
*
" Dimas." aku menghentikan langkah mendengar panggilan mama, berjalan mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
" ya, Nya..." kataku bercanda. Satu tepukan mendarat di pahaku.
" aduh, sakit ma..." kataku sambil mengusap - usap pahaku yang perih.
" Radit meminta 5 toko yang menurutnya adalah haknya." mama mulai menyampaikan tujuannya memanggilku.
" lima? darimana datangnya, enak saja dia." kataku kesal.
" Lusa dia mau datang, aku mau kau pergi bawa Di berlibur." perintah mama, " aku gak mau masalah Vena dulu terjadi lagi." tambahnya.
Vena... Hatiku langsung berdesir mengingat namanya, semoga kau tenang sayang... meskipun dia masih bebas berkeliaran sampai saat ini. Hufft...
" Aku ke kamar ma..." kataku lalu berlalu menuju kamarku. Wajah dan kenangan Vena berseliweran di otakku, perasaan bersalah itu muncul lagi. ahhhh
Di sedang sibuk membaca sesuatu ketika aku masuk ke dalam kamar, dia melirikku sebentar lalu kembali pada apa yang dibacanya. Aku melangkah menuju tempat tidur, naik dan diam berbaring menatap langit - langit kamar.
" Dim..."
" Dimas..."
Aku terkejut merasakan sentuhan tangan Di di pipiku, aku sama sekali tak menyadari gerakannya mendekatiku.
" Kau mengacuhkanku Dim..." katanya merengut lucu. Ahhh... Vena sudah membuatku melupakan kehadirannya.
" Maaf sayang... maaf... kenapa sayang?" tanyaku merasa bersalah.
" Kamu yang kenapa, apa yang kau fikirkan?" tanyanya lembut. Aku menghembus pelan nafasku, menjauhkan bayangan Vena dari otakku. Ku ambil tangannya dan meletakkannya di dada.
__ADS_1
" Gak ada sayang, cuma masalah pekerjaan aja koq." kataku berbohong.
**
Dirgana
Aku tahu kau berbohong sayang... matamu kesana kemari seperti mencari sesuatu,
" Kamu mau bilang apa sayang?" tanyanya lagi.
" Aku mau meminta sesuatu, boleh?" kataku, Dimas menatapku bingung, lalu tersenyum
" Tergantung permintaannya, kalau aku sanggup maka aku akan berikan." jawabnya dengan wajah lucu.
"katakan." sambungnya.
" Hmmm... Aku... Aku mau kerja boleh?" pintaku pelan.
" dengar aku dulu..." kataku, dia menggeleng lalu menarik tubuhku naik ke tempat tidur dan memelukku.
" kerjamu adalah membahagiakan aku dan anak - anak, menjaga kami dan yang utama memuaskan aku." dia langsung membuka bajunya, mencumbuiku, menanggalkan satu persatu pakaianku, menciumi wajah dan tubuhku, aku memakan pancingannya dan mulai melayaninya.
***
" Kau mau pergi sayang?" tanyaku bingung, melihat beberapa tas di dekat meja rias. Rasanya semalam Dimas tidak bicara apa - apa soal keluar kota.
" Kita, bukan hanya aku." jawabnya santai, datang mendekat dan memeluk tubuhku dari belakang.
" Kita, anak - anak bagaimana?" tanyaku lagi.
" Aku sudah izin pada kedua Nyonya besar dan 2 malaikat kita, mereka mengizinkan." jawabnya.
__ADS_1
" Kenapa mendadak sih." tanyaku,
Dimas
Aku tidak mungkin membicarakannya sekarang, " aku mohon jangan banyak tanya sayang.." pintaku dalam hati.
" Ayolah sayang... aku sudah mengatur semuanya..." pintaku sedikit merajuk, dia diam... sebentar, lalu
" Iya.. iya, aku siap - siap dulu." katanya kemudian, aku menghembuskan nafasku pelan... lega...
" Aku tunggu di bawah, 1 jam y..." kataku, lalu pergi kebawah menemui mama,
brakkk
Aku terkejut dan melihat ke pintu, asal suara.
" Tuan.. maaf tuan... saya sudah melarang, tapi beliau memaksa." seorang laki - laki berdiri sombong di belakang satpam yang sedang menjelaskan dengan takut. Mama keluar dari kamarnya dan berdiri di sampingku, kami berdua menatap laki - laki sombong itu dengan jijik. Aku langsung meminta satpam kembali ke tempatnya bekerja.
Dia masuk dengan gaya sombongnya bersama seorang wanita yang usianya sedikit lebih muda dari mama, mereka berdiri angkuh menghadap aku dan mama.
" Apa kabar kak... ma..." tanyanya berbasa basi.
Dirgana
Ok, siap... Aku mengambil tas yang sudah aku persiapkan dari tadi, lalu berlalu keluar kamar. Aku mendengar ada perdebatan dari bawah, dan mengenali salah satu suara yang sudah lama sekali tidak aku dengar, tapi aku hafal dengan jelas suaranya. Aku melihat ke bawah, sialnya aku tidak bisa melihat siapa yang sedang berdebat dengan mama. Dimas hanya diam berdiri menatap ke depan, tempat lawan bicaranya berada. Perlahan aku langkahkan kakiku menuruni anak tangga satu persatu dalam ketakutan dan penasaran. Aku melihat para asisten rumah tangga berkumpul mencuri dengar apa yang terjadi dari balik dinding pemisah ruangan tamu dengan ruang makan. Aku terus berjalan, ingin memastikan apakah benar itu dia, sosoknya tertutup oleh tubuh semampai Dimas, aku belum bisa melihatnya dengan jelas. Aku menggeser langkahku sedikit ke kanan, dan...
" Radit..."
Dimas terkejut dengan kehadiranku, mama juga. Laki - laki yang ku panggil Radit, mengerjapkan matanya ke arahku, berulang kali mengucek matanya untuk memastikan kalau itu benar aku.
" Di, itu kau Dirgana?"tanyanya
__ADS_1
Dimas memindahkan tatapannya cepat ke arah Radit, sebentar lalu menatap ku lagi, dia bingung, aku berjalan perlahan mendekati Dimas dan menyembunyikan tubuhku di dekatnya, menggenggam erat tangan Dimas yang hanya diam menatapku, " jangan tanyakan sekarang Dimas, aku mohon... pegang tanganku." pintaku dalam hati, tapi Dimas tetap diam mematung.