Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
ANAKKU YA ANAKKU


__ADS_3

Author POV


Dimas dan Di ikut menonton Azi latihan sore ini. Tak ada yang menyadari kehadiran mereka, begitupun juga Azi. Dimas nampak tersenyum melihat kelihaian Azi di lapangan. Azi bukan di posisi striker dalam permainan, dia diletakkan sebagai gelandang. Beberapa kali dia memberi umpan bagus untuk diteruskan oleh striker ke gawang dan berhasil. Tubuhnya dengan gesit meliuk kesana kemari untuk merebut, menggiring bola lalu mengumpankannya pada sang striker dan gol. Dimas sesekali berteriak dari dalam mobil untuk memberikan instruksi, seperti seorang pelatih. Zya yang duduk di pangkuannya berkali - kali pula terperanjat mendengar Dimas berteriak. Sementara Di hanya diam dan fokus menonton jagoannya beraksi.


" Kita turun."


Dimas menggendong Zya di tangannya, turun dari mobil dan melangkah mendekat ke pinggir lapangan. Di mengikuti langkahnya dari belakang.


Puja puji dari sang pelatih untuk sang striker terdengar jelas dari tempat berdiri Dimas dan Di beserta beberapa orang tua yang ikut menunggui anak - anaknya berlatih. Kening Dimas mengernyit begitu mendengar pengaturan formasi yang akan mereka gunakan untuk turnamen minggu depan. Azi hanya diletakkan di posisi pemain cadangan saja, anak itu menunduk sedih. Merasa segala usahanya tak pernah berhasil untuk mengambil hati pelatihnya.


" Selamat sore pak."


Dimas dan Di menoleh pada seorang perempuan yang menyapa Dimas, kemudian tersenyum ramah pada si penyapa.


" Tumben bapak dan ibu hari ini ikut menonton anak - anak latihan."


Dimas menyunggingkan senyumannya sebentar


" Iya, saya mau lihat langsung perkembangan anak saya selama latihan di sini."


" Owh.. Dia bagus kan ya pak."


Dimas mengangguk bangga


" Tapi sayang, selalu duduk di bangku cadangan."


" Owh ya? Kenapa seperti itu?"


si penanya tertawa sebelum menjelaskan pernyataannya


" Bapak atau ibuk sih gak pernah datang menonton anak latihan. Pelatihnya jadi gak tau Azi itu anak siapa."


" Urusannya apa, kemampuannya bermain sepakbola dengan dia yang anak siapa?"


" Di sini kan memang begitu pak... Kalau orangtua gak dekat sama pelatih, anak kita gak akan dianggap ada. Saya juga baru beberapa bulan juga rajin ke sini menemani anak saya, tapi karena memang kemampuan anak saya belum sebagus anak bapak, saya rasa wajar saja anak saya tidak pernah diikutsertakan turnamen."


" Tapi, anak bapak beda. Beberapa kali saya lihat dia menunduk kecewa seperti itu. Bahkan anak saya, Rio.. Itu yang pakai baju nomor 19, merasa kasihan padanya."


Seperti ada sebuah palu besar milik thor menghantam dada Dimas dan Di bersamaan. Ini rupanya yang membuat Azi berubah beberapa bulan terakhir. Bahkan sampai berani melawan pada Di. Ada kekecewaan yang tak berani dia ungkapkan, karena dia takut papa dan mamanya kecewa.


" Terimakasih informasinya bu."


Di mengepalkan tangannya, tidak terima pada perlakuan si pelatih pada anaknya.


" Azii!! Sini nak."


Dimas langsung memanggil Azi, sesaat setelah melihat sesi latihannya selesai. Wajah Azi yang semula kecewa, berubah bahagia melihat kehadiran papa dan mamanya. Azi berlari cepat ke arah Dimas dan Di yang menunggunya di pinggir lapangan, lalu cepat menghambur memeluk Di. Dimas mengacak - acak rambut Azi dan memberikan pujian untuk permainannya.

__ADS_1


Pelatih sepakbola yang berjalan di belakang Azi saat Azi berlari menyambut kedatangan kedua orangtuanya, datang menghampiri Dimas dan Di, dengan wajah yang dipasang sewibawa mungkin.


" Wadduh.. Senang sekali papa dan mama akhirnya bisa melihat Azi latihan."


Azi yang berada di pelukan Di berbalik badan menghadap si pelatih. Di menatap si pelatih dengan perasaan kesal, namun Dimas tetap memasang senyuman wajar agar tampak sopan.


" Bagaimana perkembangan Azi pak? Apa mainnya bagus?"


Dimas berbasa basi bertanya


" Bagus... Jauh lebih bagus dibandingkan di awal - awal masuk dulu. Cukup banyak perkembangannya."


jawabnya dengan senyuman terpasang bak seorang penjilat yang berpura - pura baik demi mencapai tujuannya.


" Baguslah kalau begitu. Saya juga percaya pada kemampuannya, makanya saya tidak pernah menemaninya. Paling hanya mendengarkan ceritanya saja setiba dia di rumah."


" Iya.. Bahkan sudah beberapa kali dia ikut turnamen. Tapi bapak atau ibu tidak pernah nampak menemani."


