Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
SAH KEDUA


__ADS_3

*


Kami sedang bersiap - siap untuk pulang, tiba - tiba HPku berbunyi. Aku menjawab telpon dengan cepat setelah melihat kata " mama " tertera di layar.


" Halo ma, ada apa ma?" tanyaku cepat, aku takut sekali terjadi apa - apa pada beliau.


" Tadi ada tamu datang." jawab mama


" Siapa?" tanyaku bingung.


" Perempuan seusia mama, tapi lebih cantik. Naik mobil bagus, baju sama tasnya bagus kali Di, mama yakin itu mahal." aku tersenyum mendengar penjelasan mama yang detail.


" Oh, katanya mama si Dimas." aku kaget mendengar penjelasan mama yang ini. " Kamu pacaran sama si Dimas pemilik toko emas itu? Kenapa kamu gak cerita ke mama." sambungnya. Wajahku pucat, aku pasti diserang banyak pertanyaan nanti.


" Dia melamar kamu untuk si Dimas Di!!" mataku membesar, Dimas sama sekali tidak memberitahuku, aku meliriknya yang masih sibuk makan bersama anak - anak.


" Mama akan punya menantu toke emas!!! Mama iyakan aja, mama suka sama Dimas." lanjutnya lagi. Aku menunduk mendengar cerita mama.


" Iya ma, nanti kita bicara di rumah ya ma." kataku memotong pembicaraan.


Aku berdiri dan mulai menata barang - barang yang akan di bawa pulang ke dalam mobil. Begitu mereka selesai makan, kami pergi meninggalkan pantai. Aku membuang pandangan ke jendela di sampingku dan lebih banyak diam ketika berada di mobil. Sudah sebulan saja ternyata, seperti janjinya kemarin. Dimas memegang lembut tanganku, tanpa mengubah pandangannya yang fokus ke jalan. Aku diam menikmati hangat sentuhannya ditanganku. Anak - anak tertidur di bangku belakang, mereka pasti sangat letih hari ini, tapi mereka bahagia.


" Aku pulang ya." katanya sebelum menyalakan mesin mobilnya. Satu persatu anakku di gendongnya ke dalam kamar tadi, mama lebih banyak senyum dan mulai mengganti nama Dimas menjadi " nak." hufft... mama... mama...


Dimas sudah pulang, aku tahu dia juga letih, tapi entah kenapa aku sangat ingin memeluknya. Seharian waktu kami habis untuk anak - anak, mengesampingkan perasaan kami masing - masing. Sebelum mama memberikan banyak pertanyaan padaku, aku cepat mengambil kunci motor dan berpamitan, " keluar sebentar ma." kataku. Beliau merengut kesal padaku.


Aku langsung masuk ke kamar Dimas begitu sampai di rumah mewah ini. Suara air dari dalam kamar mandi lagi - lagi menyambut kedatanganku. Aku langsung mencarinya di sana, nampak jelas Dimas sedang membasuh tubuhnya yang telanjang membelakangi pintu, seperti biasa. Aku masuk tanpa membuka baju dan memeluknya dari belakang. Dimas melonjak kaget, berbalik menghadapku dan membalas pelukanku. Kami diam berpelukan di bawah shower, sekujur tubuh kami sudah basah kuyup, tapi kami tak mengacuhkan.


" Kenapa sayang?" tanyanya dengan lembut.

__ADS_1


" Aku mencintaimu Dim... aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu." jawabku tanpa melepaskan pelukan. Dimas mengencangkan pelukannya dan mengecup puncak kepalaku.


" Aku tahu sayang, aku juga mencintaimu." jawabnya.


Dimas kemudian melucuti pakaianku satu persatu, lalu mengangkatku keluar menuju tempat tidur, tanpa mengeringkan tubuh terlebih dahulu, bahkan shower pun masih menyala, kami menyatu. Bermain pelan dan lembut, menikmati setiap gerakan dan erangan, sampai akhirnya lepas. Dimas mengecup keningku, lalu menjatuhkan tubuhnya disampingku, menaikkan selimut untuk menutupi tubuh kami, lalu memelukku sampai kami sama - sama tertidur.


**


" Minggu depan aku akan kembali menikahimu Di."


aku diam tak terkejut karena mama sudah bercerita sedikit lewat telpon tadi.


" Kenapa kau diam Di, kau tak berubah pikiran kan?" tanyanya bingung.


" Aku sudah tahu Dimas, mama sudah cerita kalau tadi mama Sandra datang dan melamarku untukmu." jawabku.


