
Author POV
Flashback on
Rania menghempaskan tubuhnya di sebuah kursi plastik di dalam gedung. Matanya mengitari seisi gedung, diam - diam Rania mengagumi hasil pengaturan dan pemilihannya pada dekorasi gedung. Andi dan Andien tidak akan melupakan momen sakral mereka besok, sampai maut memisahkan.
Di kemudian mengangkat amplop besar yang berada di tangannya, amplop coklat tanpa nama pengirim. Di membuka pelan penutup amplop tersebut sambil mengernyitkan kening
Di mengangkat keluar isi amplop tersebut, lalu terperangah melihat beberapa foto yang berasal dari amplop tersebut. Foto - foto Dimas bersama seorang perempuan cantik yang berpakaian seksi. Nampak jelas di foto - foto itu, perempuan seksi tersebut bergelayut manja pada lengan Dimas. Di semua foto Di melihat wajah Dimasnya sangat letih, diam saja menerima setiap sentuhan yang diberikan perempuan tersebut. Seketika Di menyadari, sudah hampir 2 minggu lamanya Dimas tak di acuhkannya. Jangankan untuk memberikan kepuasan di ranjang, sarapannya saja pun uni yang menyiapkan.
Di dengan cepat memasukkan foto - foto tersebut kembali ke dalam amplop. Matanya berkaca - kaca, seketika merasakan rindu yang teramat sangat pada suaminya. " Ini salahku." ucap Di dalam hati.
Flashback off
" Katakan Dim, siapa dia?"
Dimas dengan cepat berbalik badan menghadap Di, wajahnya benar - benar pucat, tenggorokannya tercekat, dia tak tau bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Di. Dimas lalu bangkit dan duduk menatap Di yang masih berbaring.
" Mma.. maafkan aku Di, aku minta maaf."
" Apa rasanya lebih nikmat daripada aku?"
" Tid.. Tidak.. Kau jangan menebak - nebak. Aku tak pernah melakukan apapun dengannya, aku bahkan tak pernah menyentuhnya."
Di bangkit, lalu duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
" Maafkan aku Dimas, maafkan aku sudah mengacuhkanmu beberapa hari ini."
Air mata Di berlinang membasahi pipinya, Dimas jadi merasa tambah bersalah. Dimas bergerak mendekat pada Di, masih duduk menghadap Di yang duduk menyamping, lurus menghadap TV di depannya.
" Ampun sayang, aku hanya merasa kesepian karna kau mengacuhkanku. Aku minta maaf, tapi aku bersumpah, aku tak melakukan apapun bersamanya."
" Antarkan aku menemuinya."
" Ok, Ok. Aku akan mempertemukanmu dengannya secepatnya."
" Ya sudah, istirahatlah. Kesampingkan dahulu semua masalah ini sampai acara besok selesai."
Di bergerak membaringkan lagi tubuhnya, tubuhnya sangat letih, dan masalah yang sedang dihadapinya dengan Dimas membuat otaknya letih juga. Sebentar saja, Di langsung tertidur.
Dimas memandangi wajah Di, merasa sedih atas semua yang terjadi. Menyalahkan dirinya yang percaya bergitu saja pada Hellen. " Hellen."
Dimas bangkit dan mengambil ponselnya dari atas meja, kemudian mengetikkan sesuatu dan mengirimnya. Dimas kemudian kembali ke ranjang dan merebahkan badan. Di pandanginya wajah Di yang sangat lelah
" Maafkan aku sayang."
Dimas lalu mendekati Di, mencium lembut kening Di, kemudian kembali berbaring dan menutup matanya.
__ADS_1
*
Andi dan Andien duduk berdampingan di pelaminan, wajah mereka merah merona. Di tersenyum melihat pasangan pengantin baru yang sama - sama malu itu. Mama Sandra duduk berdampingan dengan papa Andi di sisi sebelah Andi, sementara mama Di dan mama Ve duduk berdampingan di sisi sebelah Andien. Mereka tak membiarkan Andien merasa sendiri, meski dia tak punya orang tua dan keluarga.
Di mengedarkan pandangannya, tatapannya berhenti pada seorang perempuan yang mengenakan gaun mewah berwarna peach yang baru masuk melewati pintu gedung. Matanya mencari seseorang di tengah keramaian tamu pernikahan, kemudian dia memasang senyuman dan melangkah anggun mendekati seseorang, Dimas.
