Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
ANDIEN


__ADS_3

*


Setibanya di rumah, Di langsung merencanakan banyak hal untuk mengatur pernikahan Andi dan Andien secepatnya. Lelahnya selama liburan seketika hilang, berganti dengan semangat yang membara untuk segera mewujudkan keinginannya untuk menikahkan Andi dengan Andien.


*


Satu minggu sudah berlalu, Di memperhatikan Andien yang belakangan ini mulai sering termenung sendirian. Seperti siang ini, Andien duduk di teras sendirian setelah menidurkan Zya di kamar baby. Tatapannya terpaku pada satu titik yang ada di depannya. Di berjalan pelan mendekatinya,


" Ndien."


Andien melonjak kaget, lalu tersenyum ke arah Di yang melangkah mendekatinya dan ikut duduk di sampingnya.


" Ada apa Ndien?"


Andien menunduk begitu mendengar pertanyaan Di.


" Apa kau mau persiapan ini dihentikan?"


Andien menegakkan kepalanya dan menggeleng dengan cepat, Di tersenyum.


" Lalu, apa yang membuatmu selalu termenung akhir - akhir ini?"


Andien menghela nafas berat dan menunduk lagi.


" Ceritakan padaku Ndien... Aku mau kau jujur padaku."


" Mmmh.. i.. iya buk."


Di menunggu Andien untuk bercerita dengan sabar.


" Sa.. Saya.. Saya hanya takut buk."


Di mengernyitkan keningnya,


" Takut pada Andi?"


Andien menggeleng cepat


" Lalu?"


" It.. itu buk.. Saya.. Saya takut kalau pak Andi salah memilih saya untuk jadi istrinya."


Di meraih tangan Andien yang terkepal, tangannya begitu dingin terasa di tangan Di.


" Kenapa kau berpikir seperti itu Ndien?"


Andien kembali menatap Di, dengan wajah menahan air mata


" Ayah saya meninggalkan ibu untuk wanita lain, kata beliau wanita itu adalah cinta pertamanya. Sementara, ayah dan ibu saya hanya menikah karena di jodohkan. Saya takut, suatu hari hal ini akan terjadi pada saya buk..."


Di menatap Andien dengan sedih. Dua anak manusia yang memiliki latar belakang keluarga yang sama, dipertemukan oleh Tuhan.


" Oh Andien... Begitu Tuhan menunjukkan kebesaranNya padaku melalui kau dan Andi. Aku yakin Tuhan akan selalu menjaga cinta kalian."


Giliran Andien yang menatap Di dengan mengernyitkan kening


" Maksud ibuk?"


" Aku beritahu padamu Ndien, Andi juga memiliki ketakutan berumahtangga karena hal yang hampir sama. Ibunya meninggalkan ayahnya yang saat itu sedang sakit, untuk bersama dengan pria lain yang lebih kaya."


" Kalian memiliki trauma yang sama, ketakutan yang sama, maka kalian harus sama - sama meyakinkan kalau kalian akan selalu menjaga cinta kapanpun dan dimanapun."


Andien mengangguk mengerti


" Ujian cinta akan selalu ada, tapi jika kalian saling percaya dan jujur, aku yakin kalian akan mampu melewatinya. Aku sudah melewati banyak hal itu Ndien."


" Apa pak Andi benar - benar menyukai saya ya buk?"


Di tersenyum


" Kau sendiri yang harus menanyakannya, kalian harus bicara dari hati ke hati."


Andien mengangguk, mencari cara untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


*

__ADS_1


Andi mengantarkan Dimas pulang seperti hari - hari biasanya. Namun, sekarang detak jantungnya selalu berdegup lebih kencang setiap memasuki rumah Dimas.


" Halo baby..."


Dimas langsung menemui 3 bayi kecilnya yang sedang bermain di depan TV bersama para baby sitter. Andien dan Andi seketika saling membuang wajah menyembunyikan semburat merah dari wajahnya masing - masing.


" Ak.. Aku langsung pulang Dim."


Dimas yang sedang menggendong Hifza dan Hafiz bersamaan, menoleh pada Andi.


" Tumben... Kau tak tunggu makan malam dulu?"


Andi melotot pada Dimas,


" Lahhhh... Biasanya kan begitu."


" Nggak.. aku mau pulang aja."


Di yang baru keluar dari kamar, langsung melihat Andi yang hendak berjalan keluar


" Mau kemana Ndi?"


Andi kembali berbalik, dan menatap Di


" Pulang katanya sayang."


Andi menoleh pada Dimas yang membantunya menjawab pertanyaan Di.


" Pulang? Kau tak makan dulu?"


" Nah kan... Aku sudah menanyakannya tadi sayang."


" Lalu?"


Dimas mengedikkan bahunya.


Andi jadi merasa bingung melihat pasangan di depannya. Mengajaknya bicara tapi tak membiarkannya untuk bicara.


" Owh... Ya sudah, baguslah kalau dia sudah tak mau lagi makan di sini."