" Oh ya? Wadduh... Azi gak pernah kasih tau kami kalau dia diikutsertakan dalam turnamen. Kenapa nak?"


Dimas menatap Azi, memintanya menjawab seadanya


" Azi gak pernah masuk lapangan, ngapain kasih tau mama dan papa."


Pelatih itu seketika terdiam, senyumannya langsung menghilang.


" Ikut turnamen tapi gak masuk ke lapangan, jadi kamu ngapain aja?"


" Iya.. Kebetulan pemain inti kondisinya pada fit pak. Mereka sanggup bermain selama 90 menit."


" Owh... Maksud bapak pelatih, Azi hanya duduk di bangku cadangan?"


" I.. Iy.. Iya pak.. Kami punya banyak bibit pemain bagus di sini, jadi semuanya harus bermain secara bergantian."


" Duduk di bangku cadangan selama 90 menit setiap turnamen, kapan bergantiannya?"


Pelatih tersebut sepertinya kehilangan kata - kata untuk menjelaskan, dia hanya diam tak dapat menemukan jawaban.


" Ya sudah pak.. tidak masalah. Mungkin Azi belum cukup pantas diturunkan. Meskipun saya lihat tadi dia main sangat bagus."


" Kami datang juga sekalian ingin menyampaikan terimakasih atas ilmu yang bapak berikan pada Azi selama ini."


Pelatih tersebut kembali merasa di atas angin, wajah sombong yang tadi hampir dia buang, kini terpasang kembali.


" Sama - sama pak. Saya memang melatih anak - anak didik saya cukup keras, makanya anak - anak yang latihan di sini mainnya bagus - bagus semua. Saya juga jadi sering bingung dalam memilih pemain, sangking banyaknya yang bagus."


Dimas mengangguk - anggukkan kepalanya dan tersenyum.

__ADS_1


" Iya, saya percaya itu. Karena itulah pak, saya berniat memindahkan Azi ke tempat latihan lain. Agar dia bisa ikut masuk ke lapangan, tidak hanya duduk di kursi pemain saja."


" Maksud bapak?"


pelatih tersebut menatap Dimas sambil mengernyitkan keningnya


" Iya, Azi dapat tawaran latihan di SSB lain. Dia baru menyampaikannya pada kami tadi pagi. Jadi, hari ini adalah latihan terakhirnya di sini."


" Azi, ucapkan terimakasih pada pelatihmu ini nak. Bagaimanapun, beliau sudah sangat baik melatihmu."


" Waduh pak.. maaf sebelumnya. Tapi, kami butuh Azi untuk turnamen besok pak. Tidak bisakah menunggu sampai selesai turnamen besok?"


" Kalau hanya untuk duduk di bangku cadangan selama 90 menit, saya rasa banyak yang akan bisa menggantikan Azi pak pelatih. Tapi, saya akan menyerahkan keputusan pada Azi. Bagaimana Zi? Masih mau duduk di bangku cadangan untuk besok?"


Azi dengan cepat menggelengkan kepalanya.


" Tapi Zi..."


" Anak saya sudah buat keputusan pak, maaf. Bagaimanapun saya harus mendengarkan keputusannya, saya ayahnya."


" Oh iya, saya belum perkenalkan diri sebelumnya."


Dimas mengulurkan tangan kepada sang pelatih, kemudian disambut oleh uluran tangan si pelatih.


" Saya Dimas Arya dan ini anak saya, Muhammad Alfaridzi Arya."


Di dan Azi menoleh pada Dimas, menatapnya bingung dengan tambahan nama Arya di belakang nama Azi.


" Astaga... Ya Tuhan.. Pak, saya minta maaf."


Pelatih tersebut kaget dan membelalakkan mata tak percaya. Dimas Arya adalah donatur tetap di SSB tempat dia berlatih. Secara tidak langsung, ada uang Dimas Arya mengalir dalam gajinya selama ini.


" Gak pa pa pak.. Tenang saja. Saya akan tetap jadi donatur di SSB ini, semoga ke depannya bisa mengutamakan skill anak dibandingkan nama bapaknya."


" Saya ingin anak saya diterima karena kemampuannya, bukan karena donasi saya. Dan anak saya sudah membuktikannya, meski tidak dapat diterima dengan baik di sini."


" Saya fikir Daniel Firstly Arya itu anak bapak.. Maaf bapak, saya tidak tau."


" Kasihan anak itu, dia terpilih masuk di tim inti hanya karena ada Arya di namanya. Semoga skillnya sesuai dengan apa yang dibutuhkan di klub ini."


" Baiklah pak, saya permisi dulu. Terimakasih sudah membimbing anak saya selama ini."


Dimas mengajak Di dan Azi untuk segera pergi meninggalkan si pelatih yang masih terdiam menyesal. Dimas memindahkan Zya ke dalam gendongan Di, sementara dia berjalan bersisian dengan Azi.


" Terimakasih pa.."


" Sama - sama nak. Besok papa antarkan Azi ke tempat latihan baru yang Azi mau. Ingat, jangan kecewakan papa."

__ADS_1


" Azi janji pa."


Dimas menepuk - nepuk pelan bahu Azi, mereka tersenyum bersama.


__ADS_2