Perempuan itu bergelayut manja di lengan Dimas, Azi yang sedang duduk bersama Dimas menatapnya dengan sinis. Dimas seketika risih dengan sikap perempuan tersebut, mencoba melapaskan diri darinya. Sementara Azi, dia langsung bangkit dan berlalu meninggalkan Dimas bersama perempuan itu.
Di bangkit dan melangkah mendekat pada Dimas, hatinya seketika panas melihat pemandangan itu.
" Yankkk.. "
Dimas berbalik badan dan menatap Di. Di langsung merengkuh lengan Dimas yang kosong, lalu berdiri berhadapan dan mencium bibir Dimas. Hellen dengan cepat melepaskan pegangannya dari tangan Dimas, membuang muka ke arah lain.
" Ehemmm."
Di dan Dimas melepaskan ciuman mereka. Di langsung menoleh pada Hellen yang berdiri di sampingnya, sementara Dimas masih menatap wajah Di dengan rasa rindu yang bergelora.
" Kau mengundang temanmu sayang?"
" Nggak Di."
" Lalu, apa dia teman Andi?"
Dimas mengedikkan bahu, masih menatap wajah Di. Hellen melotot pada Dimas
" Kau lapar sayang?"
" Kita belum pernah bercinta di tengah pesta, kau mau coba sayang?"
Dimas mengangguk, berharap Di memang serius akan melakukan kegilaan itu
" Kalian menjijikkan."
Dimas dan Di seketika menoleh pada Hellen.
" Karena itulah dia tak mau membalas sentuhanmu, dia hanya melakukan hal yang menjijikkan pada istrinya, yaitu aku."
" Daripada harus melakukan hal menjijikkan dengan wanita lain yang jauh lebih menjijikkan, lebih aman dengan istrinya yang hanya memperuntukkan miliknya buat dia seorang."
Hellen melotot pada Di
" Kau tidak tau saja apa yang sudah terjadi antara kami."
Hellen tersenyum sinis
" Oh ya, apa lagi yang kau lakukan bersamanya sayang?"
__ADS_1
Dimas menatap tajam pada Hellen, wanita itu mengerling nakal pada Dimas
" Yahh.. Sudahlah. Suamiku mungkin butuh variasi, setidaknya dia tau kemana dia akan pulang, siapa tujuan hidupnya."
" Aku tidak pernah memasukkan senjataku ke tempat yang bukan seharusnya dia berada. Senjataku tak pernah bisa bangun kalau tidak bersama pemiliknya. Apa kau sedang berhalusinasi Hellen?"
" Kau lupa Dim?
" Karna kau bukan sesuatu untuk diingat."
Hellen menoleh pada Di.
" Kami sudah melakukan hubungan, berkali - kali. Aku sudah membuatnya lemas berkali - kali, kau tau itu?"
Di menatap tajam pada Hellen
" Berapa kali?"
" Yahhh... 3 sampai 4 kali."
Hellen tertawa menang, merasa kebohongannya dipercayai oleh Di.
" Dimasku mampu melakukannya 6 sampai 7 kali bersamaku dalam satu malam, dan dia tak pernah merasa letih. Pantas saja dia melupakanmu, kau tak mampu mengimbanginya."
" Terimakasih atas foto - foto yang kau kirimkan, hasratnya semakin panas semalaman. Dan aku lah tempat yang dia cari untuk melepaskannya."
" Tak sekalipun dia menyebut namamu dalam igauannya, padahal kau sudah menemaninya beberapa hari ini. Artinya, tak ada yang spesial untuk diingat tentangmu."
Hellen menatap wajah Di dengan tajam, penuh kemarahan.
" Jangan pernah main - main sama suami orang, karena kau hanya akan di jadikan tempat sampah olehnya, tempat pembuangan kotoran."
" Kau.."
Hellen mengepalkan tangannya
" Kau tidak malu ribut di sini, semua orang di sini mengenalku sebagai istri Dimas Arya. Apa kau ingin menambah hinaan lagi untuk dirimu sendiri?"
Hellen memindahkan tatapannya pada Dimas yang sedang melotot marah padanya.
" Urusan kita belum selesai Dimas."
" Kita tidak pernah memulai urusan apapun, pulanglah ke pelukan suamimu. Dia membutuhkanmu."
Hellen mengumpat kasar lalu berbalik pergi meninggalkan Dimas dan Di.
" Api akan membakar kita Dim."
__ADS_1
Dimas menunduk menyesal
" Kita harus waspada, aku tak mau satupun keluargaku terluka."