
*
Disinilah aku sekarang, tidur terlelap di pangkuan. Hanya diam tak tau apa yang akan ku ucapkan. Aku menggeliat, menarik dan mengangkat tangan ke udara. Melihat wajah lelah dan terlelap Di. Batinku langsung berteriak, kenapa dia harus mendapatkan sakit yang teramat banyak, padahal dia sudah melakukan yang terbaik untuk semua orang di sekelilingnya.
Aku bangkit perlahan, agar tidak membuatnya terjaga. Perutku terasa lapar, setelah aku mengistirahatkan otakku sejenak. Aku berjalan keluar kamar, melangkah menuju meja makan. Di sudah masak untukku tadi, tapi aku baru datang lewat dari jam makan malam, itupun langsung masuk ke dalam kamar dan memintanya menemaniku sebentar, tapi aku malah tertidur cukup lama.
" Kamu lapar Dim?"
Aku terperanjat kaget, tak menyadari kalau Di sudah berdiri di belakangku.
" Iya yank... hmmm... biar aku ambil sendiri aja, kamu lanjutkan lah tidurmu."
Di hanya tersenyum, dia melangkah mendekatiku
" Tidak setiap hari aku bisa melayanimu, mana mungkin aku akan melewatkannya."
Aku diam
" Duduklah, aku siapkan makanmu sebentar."
Aku menarik salah satu kursi dan duduk di sana. Lalu, Di datang lagi sambil membawa makan malamku yang tadi tertunda.
" Makanlah Dim..."
Dia kemudian ke dapur lagi dan membawakan segelas air putih dan segelas teh panas. Lalu duduk menemaniku makan
" Kau sudah makan Di?"
Dia mengangguk tersenyum.
Aku memakan habis makan malamku, baru menyadari kalau ini adalah makan keduaku setelah tadi pagi sarapanku di ganggu oleh Siska. Ahhhh... Siska... menunggunya melahirkan dan beberapa bulan pemulihan, lalu entah apa lagi rencana berikutnya, sampai kapan aku harus menemaninya Tuhannn...
Di langsung membereskan meja begitu melihatku selesai makan, lalu duduk kembali menemaniku.
" Kau kenapa yank?"
Aku menolehkan wajah padanya, begitu mudahnya dia menebak isi hati dan otakku, langsung bertanya apa yang terjadi tanpa basa - basi.
Aku cepat menggeleng, menunda untuk menceritakan semuanya. Tapi Di tetap menatapku dengan serius, berharap jawaban lebih yang keluar dari mulutku. Aku menunduk,
" Jangan rahasiakan apapun dariku Dim... Aku mohon."
**
Dirgana
__ADS_1
Dimas masih menunduk, aku masih menunggu jawabannya. Aku langsung bisa menebak kalau ada hal yang sedang memberatkan batinnya kali ini. Tidak biasanya dia datang dan langsung menarikku ke kamar, tanpa menyapa anak - anak terlebih dahulu. Lalu mengajakku duduk di sofa dan minta aku menemaninya sebentar. Berbaring menyamping di pahaku, mengelus - elus lututku sebentar, lalu tertidur. Tidurnya hanya beberapa jam, tapi sudah berkali - kali dia memaki dalam tidurnya dan menyebutkan nama Siska.
Aku melihat bahunya bergerak, seiring tangis yang tertahan, aku menarik kursiku lebih dekat dengannya dan mengambil tangannya.
" Dimas..."
Dia mengatur nafasnya sebentar, mengenyahkan tangisnya, diam dan...
" Siska hamil."
Aku cepat melepaskan tanganku dari tangannya, menatap kepalanya yang langsung menunduk dalam dan bahunya yang kembali bergerak.
" Aku bersumpah tidak menyentuhnya Di... Aku bisa merasakan itu. Aku tidak mungkin melakukannya dalam keadaan ku yang tidak sadar waktu itu. Sekarang dia bilang dia hamil, itu bukan anakku Di... "
Aku masih diam, terguncang dengan pernyataannya barusan. " Apa lagi ini Tuhan... Apa lagi yang ingin kau berikan padaku setelah ini?" Aku bertanya - tanya dalam hati.
