Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
IZA ( 2 )


__ADS_3

*


Author POV


Semua orang yang berada di dalam rumah besar itu melotot melihat Dimas dan anak laki - laki yang tadi sempat berkelahi, begitu mendengar suara 3 tembakan. Mama Sandra dan mama Ve seketika masuk ke dalam rumah dan menyeruak di antara tubuh beberapa pria dewasa yang menutupi penampakkan Dimas dan laki - laki muda itu.


Laki - laki muda itu jatuh bersimpuh di lantai dengan pistol yang berada di tangannya, darah membasahi kedua tangannya. Dia menatap nanar dan lurus ke arah Dimas.


Beberapa saat kemudian, laki - laki muda itu menjatuhkan tubuhnya. Dimas hanya diam menunduk menatapnya.


" Dimas!"


Seketika Dimas tersadar,


" Tolong angkat dia, bawa ke rumah sakit!"


Dimas jongkok, diikuti dengan dua pria bertubuh besar tadi, mereka bertiga mengangkat tubuh laki - laki muda yang tergeletak bergelimang darah, lalu membawanya keluar.


Sebuah mobil masuk melewati gerbang dan berhenti di depan rumah, tepat saat Dimas dan kedua pria bertubuh besar berada di luar.


" Gilang!!"


Seorang perempuan turun dari mobil dan langsung mengejar tubuh anak laki - laki bernama Gilang itu. Perempuan itu menangis begitu melihat tubuh anaknya terbujur kaku bersimbah darah dalam gendongan 3 orang pria.


" Apa yang kau lakukan pada anakku?"


Matanya membesar menatap Dimas, air mata mengalir deras di wajahnya


" Naik ke mobilmu, kau harus ikut mengantarnya ke rumah sakit!"


Dimas mengarahkan langkahnya mengangkat anak laki - laki itu ke mobil yang tadi dikendarai Hellen. Hellen masuk lebih dulu dan memangku kepala anaknya yang berbaring.


" Bawa Iza ke rumah sakit yang sama Di, ikuti aku!"


Dimas dan seorang pria bertubuh besar masuk ke dalam mobil Hellen dan duduk di depan. Di berlari ke mobil bersama seorang pria bertubuh besar yang tadi ikut mengangkat Gilang ke dalam mobil Hellen. Pria itu meminta teman - temannya kembali ke rumah mereka masing - masing setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih, lalu masuk ke mobil Dimas dan mulai mengendarai mengikuti mobil yang dikendarai Dimas di depan. Sebuah mobil lain mengikuti mereka dari belakang.


Di rumah sakit


" Apa yang kau lakukan pada anakku!"


" Anakmu menyekap anakku, menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan sebagai ayah?"


" Tapi kau tidak perlu menembaknya!!!"


" Dia yang menembak sendiri tubuhnya, bukan aku!"

__ADS_1


Di datang mendekati Dimas dan Hellen setelah memastikan Iza dalam keadaan baik - baik saja. Lagipula Iza ditemani ke tiga oma dan neneknya saat ini.


" Apapun yang sudah kalian lakukan berdua, ini lah penyebab semuanya!"


" Anakmu melihat kalian masuk berdua ke dalam hotel, berfikir Dimas mengganggu ibunya dan takut keluarganya hancur. Makanya dia melakukan ini."


" Kau juga Dimas, kau lihat sekarang bagaimana keadaan Iza. Tubuh dan wajahnya memar karena luka bekas dipukuli anak perempuan ini. Ini semua karena kegilaan kalian berdua!!"


Di menatap kedua orang di depannya secara bergantian dengan penuh amarah.


Seorang dokter keluar dari UGD dan berjalan mendekati Hellen, Dimas dan Di. Hellen menghadap ke arah dokter, menatap dokter tersebut dengan sayu, berharap dokter memberikan kabar baik untuknya.


" Bagaimana dengan anak saya dok?"


Dokter itu membalas tatapan Hellen dengan sedih,


" Maaf bu... Kami sudah berusaha menolongnya, tapi kami gagal."


