Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
KEMBALI


__ADS_3

Author POV


Dimas melangkah keluar kamar, melirik sebentar ke arah Di yang masih berbaring diam, lalu melangkah keluar kamar perawatan.


Dimas menghempaskan tubuhnya di kursi yang terletak di sebelah pintu kamar. Dia hanya memandangi dinding di depannya dalam diam.


" Dimas!"


Dimas terperanjat kaget mendengar suara yang memanggilnya.


" Mama Ve?"


Mama Di datang ke rumah sakit bersama mama Vena. Mata Dimas tiba - tiba basah, dia berdiri dan menyambut kedatangan mama Ve dengan sebuah pelukan. Mama Vena seketika teringat pada putrinya, Vena. Mereka berdua berpelukan sambil menangis, sama - sama mengingat seseorang yang sudah tiada, juga karena sudah lama tidak bersua.


" Vena pasti bahagia melihat kenyataan ini Dim."


Dimas melepaskan pelukannya pelan dan menatap mama Ve dengan wajah sedih.


" Mama lihat fotomu bersama Di dan anak - anak di rumah Di tadi. Mama benar - benar bersyukur, akhirnya kau jadi menantuku juga."


" Mama apa kabar?"


" Baik nak, mama sehat. Bagaimana dengan Di, apa dia sudah sadar?"


Dimas kembali menunduk dengan sedih, mama Di dan mama Ve memberikan kekuatan dengan mengelus - elus lengan Dimas.


" Kamu sabar ya Dim."


Dimas mengangguk pelan. Kemudian Dimas mengantarkan kedua mama ke dalam kamar perawatan. Mama Ve melangkah mendahului Dimas dan mama Di menuju tempat tidur Di. Beliau langsung memeluk Di yang masih terbaring lemah di sana. Tangisnya pecah melihat kondisi Di, rasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Mama Di hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa bersuara, pasrah pada apa yang sudah terjadi pada anaknya saat ini.


" Mmmmhhh... Dim."


Tangis mereka seketika berhenti, mama Ve menegakkan tubuhnya menatap Di, mama Di dan Dimas dengan cepat melangkah sangat dekat dengan tempat tidur Di.


" Di, sayang... ini mama nak."


Mama Di tak sabar ingin mengajak anaknya berbicara. Di yang sedari tadi hanya menutup mata, perlahan membuka matanya dan tersenyum mendapati perempuan yang sangat mencintainya itu sedang berada di depannya.


" Ma, Dimas mana?"


Dimas yang berada di sisi satu lagi bersama mama Ve, cepat menyentuh Di


" Aku di sini sayang."


Di menoleh pada Dimas, lalu tersenyum mendapati Dimas dan mama Ve juga berada di dekatnya.


Dimas cepat menekan tombol yang berada di samping ranjang Di,


" Mama di sini?"


Mama Vena mengangguk tersenyum dan membelai lengan Di


" Iya nak, mama kangen kalian."


Di tersenyum lemah pada beliau. Tak berapa lama dokter masuk ke dalam ruangan bersama satu orang perawat. Mama Di, mama Vena dan Dimas melangkah mundur untuk memberikan ruang pada mereka memeriksa kondisi Di.


Dimas tersenyum lega, " Akhirnya Di mengingatku. " Katanya dalam hati.

__ADS_1


" Ibu jangan banyak bicara dulu ya."


Dokter itu tersenyum ramah pada Di, Di mengangguk lemah dan membalas senyumannya.


" Alhamdulillah pak, buk, ibu Di sudah sadar, jangan dipaksakan dulu untuk mengingat sesuatu dan biarkan ibu beristirahat ya pak buk."


Mereka bertiga mengangguk dan tersenyum pada dokter.


Begitu dokter dan perawat keluar dari ruangan, Dimas mengambil ponsel untuk memberikan kabar pada mama Sandra. Mama Di dan mama Vena mendekati Di dan bergantian memeluk dan menciuminya. Banyak air mata kebahagiaan dan ucapan syukur menyambut Di hari ini.


*


Mama Sandra langsung menyusul ke rumah sakit begitu mendengar kabar Di sudah sadar dan mengingat semuanya, berkali - kali memberikan ciuman dan pelukan pada Di. Dimas harus memperingatkan beliau untuk membiarkan Di beristirahat agar beliau menghentikan pelukan dan ciumannya.


Setelah beberapa lama mereka berkumpul di ruangan Di, ketiga mama memutuskan untuk pulang dan meninggalkan Dimas dan Di.


Dimas menarik sebuah kursi mendekat pada Di dan duduk disana. Mereka saling tatap dan tersenyum sambil berpegangan tangan.


" Aku merindukanmu yank."


Di tertawa kecil melihat ekspresi Dimas, seperti anak kecil yang sangat merindukan mamanya.


" Kau mentertawakanku yank?"


Di menggeleng pelan, masih tetap tersenyum manis


" Nggak yank, wajahmu itu jadi mirip Azi yang lagi kangen banget sama aku."


