Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
LAGI - LAGI BERTEMU


__ADS_3

*


Aku kembali ke sini, kembali mengagumi rumah mewah beserta isinya ini. Masih dekor yang sama, hanya catnya saja yang sudah disegarkan kembali.


" Duduk Di... Sini." Mama menarik tanganku pelan untuk duduk di dekatnya dan aku menuruti.


" Mama minta maaf sayang... benar - benar minta maaf. Ini hal pertama yang ingin mama sampaikan padamu, mama dan Dimas terlambat menyadari pada waktu itu. Kami menyayangi anak - anakmu, tapi kebencian kami pada ayahnya sempat membutakan hati kami, maafkan kami Di..." Mama membuka lagi cerita dulu.


" Kamu tidak seharusnya pergi sayang, itu justru membuat banyak hati tersakiti. Kita kan bisa bicara, kamu itu anak mama, Dimas juga, kita ini keluarga sayang..." mama melanjutkan.


" Iya ma, Di juga minta maaf. Tapi, kebahagiaan anak - anak adalah kebahagiaan Di. Di tidak akan pernah mengizinkan siapapun menyakiti mereka." kataku tegas.


" Iya sayang... mama faham, tapi setiap orang bisa berbuat kesalahan. Komunikasi, itu kuncinya... Sekali lagi mama minta maaf ya Di... Maafkan Dimas juga."


Aku langsung mengingat kejadian di pasar tadi begitu namanya disebutkan.


**


Dimas


Aku melangkah masuk ke dalam rumah, melewati sebuah motor yang terparkir tepat di depan anak tangga. Hufftt... makin lama mamaku semakin aneh, pikirku. Kemarin pulang kerumah pakai becak, sekarang pakai motor. Aku kembali menjambak - jambak rambutku sambil terus berjalan masuk, sakit di kepalaku sudah seperti jelangkung, datang tak diundang, pulang tak diantar.


Hmmm... benar kan, udah stress... mamaku sedang duduk mengenakan topi pantai di dalam rumah bersama seorang wanita berhijab yang membelakangiku. Wajah mama berubah pucat melihat kedatanganku, temannya pun seperti sedang menyembunyikan wajah dariku, gesture mereka membuatku jadi penasaran.


" Kamu koq udah pulang Dim..." mama berdiri dan berjalan mendekatiku. Wajahnya masih terlihat aneh.


" Iya." jawabku pendek.


Teman mama langsung menunduk dan menutupi hidung dan mulutnya dengan tangan begitu aku melewatinya, semakin aneh. Aku semakin penasaran dengan tingkahnya itu. Tiba - tiba pandanganku jatuh pada punggung tangan kanan yang dia pakai untuk menutup setengah wajahnya. Dadaku langsung bergemuruh, darahku mengalir deras, sakit kepalaku seketika hilang. " Kau disini Di..." kataku dalam hati.


Aku kembali berjalan ke teras dan meminta supir menyiapkan mobilku, lalu aku masuk kembali ke ruang tamu, berjalan mendekatinya yang masih duduk menunduk.


" Kita harus bicara Di, tolong ikut aku." pintaku pelan. Dia mengusap - usap wajahnya dengan kasar dan menggeleng.

__ADS_1


" Aku mohon padamu Di, aku tidak mau memaksamu dengan kekerasan." ancamku. Dia langsung berdiri menantangku, menatap tajam mataku, tapi mataku langsung jatuh di bibirnya. Masih seperti dulu, aku bahkan masih ingat rasanya Di.


" Kau tidak berhak mengancamku Dimas!" katanya dengan suara lantang


" Kau juga tidak boleh menentang suamimu Di. Aku masih suamimu, apa kau lupa?" tanyaku balik.


" Ma, aku pergi dulu." lanjutku


" Dimas, please..." mama memohon. Aku tersenyum padanya.


" Mama juga tahu apa yang akan aku lakukan, tolong izinkan aku ma." kataku pelan. Beliau akhirnya menyerah.


" Ayo Di, aku tidak mau menarikmu dengan paksa untuk ikut denganku. Tapi kalau kau menolak, aku terpaksa melakukannya."


Aku berjalan keluar dari rumah dan naik ke mobil, Di mengikutiku dari belakang dan akhirnya masuk juga. Aku sudah memberitahu supirku kemana kami akan pergi, maka mobilku pun melaju ketujuan dengan santai.


***


" Bagaimana kabar anak - anak Di?" tanyaku pelan tanpa melepas pandanganku keluar lewat jendela di sampingku.