" Andi."


Andi mengurungkan niatnya untuk keluar dari rumah Dimas mendengar Di memanggilnya, lalu menatap Di lagi


" Aku dan Dimas tak tau ukuran jari mu dan Andien. Kau ajaklah Andien membeli cincin pernikahan untuk kalian berdua."


Andi membelalak kaget, Di melotot padanya.


" Kenapa kau melotot padaku?"


Dimas menoleh pada Andi dan menahan tawanya melihat ekspresi Andi


" Aku sudah membantu menguruskan semuanya, apa untuk membeli cincin pun kau tak bisa melakukannya?"


" Bb.. bukan.. Bukan begitu."


" Trus, apa?"


" Ya.. Begini.. Bukan... Begitu.."


" Ahhhh.. payah kau. Andien, cepatlah bersiap- siap. Andi akan mengajakmu mencari cincin."


Andien yang kaget mendengar Di memberikan perintah dengan nada tinggi, dengan cepat berdiri lalu menatap Di.


" Tat.. Tap.. Tapi buk."


" Arrghh.. Kalian sama saja. Membuatku kesal. Zya nanti aku yang pegang. Kau pergilah bersama Andi."


Andien mengangguk dan berjalan cepat ke kamarnya. Di menoleh pada Andi


" Meskipun tanpa pesta meriah, setidaknya jangan biarkan jari manisnya kosong Ndi."


Suara Di mulai pelan dan tertahan, Dimas memberikan the twin pada baby sitter, lalu bangkit mendekati Di. Andi diam tak mau lagi menjawab perkataan Di.


" Kalian harus bicara, jujur, mulailah dari sekarang. Aku sudah mendapatkan banyak keuntungan dari sifat jujur yang di minta oleh suamiku di awal pernikahan kami. Kalian akan bertambah kuat, jika kalian jujur dari awal."

__ADS_1


Dimas mendekatkan tubuhnya pada Di, lalu mengecup puncak kepala Di dengan lembut.


" Menurutlah Ndi, Di hanya ingin kalian bahagia."


Andi mengangguk,


" Lalu kau, apa keinginanmu?"


" Kalau aku sih jujur... aku tidak perduli. Tak ada yang boleh berbahagia selain aku dan Di."


Dimas lalu mengecup pipi Di, Di menepuk bahu Dimas yang tertawa melihat ekspresi Andi yang kesal.


" Aku bercanda botakkk... Keinginanku tentu sama dengan keinginan istriku."


Andien keluar dari kamarnya, dengan baju kemeja pas badan dan celana jeans sebetis. Wajahnya hanya di poles bedak dan lipstik tipis, namun tetap manis dan terlihat segar.


" Sudah Ndien?"


Andien mengangguk mengiyakan pertanyaan Di.


" Saya sudah siap, pak."


Dimas tertawa terbahak - bahak, Di kembali menepuk bahu Dimas untuk memintanya menghentikan tawanya. Andi menatap Andien kesal.


" Kau panggil dia abang Ndien, jangan bapak... Orang - orang bisa berfikir kalau kau adalah anaknya."


Dimas kembali tertawa terbahak - bahak.


" Eh.. iya pak, maaf..."


" Gak pa pa Ndien. Biasakan memanggilnya abang, atau sayang, atau apalah..."


Andien mengangguk pada Di.


" Ya sudah, ayok."


" Iya bb.. ba..bang. Ayok."


Andi tersenyum, kekesalannya seketika hilang. Mereka kemudian berjalan keluar, Andien berjalan mengekori langkah Andi dari belakang, seperti murid SMA yang sedang mengikuti gurunya ke ruang BP.


" Andi... Andi..."


" Ish.. Kau ini Dim."


" Aku belum pernah melihatnya segugup ini menghadapi perempuan sayang..."


" Artinya Andien berbeda."


" Iya juga ya.. Andien memang manis sih."


Di menghadapkan tubuhnya pada Dimas dengan mata membelalak tajam


" Kau ingin jadi Rahwana yang mengambil Shinta dari Rama?"


Dimas tergelak mendengar kalimat yang diucapkan Di, tapi seketika meringis menahan sakit. Di sudah mengejar lengannya dengan mulut dan menggigit lengannya sekuat tenaga


" Sakitttt yankkkk.."


Di melepaskan gigitannya


" Jangan puji wanita manapun di depan ataupun di belakangku."


Dimas mengusap - usap lengannya yang terasa perih, mengangguk perlahan


" Mau ku ikat?"


Di melirikkan matanya pada senjata Dimas, dengan cepat Dimas menggeleng.


" Bagus, persiapkan dia. Aku membutuhkannya malam ini. Kepalaku sudah pusing."


Ucap Di berbisik dan berlalu, mata Dimas berubah mengerling nakal


" 86 komandan."


Dimas melangkah lebar ke kamar, sementara Di mengajak anak - anaknya bermain di taman dekat kolam renang ditemani baby sitter.

__ADS_1


__ADS_2