Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
PERUSAK


__ADS_3

*


Author POV


Di menemani Dimas keluar kamar atas permintaan Dimas sendiri. Di berjalan disamping Dimas, memegang erat lengan Dimas.


" Aku udah mirip Zya ya?"


Di tertawa mendengar candaan Dimas.


" Ibu."


Anita berjalan mendekati Dimas dan Di dengan wajah kesal.


" Ibu apa - apaan sih, bapak belum boleh dipaksa berjalan."


Di menoleh pada Dimas, tiba - tiba merasa sedih. Belum pernah satupun orang yang dipekerjakannya bicara dengan nada tinggi yang serius kepadanya.


" Saya yang memaksa keluar Anita."


" Seharusnya ibu melarang bapak, bukannya malah mengikuti kemauan bapak."


Anita lalu melepas tangan Di dari lengan Dimas, lalu mengambil alih tugas Di menuntun Dimas untuk kembali ke kamar. Dimas diam, tidak bergerak.


" Ya udah, kalau bapak mau keluar, biar saya antar bapak duduk di luar ya."


Anita kembali mencoba menuntun Dimas untuk melangkah menuju kolam renang, seperti yang Di lakukan tadi, tapi Dimas tetap diam. Anita menatap Dimas yang tak mau bergerak.


" Saya rasa ini bukan tugas kamu, saya ingin istri saya."


Anita bersikukuh, tak mau mau melepas tangan Dimas. Pegangannya bahkan lebih dieratkan lagi pada Dimas.


" Tapi pak,..."


" Maaf, boleh saya saja yang menuntun suami saya?"


Anita menatap tajam penuh kekesalan pada Di. Dengan terpaksa, Anita melepaskan tangannya dari tangan Dimas.


" Yok."


Dimas dan Di kembali saling melempar senyuman, melangkah bersama menuju kursi santai di dekat kolam renang.


" Aku pengen berenang Di."


" Tidak boleh."


Dimas dan Di kembali diam saling bertatapan. Mulai jengah dengan sikap Anita.


" Duduklah yank, aku ambilkan sarapanmu dulu. Biar Anita juga bisa memeriksamu."


Dimas menurut, dia duduk menghadap kolam renang, Di meninggalkan Dimas sendirian, sementara Anita mengambil semua peralatannya di kamar tamu dan mulai memeriksa keadaan Dimas.


" Bapak harus jaga kesehatan, tidak boleh terlalu letih dulu."


Di menyiapkan sarapan Dimas pelan - pelan, sengaja mengulur waktu mencoba menebak apa rencana Anita pada Dimas, melalui sikapnya.


" Nah kan, tensi bapak tinggi lagi. Bapak pasti tidak beristirahat semalam."


" Saya istirahat koq."

__ADS_1


Anita tersenyum, menyimpan semua peralatan medisnya. Dia memegangi bahu Dimas, memberikan pijatan disana.


" Kamu bisa kembali ke kamarmu An, sudah selesai kan?"


Dimas jelas - jelas menunjukkan penolakannya, tapi Anita tidak perduli, tetap memijat bahu Dimas.


" Ngapain kamu Anita?"


Anita cepat berdiri dan bergerak menjauh dari Dimas. Wajahnya seketika pucat melihat kehadiran mama yang tiba - tiba.


" Ng... ng... sa, saya hanya memijat pak Dimas Nyonya. Tensinya tinggi, pak Dimas butuh relaks saat ini."


" Kan ada istrinya, sudah jadi tugas Di mengurus keperluan pribadi Dimas. Saya sudah sampaikan juga ke kamu kan."


" Ibu sedang sibuk di dapur Nyonya, makanya saya berinisiatif membantu pak Dimas."


" Sesibuk apa dia sampai tega meninggalkan suaminya dengan wanita lain. Di!! Dirgana!!"


Dirgana datang dengan nampan berisi sarapan, teh panas juga obat - obatan untuk Dimas.


" ya ma."


" Kamu ngapain lama - lama di dapur? Tuh lihat Dimas, mama gak suka lihat perempuan lain menyentuh Dimas selain kamu. Dengar itu!"


" Iya ma, maaf. Di ambil sarapan buat Dimas tadi."


" Anak - anak mana?"


" Di kamar bareng baby sitternya ma."


" Iza, Azi?"


" Mama ajak Iza, Azi dan Zya jalan ya? Mama bosan di rumah."


Di mengangguk tersenyum.


" Sudah selesai kan An? Kembalilah ke kamarmu."


Anita melangkah meninggalkan Dimas dan Di.


" Aku tidak menyukainya."


Dimas menggerutu setelah menggigit roti isi yang dibawakan Di untuk sarapan.


" Kita bahasnya di kamar aja ya."


Dimas mengangguk, menikmati sarapannya dalam diam. Begitu juga Di.


**


" Banyak sekali yang mengejarmu Dim, lama - lama aku letih juga."


Dimas mengangkat kepalanya dan menatap Di yang duduk di sampingnya.


