Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
PULANG


__ADS_3

*


" Cepat jawab aku Andi!! Atau ku jambak rambutmu!!"


Di benar - benar marah pada Andi.


" Dia sudah tak punya rambut Di."


Mata Di membelalak, cepat bangkit dari duduknya terkesiap


" Dimas.. Dimas.. Kau sudah sadar yank? Dimaaasss..."


" Telingaku sakit yank, berhentilah berteriak."


" Dimas, tunggu aku. Aku akan ke rumah sakit sekarang."


" Nggak yank, aku akan pulang sendiri."


" Kau jangan main - main Dimas, kau tunggu disana."


" Kau yakin ingin menjemputku sekarang?"


" Yakin, sangat yakin. Beri aku waktu 15 menit."


" 15 menit? Ke Singapur?


Di yang sedang mengenakan celana panjangnya berhenti bergerak.


" Singapur?"


Dimas mulai menceritakan semuanya. Meski pelan dan dengan nafas yang terdengar berat, dia berhasil menceritakan semua dengan detail.


" Mama membohongiku."


" Demi anak - anak dan dirimu sendiri Di."


" Tetap saja, berbohong itu tidak dibenarkan."


" Apa kau mau kehilangan semuanya dengan menuruti egomu Di?"


Di merasakan sesuatu seperti baru saja menghantam dadanya dengan sangat keras dan menyakitkan


" Aku gak mau kehilanganmu Dim!!"


Di berteriak, tangis yang hampir satu bulan terbendung, kini membuncah deras membasahi seluruh wajah Di.


" Aku sangat menyayangimu Di, kau tidak akan kehilangan aku. Percayalah."


Di menjatuhkan tubuhnya yang terasa lemas tak bertulang ke lantai, menangis sekencang - kencangnya, meluapkan semua kesedihannya yang tak terbendung.


" Yank... aku sudah sehat, hanya butuh beberapa hari lagi untuk pemulihan. Aku akan pulang dan mengganti pelukan yang terlewatkan selama beberapa minggu ini, percayalah."


" Aku merindukanmu Dim... Sangat merindukanmu."


" Aku juga yank, bersabar ya?"


Di mengangguk pelan, tidak menyadari kalau saat ini mereka sedang menelpon, Dimas tidak dapat melihat anggukannya.


**


" Kenapa mama berbohong pada Di?"

__ADS_1


Mama Di yang sedang duduk di dekat kolam renang terkejut dengan kehadiran Di, begitu juga dengan pertanyaannya.


" Karena aku menyayangimu dan semua cucuku."


Mama Di menjawab santai


" Tapi kan tidak perlu dengan membohongiku."


Di melangkah mendekati mama dan duduk di sampingnya.


" Dua hari kau berdiri menatap Dimas sampai kakimu kaku, apa aku akan diam saja melihat itu? Kau mengacuhkan keberadaan anak - anakmu yang membutuhkanmu, apa aku akan diam juga?"


" Silahkan marah pada kami hanya karena kami memikirkan keadaanmu dan cucu - cucu kami. Kami tidak perduli."


Di langsung bergerak memeluk mama dan kembali menangis dalam pelukan beliau. Mama membelai lembut rambut Di. Mama yakin sekali Dimas yang sudah memberitahu Di.


" Dimas masih butuh beberapa hari lagi untuk pemulihan, kamu bersabar ya."


Di mengangguk, masih menangis dalam pelukan mama.


***


" Halo Ndi, bagaimana kabar Dimas?"


" Aku baik sayang... Aku sudah sehat dan sangat kuat sekarang."


Airmata kerinduan Di mengalir tak tertahan mendengar suara Dimas dari seberang.


" Apa kau tak mau keluar untuk menyambutku yank?"


Mata Di membelalak, dia langsung bangkit dari tempat tidurnya dan segera berlari keluar kamar, tapi langkahnya terhenti begitu pintu kamar terbuka.


" Dimas.."


" Iya yank, aku pulang."


Mereka menangis berpelukan, semua yang berada di dekat mereka pun ikut menangis terharu menyambut kepulangan Dimas, tak terkecuali anak - anak. Iza, Azi dan Zya bergantian memeluk papanya. Mereka juga merasakan rindu yang sama pada Dimas, begitu juga Dimas.


****


Dimas sudah berada di atas tempat tidur dengan bantuan Andi dan supir mereka. Di mengambil alih tugas perawat, yang dipekerjakan mama, untuk mengurusi kebutuhan pribadi Dimas. Wajah perawat itu nampak tidak suka dengan keputusan itu, tapi Di adalah nyonya rumah sekaligus istri dari Dimas. Dia tidak bisa menentang itu.


" Untuk kebutuhan pribadinya, biar Di saja yang mengurusnya ya An."


Anita, nama perawat itu. Perempuan muda itu mengangguk lemah mendengar keputusan orang yang akan membayar jasanya sampai Dimas benar - benar sehat.


" Kamu cek kesehatan Dimas aja setiap hari, meskipun begitu, saya tidak akan mengurangi gaji kamu, sesuai perjanjian."


