
*
" Bubar.. bubar... malam mingguan lagi..." satu persatu teman - teman ngojekku yang semuanya berjenis kelamin laki - laki, langsung bersiap - siap untuk pergi sambil tertawa mengejekku.
" Gi dah... Biar makin sedikit persaingan. Ya nggak om?" kataku meminta persetujuan pada 2 orang laki - laki yang usianya jauh lebih tua dariku. Mereka tertawa menanggapi kata - kataku.
" Kakak gak malam mingguan?" ejek salah satu dari mereka.
" Malam mingguanlah... kalian gak boleh kayak gitu." jawab satu lainnya. Aku mendelik ke arahnya.
" Neh... sama om - om..." sontak kami tertawa terbahak - bahak bersamaan. Bener juga sih, kan tinggal aku dan kedua laki - laki yang aku panggil " om ".
" Kurang ajar." kataku. Kemudian, satu persatu cabut dari tempat kumpul yang kami sebut " basecamp".
Hampir sejam aku menunggu orderan, lama - lama bosan. Aku memutuskan cari orderan sambil jalan pulang saja. Aku pamit pada kedua om tadi, dan langsung membelah jalanan.
Aku ajak ban motorku menapaki aspal jalanan kota, masih ramai tapi gak ada orderan yang masuk. Aku masuk ke pusat hiburan, tiba - tiba aku melihat kerumunan orang - orang di parkiran di depan salah satu tempat hiburan. Aku mengarahkan motorku ke sana, mencari tahu apa yang sedang terjadi. Sekelebat aku melihat seseorang yang aku kenal berada di tengah kerumunan tersebut, aku cepat mematikan mesin motorku dan berjalan mendekati kerumunan. Astaga... ada orang berkelahi, bukannya dilerai, mereka malah hanya menonton dan lagi - lagi mengabadikan.
" Dimas" aku mengucapkan nama salah seorang yang terlibat perkelahian itu, lalu
" Dimas!!" aku menyeruak masuk ke dalam kerumunan
__ADS_1
" Dimas... Berhenti... berhenti!!" aku berteriak kencang. Semua orang memandangiku, beberapa orang yang tadi memukuli dan menendang Dimas langsung menghentikan aksinya. Aku mendekati Dimas yang bergelung di aspal menahan sakit dengan satu tangan melindungi kepala dan tangan yang lainnya memegangi perut.
" Berhenti, pengecut kalian!!" teriakku. " Kalian harus menghadapinya berlima sementara dia hanya sendiri!" kataku lagi. Tidak berapa lama, beberapa security tempat hiburan datang dan membubarkan keramaian.
" Kau bilang sama dia, jangan cari masalah di sini. Ini akibatnya!" teriak salah seorang dari si pengeroyok ke arahku. Aku mengacuhkan kata - katanya,
" Dimas.. Dimas.." aku terus memanggil - manggil namanya, memastikan kalau dia masih dalam keadaan sadar.
" Bawa ke rumah sakit saja langsung uni." aku menatap tajam pada salah satu security yang bicara padaku. Kemana saja mereka tadi, sudah seperti film india mereka ini. Korban sudah tergeletak, mereka baru datang.
" Dimas, kau bisa bangkit?" tanyaku pelan. Aku benar - benar iba melihat keadaannya. Dia menjawab dengan anggukan pelan.
" Tolong bantu dia berdiri dan naikkan ke motor saya." pintaku pada security - security tadi. Aku tentu tidak kuat kalau harus memapahnya sendiri. Syukurnya, mereka bersedia membantu. Mungkin mereka juga malas mengurusi hal - hal seperti ini. Aku mengambil motorku dan mengarahkannya dekat dengan tempat Dimas tergeletak. Aku membuka jaketku, sementara para security membantu Dimas bangkit dan naik ke motorku. Setelah dia berada di boncengan, aku minta salah seorang security melingkarkan jaketku dipinggang Dimas, lalu kemudian aku mengikatkan bagian lengan jaket ke perutku, seperti sedang membonceng balita. Aku juga meminta Dimas memeluk erat pinggangku dari belakang, untungnya Dimas masih dalam keadaan sadar dan menuruti permintaanku. Aku langsung tancap gas menuju rumah sakit terdekat. Aku terus memanggil - manggil namanya, memastikan dia tetap sadar, agar kami tidak terjatuh dan bisa sampai di rumah sakit dengan selamat.
**
" Uni belum kasih kabar ke mama kan?" tanya Dimas pelan.
" Saya tidak menyimpan nomor ponsel beliau." jawabku jujur.
" Syukurlah." katanya kemudian. Aku tahu, Dimas pasti tidak mau mamanya tahu apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa lama, mengurus administrasi dan mengambil obat, Dimas pun akhirnya diperbolehkan pulang.
" Ada yang mau kamu hubungi?" aku menyerahkan ponselku padanya untuk di gunakannya menelpon seseorang yang dia kenal selain mamanya. Aku sempat melihat ponsel miliknya pecah tergeletak di aspal tadi. Dimas menggeleng, menolak untuk menghubungi siapapun yang dia kenal. Aku menyimpan kembali ponselku ke dalam saku jaket kebesaran yang sudah aku kenakan.
" Uni capek?" tanyanya padaku.
" Sedikit." jawabku.
" Bisa antarkan saya ke sebuah tempat?"
***
Aku memandangi pemandangan malam yang indah dari tempatku duduk. Sudah lama aku ingin sendiri seperti ini, menikmati sunyi dan keindahan langit gelap. Sudah lama aku tidak merasakan ini. Aku lihat jam di pergelangan tanganku, pukul setengah satu malam dan aku belum mengantuk.
" Uni minum kopi?" aku terkejut, langsung melihat ke arah Dimas yang meletakkan dua cangkir kopi di atas meja di sampingku. Dia sudah berganti pakaian, ya Dimas memintaku untuk mengantarnya ke salah satu rumah peristirahatan keluarganya. Tentunya di sini juga sudah tersedia pakaiannya. Aku baru menyadari kalau dia tampan, wajahnya bersih, alisnya tebal dan hidungnya mancung. Di tambah lagi kulitnya yang berwarna coklat, benar - benar menambah ketampanannya.
" Uni." aku mengangguk cepat dan tersenyum untuk menjawab pertanyaannya tadi.
Dia duduk di kursi kosong yang ada di sebelahku, jarak kami tidak terlalu dekat, tapi aku bisa merasakan aroma sabun dari tubuhnya menyapa lembut dan segar di hidungku.
Kami diam.. lama.. menikmati pemandangan yang terhampar di depan kami, tenggelam dalam imajinasi dan fikiran kami masing - masing.
__ADS_1
" Menurut uni, apa alasan orang untuk selingkuh?" Aku cepat melihat ke wajahnya, apa dia mau mulai bercerita tentang kejadian tadi?