" Kau mau meninggalkan aku di situasi seperti ini Di?"


Di cepat menoleh pada Dimas


" Jangan gila dan jangan pernah berharap."

__ADS_1


" Lalu?"


" Aku memikirkan kita tinggalkan semua kemewahan ini, tinggal di tempat yang tidak terlalu ramai, dimana orang - orangnya masih menghargai arti sebuah hubungan suami istri yang tidak boleh diganggu."


Dimas tertawa


" Dirgana... pelakor dan pebinor sekarang ini ada dimana - mana yank."


Di mengangguk pelan. Aneh sebenarnya, kenapa semakin hari orang - orang semakin suka merebut milik orang lain.


Mereka menghela nafas berat bersamaan, menoleh berbarengan, lalu tertawa bersama.


" Aku mencintaimu yank, cukup itu saja yang kau ingat."


" Aku juga mencintaimu Dimas."


Dimas merengkuh bahu Di dan membiarkan kepala Di rebah dibahunya.


cekkk


cekkk


Dimas dan Di menoleh ke arah pintu bersamaan. Mereka memang sengaja mengunci pintu kamar sejak salah seorang penghuni rumah sudah berani masuk ke kamar mereka tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dimas mengerling nakal pada Di.


Di membuka beberapa kancing bajunya, mengacak - acak rambutnya. Dimas membuka baju dan menarik selimut untuk menutupi bagian pinggang sampai pahanya. Di mengacak - acak rambut Dimas, lalu melangkah ke pintu.


Pintu terbuka, Anita melotot melihat penampilan Di. Di sengaja membuka pintu kamar dengan lebar agar Anita juga melihat Dimas yang tanpa baju sedang duduk menengadah menutup mata, seperti sedang kelelahan setelah melewati kenikmatan


" Saya kan sudah peringatkan bapak untuk tidak terlalu letih dulu bu. Ibu ini bagaimana sih?"


Di mengedikkan bahunya.


" Saya lapar, bapak apalagi. Kamu mau masuk, kami baru mau memulai sesi kedua. Mau lihat?"


Di mengedipkan matanya pada Anita, Anita langsung memasang wajah jijik pada Di dan berlalu meninggalkan pintu kamar.


Di tertawa menang, menutup dan mengunci kembali pintu kamar, lalu berjalan kembali ke tempat tidur. Dimas yang sudah menegakkan kepala ikut tertawa.


Di langsung naik ke atas pangkuan Dimas dengan kaki terbuka, masuk kedalam selimut dan menempelkan keningnya pada kening Dimas. Mereka lalu berciuman, tiba - tiba saja hasrat mereka menuntut untuk dilepaskan. Di menangkupkan tangannya di pipi Dimas, ******* bibir Dimas dengan lembut dan penuh hasrat.


Tangan Dimas menggerayangi tubuh Di, lalu membuka satu persatu kancing baju Di yang masih tersisa, membantu Di melepaskan semua, termasuk pengait dari penyangga gunung kembar yang menyembul penuh.


Di bergerak maju mundur di atas pangkuan Dimas, tangannya turun dan mencari kancing celana pendek Dimas, lalu mulai membukanya dengan sangat cepat. Dimas menggerakkan kakinya dan menurunkan celananya dalam posisi duduk. Sementara Di berdiri menantang dengan kaki terbuka di hadapan Dimas, melepas sendiri celana panjang dan penutup bagian eksotisnya. Dimas mengagumi pemandangan di depannya, menyentuh bagian itu dengan lembut.


Di kembali menurunkan tubuhnya pelan, lalu mengarahkan pemersatu antara tubuhnya dan tubuh Dimas. Perlu beberapa kali hentakan pelan, karena mereka sudah lama tidak berhubungan. Dimas bergidik merasakan kehangatan di dalam tubuh Di, lalu cepat memeluk tubuh Di. Wajahnya bersembunyi diantara bukit kembar, tangannya menjelajah bukit itu dengan lembut. Di memberikan keleluasaan pada Dimas untuk bereksplorasi di bukit. Demgan tangan, jari bahkan lidah. Sementara Di bergerak - gerak liar mencari jalan menuju puncak.


Setelah menemukan jalan itu, gerakan Di bertambah liar, Dimas mengalungkan tangannya di pinggul Di, dia pun sudah menemukan jalannya juga. Sampai akhirnya mereka tiba di puncak bersama, berteriak kecil dan menahan nafas sebentar menikmati rasanya. Cairan hangat yang tersembur ke dalam rahim Di menambah kepuasan tersendiri, seperti Dimas yang sedang menikmati denyutan dari dalam tubuh Di.


Handle pintu kembali bergerak ke bawah,


cekkk


Cekkk


Cekkk


Cekkk.. Cekkk.. Cekkk


Terserah apa yang difikirkan oleh orang yang ada di balik pintu saat ini, Dimas dan Di tidak perduli.

__ADS_1


__ADS_2