Bukan itu yang diharapkan Anita. Bukan sekedar uang gaji belaka. Buatnya, kalau bisa memiliki kerajaan yang dimiliki Dimas, kenapa tidak.


" Setidaknya aku akan berada disini terus mendampingi tuan Dimas. Semoga hatinya dapat aku rebut dari wanita yang selalu berada di sisinya itu sejak kepulangannya kemari" kata Anita dalam hati.


*****


Anita baru saja memeriksa tekanan darah Dimas. Dia berdiri, menyimpan peralatannya dan mengambil mangkuk bubur untuk sarapan Dimas, lalu berjalan mendekati Dimas yang duduk di atas tempat tidur dan duduk di samping Dimas.


" Biar istri saya saja yang menyuapi."


Anita agak tersinggung dengan permintaan Dimas, tapi dia berusaha menahan kekesalannya dan tersenyum.


" Ibu lagi sibuk pak, biar saya saja yang menyuapi. Bapak tidak boleh telat makan."

__ADS_1


Dimas tersenyum, berusaha tetap ramah pada perawatnya itu.


" Nggak pa pa telat, asal istri saya yang menyuapi. Saya berhutang banyak padanya selama keadaan saya drop kemarin. Kamu letakkan saja mangkoknya. Saya tidak akan makan selain dengannya."


Dimas secara tidak langsung menolak Anita dengan sangat baik.


" Tapi pak..."


" Udah selesai An?"


Tiba - tiba pintu kamar terbuka, Di masuk dan melangkah mendekati Dimas dan Anita. Melihat mangkok di tangan Anita dan isinya yang masih dalam keadaan yang sama seperti waktu dia meninggalkan kamar untuk memberikan waktu pada Anita untuk memeriksa Dimas, Di tersenyum.


" Suami saya memang sangat manja setiap sakit An, dia tidak akan pernah mau makan kalau bukan saya yang menyuapi."


Anita tersenyum sinis dan membuang muka. Tak suka dengan cerita yang disampaikan Di.


" Kamu boleh keluar An, kalau sudah selesai."


Di mengambil mangkok yang berada di tangan Anita, menunggu Anita berdiri dari tempatnya duduk dan menggantikan posisi Anita tadi, disamping Dimas. Anita merengut kesal keluar dari kamar Dimas dan Di.


" Sepertinya dia tidak suka ditolak."


Di tersenyum,


" Siapapun yang tau apa yang kau miliki pasti akan tergiur yank."


Di menyendokkan bubur dari dalam mangkok, ke mulut Dimas yang sudah menunggu.


" Tapi kenapa kau tidak?"


Di mengedikkan bahunya dengan santai.


" Mau bagaimana lagi Dim, aku lebih tergiur padamu dan cintamu daripada hartamu. Kau lupa, aku pemilik 4 kedai makanan terlaris?"


Dimas cepat mencubit pipi Di, tapi Di malah hanya tertawa saja menanggapinya.


" Aku lupa sedang berurusan dengan siapa saat ini."


Di mengusap ujung bibir Dimas dengan ibu jarinya, lalu mengusap lembut bibir Dimas berulang kali. Dimas menatap mata Di, sementara mata Di terpaku di bibir Dimas.


" Kau merindukannya Di?"


Di masih terus merasakan sapuan ibu jarinya di bibir Dimas


" Aku merindukanmu, kehadiranmu dan seluruh bagian yang ada di tubuhmu Dimas."


Dimas dengan cepat menarik pinggang Di untuk lebih dekat padanya. Memaksa Di untuk duduk di atas pangkuannya, dan Di melakukannya. Tak lama setelah Di berada dalam pangkuan Dimas, mereka saling berciuman, sangat panas. Melesatkan lidah mereka masing - masing ke dalam mulut. Beberapa kali Di kalah oleh permainan lidah Dimas dan mengerang kecil. Dimas bertambah nekat melakukan serangan, terbakar oleh erangan - erangan kecil mendayu dan merayu dari Di.


" Apa yang ibu lakukan?"


Ciuman mereka seketika terhenti, nafas mereka terengah, Di dan Dimas menatap perempuan yang menjadi perawat buat Dimas itu sedang berdiri di dekat pintu dengan wajah penuh amarah pada Di.


" Bapak harus banyak beristirahat, jangan diganggu dulu."


Di menegakkan tubuhnya, kembali menatap Dimas.


" Aku tidak menyukainya, kau tau apa yang harus kau lakukan kan?"


Dimas bisa mendengar sangat jelas kata - kata Di. Dia tersenyum nakal dan kembali menarik pinggang Di dan memburu ciuman Di, mengabaikan perawat yang sudah mulai resah menonton aksi mereka.


Anita keluar dan membanting pintu kamar mereka dengan keras. Namun Di dan Dimas yang sudah terbakar api kerinduan tidak memperdulikannya. Mereka lebih memilih tetap menikmati manisnya bibir pasangan mereka masing - masing.

__ADS_1


__ADS_2