" Mereka bahagia." potongku cepat.


" Kemana kalian selama ini?" tanyaku lagi


" Jakarta." jawabnya pendek


Aku menyandarkan kepalaku yang terasa semakin sakit, menjambak - jambak rambutku sambil menutup mata.


" Maafkan aku Di... Aku masih mencintaimu." kataku tanpa membuka mata, berusaha menetralisir rasa sakit di kepalaku.


****


Dirgana

__ADS_1


Aku melihat ke arahnya cepat, dia bilang masih mencintaiku, padahal baru beberapa jam yang lalu dia jalan berpelukan bersama wanita lain. " Apa rencanamu Dimas?" teriakku dalam hati.


Aku memandanginya melakukan hobi baru, dari tadi dia sibuk menjambak rambutnya. Wajahnya agak pucat, sesekali berhenti menjambak lalu menggigit bibir bawahnya, seperti orang yang sedang menahan sakit. Aku mencoba untuk tidak perduli dan membuang pandanganku keluar jendela di sampingku, berusaha mengacuhkan apa yang sedang dia kerjakan.


" Halo ma."


Aku mengembalikan pandanganku, sekarang dia menelpon sambil tetap menjambak - jambak rambutnya.


" Iya, Dimas mau minta izin mama bawa Di beberapa hari ya ma. Kami harus bicara." katanya kemudian.


Dia pasti sedang menelpon mamaku, tebakku.


" Iya ma, Dimas janji." katanya lagi, " janji apa? " pikirku


" Iya ma, Dimas titip anak - anak ya ma... Terimakasih ma." Dia menutup pembicaraannya di telpon dan melanjutkan kegiatan jambak menjambaknya sambil menutup mata.


*****


Dimas langsung turun dari mobil begitu mobil berhenti,


" kau tunggu di situ." katanya memberi perintah, berjalan ke sisiku lalu membukakan pintu mobil untukku dan mengulurkan satu tangannya, hal yang tak pernah dia lewatkan dari dulu. Tapi saat ini, aku tidak menyambut uluran tangannya, aku turun dari mobil tanpa memegang tangannya dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah.


Setibanya di dalam rumah, aku disambut uni Rahmi. Kami berbincang lama sementara Dimas langsung masuk ke kamar. Aku berjalan bersisian dengan uni Rahmi ke dapur, lalu menemaninya memasak.


Setelah selesai memasak, aku berjalan masuk ke kamar yang sama dengan kamar yang Dimas masuki tadi. Aku mendengar suara rintihan begitu aku sudah didalam. Dimas berbaring bergelung menghadap tembok dan menjambaki kepalanya dengan kedua tangannya. Aku semakin yakin kalau dia sedang menahan sakit. Aku berjalan mendekat dan naik ke atas tempat tidur perlahan.


" Dim..." panggilku pelan, dia tidak menjawab hanya rintihan saja yang terdengar. Aku bergerak lebih dekat dengannya, menyentuh tubuhnya dan memaksanya berbalik badan ke arahku. Wajahnya sangat pucat, basah


" Kau kenapa Dim?" tanyaku cemas


" Kepalaku sakit sekali yank.. " katanya pelan.


Aku cepat turun dari tempat tidur dan memanggil uni Rahmi, memintanya untuk memanggilkan dokter, lalu kembali dengan membawa segelas air hangat. Aku kembali ke kamar, meletakkan gelas di meja kecil di samping tempat tidur, mengangkat pelan kepala Dimas dan mengambil gelas tadi.

__ADS_1


" Minum ya Dim..." kataku pelan, aku tak tega melihat wajahnya yang menahan kesakitan. Dia mengangguk pelan dan meminum air yang kubawakan tadi.


Dimas menjauhkan kepalanya setelah merasa cukup, aku letakkan gelas itu ditempatnya semula dan membaringkan kepala Dimas di pangkuanku. Aku menurunkan kedua tangannya dari kepala dan menjambak - jambak rambutnya agar sakitnya berkurang. Dia sudah tampak tenang, tapi matanya masih tertutup, wajahnya juga masih pucat. Selang beberapa lama, uni Rahmi masuk ke kamar bersama seorang dokter. Aku meminta dokter memeriksa Dimas tanpa harus membangunkannya. Dokter memberikan catatan resep padaku setelah dia memeriksa Dimas, aku meminta supir menebus obat Dimas sambil mengantarkan dokter kembali ke rumahnya.


__ADS_2