" Mmm.. mm.. maksud dokter apa!!"


" Anak ibu sudah meninggal, maafkan kami."


Hellen berteriak histeris dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai, sementara dokter tadi berlalu meninggalkan mereka bertiga dengan wajah menunduk. Di menatap Dimas, kemudian berlalu meninggalkan Dimas yang berdiri terpaku.


*


" Anak itu meninggal."


Ketiga oma melotot menatap Di, terkejut dengan kabar yang disampaikan Di.


" Ini sudah kali kedua ya kak, janjian dengan orang yang baru dikenal, tanpa meminta izin pada mama terlebih dahulu!"


Iza menangis tersedu sambil menunduk


" Ampun Iza ma..."


" Ampun.. ampun.. Hanya itu saja yang bisa kau lakukan!!"


Mama Vena dan mama Sandra berdiri lalu melangkah mendekati Di


" Di.. Sudah nak..."


Mereka berdua berusaha menyabarkan Di, tapi kemarahan Di sudah tak terbendung. Mengingat ini bukan kali pertamanya ini terjadi pada Iza. Di mengacuhkan permintaan kedua mamanya


" Papa Dimas sudah memperingatkan padamu dulu, sekarang kau buat lagi. Apa sebenarnya maumu?"

__ADS_1


" Iza gak tau ma.. Dia bilang dia teman sekolah Iza dulu di SMP."


" Dan kau percaya tanpa menyelidikinya?"


Iza menutup wajahnya dan kembali menangis tersedu


" Tidakkah terfikir olehmu, bagaimana kalau mereka memperkosamu, membunuhmu, lalu membuang mayatmu di semak - semak? Apa kau tak berfikir sampai ke situ?"


" Dirgana, sudah. Hentikan!"


Mama Di melotot marah menatap Di.


" Dia terluka, bukan hanya fisiknya tapi juga batinnya. Apa kau tak bisa menunggu sampai dia membaik dulu, baru kau marahi?"


" Tenangkan dirimu Di... Sabar sayang."


Mama Di membela Iza dan membawa Iza yang masih menangis ke dalam pelukannya, mama Sandra mendekati Di dan memberikannya pelukan. Di menangis dalam pelukan mama Sandra.


Tiba - tiba Dimas masuk ke dalam kamar. Di dan Iza melepaskan tubuhnya masing - masing dari pelukan, lalu mengusap airmata dari wajah mereka. Di melangkah menuju sofa di seberang tempat tidur menjauhkan dirinya dari Iza dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Dimas berjalan mendekati tempat tidur Iza, anak gadis itu menunduk takut menatap Dimas.


" Kau tidak apa - apa sayang?"


Iza mengangguk pelan, masih menunduk.


" Kau yakin mereka tidak melakukan apa - apa lagi pada tubuhmu nak?"


" Tidak pa, laki - laki yang tertembak itu yang memukuliku. Teman - temannya hanya diam saja menonton."


" Papa percaya, tapi papa harus membuktikan dulu semuanya. Kita lakukan visum setelah ini, tidak apa - apa kan?"


" Iya pa."


Iza mengangguk, Dimas membawa Iza ke dalam pelukannya dan menangis bersama Iza yang merasa bersalah pada Dimas.


" Ampun Iza pa.. Ampun..."


Dimas mengangguk pelan, lalu membelai kepala Iza dengan penuh kehangatan.


" Kami akan selalu mengampunimu nak... Sebesar apapun kesalahanmu. Tapi sekali lagi papa mohon, jangan lakukan hal ini lagi, sekalipun kau sangat mengenali laki - laki yang mengajakmu pergi."


Iza mengangguk pelan,


Dimas melepaskan pelukannya dari tubuh Iza, lalu mengecup keningnya sebentar


" Kalian berlima adalah hartaku, aku tak tau bagaimana aku jika kehilangan kalian."

__ADS_1


Di kembali menangis melihat perlakuan Dimas pada putrinya, ketiga mama pun juga begitu. Mama Sandra menepuk - nepuk pelan bahu Dimas, lalu memeluknya dari samping.


__ADS_2