Otakku tidak mau di ajak untuk berspekulasi saat ini, yang aku tau, aku hanya ingin sendiri.
Aku berdiri dan melangkah ke kamar, meninggalkan Dimas yang masih menangis terisak di ruang makan.
**
Aku terbangun oleh tangisan Zya, membuka sebelah dadaku dan mendekatkan ke mulutnya. Ranjang di sebelah Zya kosong, apa Dimas kembali ke rumah mama Sandra tadi? Atau tidur di ruang keluarga?
Aku cepat mengusap airmata dan beranjak ke dapur, mengingat sebentar lagi anak - anak akan bangun dan bersiap - siap untuk ke sekolah.
***
Dimas terbangun oleh teriakan Azi dan menatapnya tersenyum.
" Papa kenapa tidur di sini?"
Dimas terdiam
" Papa tadi nemenin mama nyiapin sarapan. Ehhh... malah ketiduran di sana. Ya kan pa?"
Aku menjawab pertanyaan Azi sambil membereskan sisa sarapan Iza dan Azi pagi ini
Dimas tersenyum lagi.
" Papa antar kami ke sekolah ya... Papa kan udah bangun."
Dimas melirik jam di tangannya, lalu bangkit.
" Siap bos. Udah sarapan?"
__ADS_1
" Udah."
" Papa mandi sebentar ya."
Azi mengangguk senang. Dia sibuk menyiapkan tas dan sepatunya.
****
Aku membaringkan Zya di atas tempat tidurku, mengecupnya sebentar, lalu berjalan keluar kamar.
" Dim..."
Dimas yang menonton TV sambil berbaring, langsung mengangkat kepalanya menatapku. Aku hanya memberi kode dengan anggukan, memintanya masuk ke kamar. Kami tidak mungkin bicara di luar kamar karena ada uni yang sedang melakukan pekerjaannya.
Aku mengajak Dimas duduk di sofa, di depan jendela besar yang aku buka lebar untuk mengganti udara di dalam kamar.
" Temani dia selama dia hamil."
Pintaku setelah Dimas duduk di sebelahku. Dimas menatapku, tak senang dengan apa yang aku ucapkan.
Aku meletakkan tangan di pahanya dan tersenyum.
" Anak itu tidak salah, siapapun ayah biologisnya, tapi kau lah yang tercatat oleh negara sebagai suami dari ibunya."
Dimas masih mendengarkan
" Jaga dia, apa lagi ada makhluk yang sedang berkembang di dalam rahimnya. Tidak akan mudah menjalani kehamilan dalam kesendirian. Kau harus tau itu Dim."
" Kau ingin melepaskan aku Di?"
Dadaku langsung sesak mendengar pertanyaannya, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu. Air mata yang dari semalam bertahan, mulai membuncah deras. Aku cepat mengambil kedua tangannya, lalu menciumi tangannya sambil menggeleng.
" Tidak akan pernah sayang... Aku tidak akan melepaskanmu untuk siapapun. Aku ingin memilikimu terus."
Dimas menggeser duduknya, mendekatkan tubuhnya padaku. Kami langsung berpelukan dan menangis.
" Tuhan sedang mengajarkanku untuk ikhlas Dim... Ikhlas membagi perhatian suamiku, aku yakin kau tidak akan pernah membagi cintamu untuk kami, aku mohon jangan pernah."
" Oh... Dirgana... Siapa kau sebenarnya sayang? Terbuat dari apa hatimu?"
Dimas melepas pelukannya dan menciumi wajahku. Aku membiarkannya melakukan itu.
" Aku pernah mengalami sedihnya hamil dan sendiri Dim... Sangat sedih rasanya. Kalau saja Tuhan tidak menguatkan aku lewat Iza, aku rasa aku sudah mati karena bunuh diri saat hamil Azi."
Dimas kembali memelukku erat, begitupun aku. Aku yakin aku mampu melewati ujian Tuhan kali ini. Ada 3 malaikat kecil pembangkit semangatku, dua orang wanita yang sangat menyayangiku dan 1 laki - laki yang akan selalu mencintaiku. Aku tidak perlu ragu akan kekuatanku.
__ADS_1