Mereka tertawa kecil bersama


" Apa anak - anak juga merindukanku yank?"


Air mata Dimas tiba - tiba mengalir, dia tegak dan memberikan pelukan pada Di. Dia merasa seperti mendapatkan kekuatannya kembali, lelahnya seketika hilang. Dimas butuh pelukan Di untuk melepaskan semua yang sudah dia rasakan sejak Di sakit.


Di membelai lembut kepala Dimas, air mata juga mengalir di wajahnya. Entah kenapa dia merasa rindu pada Dimas, seperti sudah tak bertemu selama berminggu - minggu.


Dimas mengangkat kepalanya dan menatap lekat ke wajah Di, Di mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Perlahan Dimas mendekatkan wajahnya, Di diam menunggu apa yang akan dilakukan Dimas padanya. Perlahan Dimas mencium bibir Di dengan lembut, Di yang juga merasa sangat merindukan Dimas membalas ciuman Dimas dengan lembut dan pelan


Tiba - tiba pintu kamar terbuka, seorang perawat masuk dan tersentak kaget melihat apa yang dilihatnya di dalam kamar. Dimas dan Di menghentikan ciuman mereka dan menatap perawat yang baru masuk itu.


" Silahkan suster."


" eh.. i.. iya pak, maaf."


Dimas tersenyum dan melepaskan dirinya dari Di, memberikan tempat bagi si perawat untuk memeriksa keadaan Di. Wajah perawat itu merah merona, tampak gugup dan malu ketika bergerak mendekati Di. Dimas bersikap santai saja, baginya bukankah hal biasa seorang suami mencium istrinya.


Dimas melangkah berdiri ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya setelah berhari - hari tak mandi. Dimas lebih bersemangat hari ini, sangat bersemangat. Senyumnya tak lepas meskipun dia tau kalau dia hanya sendiri di dalam ruangan itu.


Dimas keluar dari kamar mandi, penuh senyuman dan lebih segar. Di yang sedang berbaring setengah duduk tersenyum melihat semangat Dimas.


" Kau sehat kan Dim?"


Dimas mengerlingkan matanya dan tersenyum


" Aku sangat sehat Di."


Dimas memperagakan gaya seorang binaragawan yang sedang memamerkan otot - ototnya. Di tertawa terbahak - bahak melihat gayanya.

__ADS_1


*


Satu persatu keluarga datang menemui Di di rumah sakit. Ketiga mama, anak - anak dan baby sitter hadir di sana. Andi juga ikut bersama menemani mereka.


" Cepat sembuh ya Di, mama mau bajak mamamu lagi. Kami mau refreshing bertiga."


Mama Di dan mama Ve mengangguk mengiyakan.


" Iya ma... Doain Di cepat pulih ya... Terimakasih udah doain Di selama ini dan jagain anak - anak selama Di sakit."


" Apa tidak sebaiknya Di dan Dimas dulu yang pergi refreshing Sandra... Honeymoon kedua gitu lah."


" Honeymoon kedua ma?"


Mama Ve mengangguk tersenyum


" Honeymoon pertama aja gak pernah, iya kan Dim?"


Dimas tersentak kaget, dia baru menyadari kalau dia tak pernah sekalipun mengajak Di jalan - jalan hanya berdua saja.


" Bagaimana sih kamu ini Dim? Apa mama harus turun tangan untuk hal ini?"


Mama Ve menatap Dimas dengan mata melotot, Dimas menggaruk - garuk kepalanya. Mama Di dan mama Sandra tertawa melihat tingkahnya.


" Nggak ma... Di gak pa pa koq. Kami honeymoon terus koq ma. Sama aja lah itu."


Di berbalik membela Dimas.


" Jadi bagaimana, jalan - jalan kita jadi kan?"


Mama Sandra melirik mama Di dan mama Ve


" Jadiii."


Keduanya menjawab serentak lalu tertawa bersama - sama.


" Ya udah ya udah... ntar Dimas modalin para nenek untuk berlibur."


" Serius kamu Dim?"


Mama Di membelalak kaget


" Serius, mama semuanya siap - siap aja. Minggu depan boleh langsung berangkat."


" Alhamdulillah..."


Ketiganya serentak mengucap syukur.


" Kami pa?"


Zya dan Azi menatap Dimas penuh harap.


" Kita liburan ke villa yang waktu itu aja ya, gimana?"


" Setuju."


Ruangan perawatan menjadi hangat dan bertabur rasa bahagia serta syukur tak terhingga. Satu persatu masalah teratasi, meski harus banyak mengalami rasa sakit, tapi semua berakhir bahagia.

__ADS_1


Ini belum ending ya... Masih ada cerita haru dan cinta berikutnya... Terimakasih sudah singgah untuk membaca novel perdana saya dan jangan lupa like and komen cantiknya juga... terimakasih...


__ADS_2