikan kakiku yang sakit. Azi datang mendekat, tak berani memeluk karena sibuk memperhatikan kakiku juga. Dia mengambil alih pegangan tangan Dimas, seolah - olah ingin mengatakan " tugasmu sudah selesai bro." Dimas hanya tersenyum dan tetap waspada berjalan di belakangku.
" Assalammualaikum..." Kataku mengucapkan salam begitu sampai di depan pintu. Dari dalam kamar terdengar sebuah jawaban, tak berapa lama keluar seorang wanita mengenakan mukena, beliau baru selesai shalat rupanya. Mama membuka cepat kain shalatnya dan berjalan ke arahku, sementara mukena masih beliau kenakan karena melihat kehadiran Dimas.
" Sini, dudukkan mamamu di sini Zi." katanya memberi perintah. Aku duduk ditempat yang sudah beliau siapkan, sementara Azi berjongkok memperhatikan kakiku.
" Duduklah sini dulu nak." ajaknya pada Dimas. Dimas masuk dan duduk berseberangan denganku. Matanya tak lepas dari Azi yang sibuk menatap kakiku.
__ADS_1
" Kamu yang menelpon kemarin ya? Itu si Rahmi mana, kenapa hanya kalian berdua?" Mama memberondongi Dimas dengan pertanyaan.
" Iya tante, saya yang menelpon kemarin. Rahmi kami antar duluan tadi." jawab Dimas santai.
" Panggil mama, mama gak suka dengan kata tante." ralat mama dan berlalu menuju dapur. Aku dan Dimas tersenyum.
" Kenapa kaki mama ditutupi, om apakan kaki mama?" Azi bertanya tanpa membuang pandangannya dari kakiku. Dimas kaget dengan pertanyaannya, begitu juga dengan caranya bertanya.
" Mama keseleo, ngejar kucing. Kenapa Azi nyalahin om Dimas?" jawabku, aku melirik pada Dimas yang sedang membulatkan matanya padaku mendengar jawabanku.
Azi hanya mengangguk saja mendengar jawabanku, sementara Iza tak melepaskan pandangannya dari Dimas.
" Kakak, sini." kataku untuk mengalihkan tatapannya. Dia terkejut dan langsung mendekatiku. Sepasang matanya berkaca - kaca, aku tahu dia pasti merindukanku. Aku memang tidak pernah meninggalkan mereka sebelumnya. Dia memelukku, melepaskan tangisnya, aku mengelus punggungnya perlahan.
" Eeehhh... koq nangis, malu nih sama om Dimas." kataku. Dia cepat menyeka airmatanya dan melepas pelukan.
" Lahhh... kan ada nenek disini. Udah mau SMP pun masih cengeng." mama tiba - tiba datang dari dapur dan ikut bicara sambil meletakkan teh di atas meja.
" Silahkan minum Dimas." kata beliau mempersilahkan, Dimas mengucapkan terimakasih dan langsung menyeruput tehnya. Mama memperhatikan wajah Dimas dengan seksama, lama, lalu...
" Wajahmu mirip pemilik toko emas Arya Jaya ya?" Dimas tercekat mendengar tebakan mama, dia terbatuk. Azi cepat berdiri dan berjalan ke arahnya, lalu menepuk - nepuk punggungnya pelan.
" ehemmm..."
" ehemmmm.."
Sontak aku tertawa melihat perlakuan Azi pada Dimas, Dimas pun malah ikut tertawa.
__ADS_1
" Maaf nak... mama langganan di sana kalau beli emas. Sesekali sering lihat bosnya datang, mirip kayak nak Dimas." sambung mama lagi.
" Memang saya itu ma." Jawab Dimas, mama terdiam mendengar jawaban Dimas dan sekarang gantian mama yang tercekat dan batuk. Tapi, beliau cepat menghentikan langkah Azi yang ingin mendatanginya untuk menepuk punggungnya.
" Aduh... gimana ini, hanya disuguhkan air teh saja." kata mama malu.
" Nggak pa pa ma, santai aja. Oh iya, Di..." aku cepat merespon panggilannya dan menatap matanya, " aku pamit dulu ya, sudah sore." aku mengangguk, meski hatiku ingin menahannya.
" Terimakasih ya Dim." kataku, dia hanya menjawab dengan senyuman.
" Dimas pamit dulu ma, terimakasih minumnya." katanya pada mama.
" Duh... maaf ya nak Dimas, hanya teh saja." jawab mamaku malu. Dimas tersenyum melihat tingkah mama.
" Oh iya Di, motormu nanti di antarkan satpam ku ya. Jangan kemana - mana dulu, istirahatkan kakimu." pesannya sebelum pergi. Aku mengangguk lemah.
Dimas pergi meninggalkan rumahku, dan keramaian pun terjadi. Dari mama yang berulangkali mengungkapkan perasaan malunya karena sudah membentak Dimas kemarin saat menelpon, sekarang hanya di suguhi teh, Iza dan Azi dengan ceritanya, aku rindu keramaian ini.
**
Dimas
" Di..."
Berkali kali bolak balik badan dari tadi, tapi matanya tidak bisa tertidur. Sudah 3 hari setelah mengantarkan Di ke rumah, tapi Di belum juga datang ke rumahnya. Meski tetap selalu bertemu lewat VC atau telpon, tapi dia membutuhkan yang lebih dari itu. Mama Di masih melarangnya keluar rumah, Di tak bisa melawan permintaan mama, aku juga setuju itu. Tapi aku sangat ingin memeluknya.
Dimas mengacak - acak rambutnya , menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal dan menghembuskan nafasnya dengan keras. Lusa dia harus pergi keluar kota untuk cek keadaan beberapa toko, paling cepat baru akan kembali dalam 2 hari, sementara ini sudah hari ketiga tidak bertemu Di. Dimas membulatkaan tekad untuk menculik Di sebentar besok malam, kalau ternyata besokpun Di tidak datang. Dia memghempas tubuhnya dengan kasar, menutup kepalanya dengan bantal, menjelang subuh baru dia bisa terlelap.
__ADS_1