***


Dimas


Aku tak melihat ekspresi bahagia diwajahnya mendengar berita yang aku sampaikan. Ketakutan tiba - tiba menyergap hatiku, apa dia berubah pikiran?


" lalu?" kataku menanggapi kalimatnya.


" Sudah sebulan saja aku menjadi istrimu Dim, waktu cepat berlalu." jawabnya.


" Kau tidak bahagia denganku Di?" tanyaku ragu. Dia cepat merapikan pakaiannya, lalu mendatangiku. Duduk berlutut menghadapku yang sedang duduk di sofa. Memandangiku dan tersenyum


" Aku malah tidak pernah sebahagia sekarang yank... aku bahagia, kau tahu aku sangat bahagia denganmu." Dia memelukku dari tempatnya duduk, memeluk perutku lebih tepatnya.

__ADS_1


" Tapi ekspresimu biasa saja sayang... aku jadi takut kalau kau berubah pikiran." kataku.


" Aku hanya letih Dimas... Aku bahagia dan aku sudah sangat siap menjadi istrimu, tidak seperti kemarin waktu aku terpaksa menikah denganmu." jawabnya.


" Jadi dulu itu kau terpaksa?" kataku.


" Bukankah kau bilang kalau kau sudah mencintaiku saat itu?" tambahku lagi.


" Aku jatuh hati padamu justru ketika melihat kau sedang terbaring lemah di RS. Tapi aku menolak rasa itu, kau tahu alasannya Dimas, kenapa aku menolak jatuh hati atau bahkan jatuh cinta lagi." jelasnya.


" Tapi malam itu kau bilang kau merindukan mantan suamimu, iya kan?" tanyaku lagi


" Apa kita akan terus membahas hal tak penting ini Dim? Aku letih, aku menyayangimu, apakah itu tidak cukup?" tanyanya kesal.


Aku cepat memeluknya, menetralisir perasaannya agar tak kacau. Banyak hal yang masih ingin aku ketahui, siapa nama mantan suaminya, siapa sahabat - sahabat dan teman - temannya, kenapa Di tidak pernah membicarakan mereka padaku. Tapi, rasanya itu bukan hal yang penting saat ini. Aku harus fokus pada pernikahan kami minggu depan.


****


Sudah hampir setengah jam aku berada disini, ditemani satu orang laki - laki paruh baya yang duduk tenang di depanku dan 2 orang laki - laki, yang salah satunya adalah Andi, di sebelah kanan dan kiriku. Hari ini lebih menegangkan dari pada sebulan lalu saat aku menikahinya. Keluarga besarku juga sudah hadir, mereka berkumpul dan bercerita panjang lebar di belakangku. Sudah seperti reuni keluarga,


" Sudah siap nak Dimas?" tanya petugas pernikahan tadi.


" Sudah pak." jawabku mantap.


" Kau termasuk orang yang sabar ya, santai sekali menanti kehadiran calon istrimu, padahal sudah cukup lama. Bagus itu anak muda, laki - laki memang harus sabar menghadapi wanitanya." pesan beliau singkat. Beliau tidak tahu saja kalau yang aku tunggu ini sudah bukan calon lagi, tapi sudah istriku.


Mama Di keluar dari sebuah ruangan diikuti beberapa wanita di belakangnya, semua mata tertuju pada kehadiran mereka, lalu... " Di..." aku terkesiap melihat penampilan Di yang sangat berbeda. Dengan kebaya putih gading senada dengan setelan jas yang aku kenakan, mengenakan hijab dan riasan tebal berwarna lembut di wajahnya. Aku tak tahu kalau Di bisa secantik hari ini. Dia menunduk dan melangkah pelan menuju kursi di sebelahku, aku berdiri menyambut kedatangannya, masih terpesona dengan penampilannya hari ini, mengulurkan tanganku padanya untuk membantunya melangkah dan disambutnya dengan pegangan sangat erat. Di duduk dengan anggun di kursinya, aku cepat mengalihkan pandangan ke bapak yang akan menikahkan kami, beliau tersenyum melihat apa yang aku lakukan barusan untuk Di, acara dimulai.


" Sah..." mengalirlah doa - doa yang di aminkan oleh semua yang hadir. Aku merasa sangat bahagia hari ini, tak perlu lagi sembunyi - sembunyi pada mama Di dan anak - anaknya. Azi dan Iza lalu datang menghampiri dan memeluk mamanya, lalu mengambil dan mencium punggung tanganku, aku menarik mereka berdua ke dalam pelukan, " akulah sekarang ayahmu nak..." kataku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2