
" Serakah." jawabku pendek. Aku mengalihkan pandanganku kembali ke pemandangan indah di depanku.
" Tidak ada alasan ataupun pembenaran untuk kata selingkuh, itu hanya dilakukan oleh orang - orang yang serakah menurutku." sambungku.
Aku tahu Dimas bingung dengan jawabanku, atau bingung dengan caraku yang penuh emosi menjelaskan jawaban.
" Jadi, uni diselingkuhi?" aku kembali menghadapkan wajahku ke arahnya. Aku melihat senyuman mengejek di sana.
" Bisa berhenti panggil aku uni?" kataku kesal. Dia mengubah mimik mukanya, tapi malah semakin menyebalkan buatku.
" Jadi, mau aku panggil apa? Sayang?" tanyanya mengejek. Aku membesarkan bola mataku dan dia tertawa melihat ekspresi ku itu.
" OK, sorry." katanya kemudian. " Aku setuju dengan pendapatmu." sambungnya pelan.
" Jadi, tadi itu karena perselingkuhan?" tanyaku balik.
__ADS_1
Dimas diam, lalu mengangguk.
" Bodoh." Dimas cepat memindahkan pandangannya padaku. Menatapku lekat, aku tahu dia tersinggung.
" Kau rela dipukuli, babak belur terluka hanya karena di selingkuhi?" aku melanjutkan kata - kataku. " Kau masih beruntung Dimas... Kau diselingkuhi sementara kau belum menikahinya. Tuhan sedang menunjukkan padamu kalau dia bukan yang terbaik untukmu. Kau belum tahu rasanya diselingkuhi dalam pernikahan, mau didiamkan sakit hati, marah - marah malah tak ada arti, mau pergi tapi tak berani." Sambungku panjang lebar.
" Apa yang kau lakukan ketika kau di selingkuhi?" tanyanya lagi.
" Diam, diam, lagi - lagi diam, dan akhirnya pergi." jawabku. " Karena terlalu mencintai ikatan suci, memberi kesempatan berkali - kali, tapi lama - lama aku merasa ikatan itu tak lagi suci, makanya aku lebih memilih pergi." aku menghembuskan napasku berat. Mengingatnya saja malah membuatku sangat merindukannya, padahal di dekatnya aku tersiksa.
" Aku mencintainya Dim... Sangat menyayanginya, aku sendiri tak pernah dapatkan jawaban, kenapa dia setega itu berkali - kali mengkhianati aku." aku kembali menceracau. Dimas melepaskan tangannya dari pipiku, memelukku erat, memberikan tempat dibahunya untuk menangis. Aku menangis sepuas - puasnya disana, sementara Dimas memberikan belaian lembut di kepalaku, berusaha menenangkan aku. Lama kami saling berpelukan, seperti sedang saling menguatkan.
" Aku ngantuk Dim." kataku kemudian. Dimas melepaskan pelukannya pelan.
" Kau sudah tenang?" tanyanya memastikan. Aku tersenyum dan hanya menjawab lewat senyuman.
__ADS_1
" Aku antar kau ke kamar." Dimas berdiri dan memberikan tangannya untuk membantuku berdiri. Aku menyambut uluran tangannya dan bangkit. Kami berjalan bersisian tanpa melepaskan tangan.
" Tidurlah di kamar ini, kamarku di sebelah kalau kau perlu sesuatu." katanya. Aku mengangguk dan melepaskan pegangan tangannya pelan.
" Terimakasih Dim." kataku sebelum masuk dan menutup pintu kamar. Dimas hanya membalas ucapanku dengan senyuman.
**
Dimas
Dia tak sekuat penampakannya, terlalu rapuh ternyata. Entah kenapa aku jadi ingin melindunginya, aku benar - benar lupa kalau aku juga sedang terluka. " Di..." aku tersentak, kenapa tiba - tiba aku menyebut namanya. Ahh... aku mencoba mengabaikan perasaanku, memaksa untuk tidur, tapi hatiku resah. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar menuju dapur. Aku menatap pintu kamar tempat Di beristirahat, dan berjalan melewatinya. Baru beberapa langkah, sayup aku mendengar suara isak dari dalam kamar. Tidak, dia belum tenang, aku sudah menggiringnya ke rasa rindu pada masa lalunya. Aku memegang handle pintu dan menekannya ke bawah dengan pelan. Pintu terbuka, suara isakan itu tambah jelas. Benar saja, dia kembali menangis.
Aku masuk ke kamar dan menutup pintunya pelan. Di melengkungkan tubuhnya diatas kasur, menutup kepalanya demgan bantal. Dia pikir bantal itu dapat meredam suara tangisnya. Aku berjalan mendekati tempat tidurnya dan naik mendekatinya. Di kaget menyadari kehadiranku, dia cepat membalikkan tubuhnya dan kembali menghambur di pelukanku begitu dia sadar kalau aku yang mendekatinya. Aku memeluknya erat, membiarkannya melepaskan tangis dalam pelukanku.
" Sudah Di, tenang ya..." kataku membujuknya. Dia menganggukkan kepalanya pelan. Perlahan suara tangisnya menghilang, dia menekan wajahnya di bahuku, lalu mengangkat kepalanya perlahan. Menghadapkan wajahnya kepadaku, wajah kami sangat dekat sekarang. Mataku tertuju pada bibirnya yang berisi, aku mendekatkan wajahku padanya, dia diam tak bergeming, malah membuka sedikit bibirnya, menambah keinginanku untuk merasakan manis bibirnya. Aku mendekatkan bibirku, dan ******* bibirnya pelan. Dia menutup mata, perlahan membalas ciumanku, lalu kemudian mendominasi permainan lidah. Aku benar - benar terangsang dengan caranya membalas ciumanku, taoi aku tak boleh lakukan hal yang lebih jauh, aku tak mau menyakitinya. Perlahan aku memperlambat gerakan lidahku, lalu melepaskan ciuman itu. Di membuka matanya, menatap mataku. Aku merapatkan dahiku dengan dahinya, nafasku memburu menahan nafsu, aku menutup mataku dan...
__ADS_1
" Menikahlah denganku Di."