Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
HELLEN


__ADS_3

*


Dimas dengan cepat menghubungi Hellen begitu dia berada di mobil,


" Hi Dimas... Kau pasti sangat merindukanku ya..."


" Temui aku di cafe kemarin siang ini."


" Wowww... aku jadi penasaran, kau tak pernah setergesa ini memintaku bertemu. Apa aku perlu membawakan sesuatu yang seksi?"


Hellen tertawa renyah, tapi Dimas hanya diam


" Aku tunggu jam makan siang di cafe. Bye.."


Dimas lalu menutup ponselnya dan menyalakan mesin mobil. Hanya sebentar saja, Dimas kemudian mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


Di Gedung Pernikahan


Kesibukan yang sedang berlangsung selama beberapa hari ini, hampir mendekati final. Di datang ke gedung ini mengajak 3 mamanya, sekalian mengecek semua persiapan yang hampir mendekati akhir. Ke 3 mamanya nampak mengagumi semua persiapan yang sudah hampir jadi itu, tapi Di masih memperbaiki sedikit kekurangan yang tampak olehnya.


" Permisi bu."


Seorang petugas gedung datang menghampiri dan menyapa Di.


" Iya pak."


Di tersenyum ramah


" Maaf, ini ada titipan dari seseorang."


Petugas gedung menyerahkan sebuah amplop lebar pada Di, Di mengambil amplop tersebut


" Untuk saya?"


" Iya buk, untuk ibu Dirgana Putri. "


Di membolak balik amplop tersebut, tapi tak menemukan nama pengirimnya.


" Terimakasih pak."


" Sama - sama buk, mari."


Petugas itu melangkah menjauh dari Di.


Di melipat amplop lebar tersebut lalu lanjut mengecek segala persiapan yang ada.


*


" Hi Dim."


Hellen mengambil duduk di depan Dimas, lalu memasang senyuman nakalnya


" Ok, mau kemana kita?"


" Tidak akan kemana - mana. Kau pesanlah minuman untukmu."

__ADS_1


Hellen mengangkat tangannya kepada salah satu pelayan, lalu menyebutkan pesanannya.


" Ada apa Dim... Kau tegang sekali."


Dimas menatap tajam pada Hellen


" Kenapa kau tak cerita kalau kau sudah berkeluarga."


Hellen tersenyum santai


" Kau kan tidak bertanya."


" Sial!"


Dimas mengumpat kesal


" Aku memberitahumu statusku meski kau tak bertanya, kau ingat kan?"


Hellen tersenyum sambil menganggukkan kepala.


" Lalu?"


" Nggak mau bilang aja. Nggak penting juga."


" Nggak penting? Hubungan pernikahan kau bilang nggak penting? Kau sehat kan?"


" Aku sehat, sangat sehat."


" Kalau aku mengatakan padamu bahwa aku sudah berkeluarga, kau pasti tidak akan menghubungiku lagi."


" Nah... itu dia masalahnya."


" Mmmaksud..."


Pertanyaan Dimas terputus oleh kehadiran pelayan yang membawakan pesanan Hellen


" Aku gak mau kau menghindari aku. Aku ingin bersenang - senang denganmu. Bahkan kalau memungkinkan, aku ingin menjadi istrimu."


" Apa? Apa kau sudah gila?"


Dimas menekan suaranya,


" Nggak, aku nggak gila. Aku realistis, aku ingin memilikimu."


" Lalu bagaimana dengan suamimu, anak - anakmu, keluargaku?"


Dimas membanting amplop yang dia terima tadi pagi ke atas meja. Hellen mengambil amplop tersebut dan membukanya. Matanya seketika membelalak kaget,


" Dia sudah tau rupanya."


" Dia siapa? Tau apa?"


" Anak sulungku, Rio. Dia memang sangat cepat mengetahui apapun yang sedang terjadi. Dia sudah tau hubungan kita."


" Hubungan apa? Kita tidak punya hubungan apa - apa. Apa kau lupa?"

__ADS_1


" Bukan tidak... tapi belum Dimasss... dan secepatnya akan..."


Hellen kembali tertawa renyah, tapi sekarang tawa itu menjijikkan bagi Dimas.


" Tidak, tidak akan."


Wajah Hellen seketika berubah


" Aku tidak suka ditolak Dimas."


" Aku sudah berkeluarga, kau juga. Dan kita tidak punya hubungan apa - apa. Aku tidak pernah menyentuhmu, kau yang berkali - kali menyentuhku."


" Tapi kau menyukainya!"


Dimas menunduk, suara Hellen yang tinggi memancing perhatian semua orang yang berada di dalam cafe itu. Semua orang memandangi mereka.


" Kau jawab aku, kau menyukai sentuhanku kan?"


" Pelankan suaramu."


" Aku tidak mau, kau harus jawab dulu. Aku tau kau menyukaiku, kau menyukai sentuhanku. Iya kan?"


" Tidak! Ok... Kalau itu yang kau mau. Aku tidak menyukaimu, apalagi sentuhanmu. Aku hanya menyukai istriku, sentuhannya lah yang paling aku sukai. Ok!


Dimas bangkit dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dari dompetnya, lalu meletakkannya di atas meja. Kemudian Dimas berlalu meninggalkan Hellen yang menatapnya dengan penuh amarah.


" Aku tidak akan melepaskanmu Dimas Arya."


*


Di baru saja tiba di rumah bersama ke 3 mamanya. Tubuhnya terasa sangat letih setelah seharian mengurus persiapan terakhir untuk acara pernikahan Andi dan Andien besok. Di segera ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dari keringat yang menempel.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Di beranjak keluar kamar mandi, berbarengan dengan Dimas yang baru saja masuk ke dalam kamar. Mata mereka bertemu, seketika Di rindu pelukan Dimas yang menenangkan


" Kau baru pulang Dim?"


" Hmmm..."


Dimas dengan cepat berlalu meninggalkan Di, langsung masuk ke kamar mandi. Wajahnya yang dingin menyadarkan Di pada kelalaiannya selama beberapa minggu ini dalam mengurus semua kebutuhan Dimas. Di menghela nafas berat, kemudian berlalu keluar kamar.


Dimas melangkah keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana pendek. Dimas mengedarkan pandangan ke seluruh sisi di kamar, tapi tak menemukan Di. Dimas kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat tidur.


Di masuk ke dalam kamar sesaat setelah Dimas mendaratkan pantatnya di atas kasur. Di melangkah mendekat pada Dimas, dengan secangkir teh panas favorit Dimas di tangannya.


Dimas yang tak menyadari kehadiran Di melonjak kaget begitu melihat kehadiran Di yang tiba - tiba di dekatnya. Dimas membuang wajahnya dan menaikkan kakinya ke atas ranjang, berusaha mengabaikan Di.


" Tehmu yank."


" Hmmm.."


Dimas sama sekali tak bereaksi, dia menutup mata untuk mengacuhkan Di.


Di yang sangat tau gaya Dimas ketika kesal padanya, segera bangkit dan berjalan ke sisi tempat tidur yang kosong. Di duduk, lalu membaringkan tubuhnya dan menatap langit - langit di kamarnya. Dimas dengan cepat membalik tubuhnya, membelakangi Di.


" Siapa perempuan yang selalu menemanimu beberapa hari ini Dim?"

__ADS_1


Dimas membelalakkan matanya seketika begitu mendengar pertanyaan Di, jantungnya berdegup kencang, tubuhnya terasa sulit untuk digerakkan. " Hellennn." Dimas menggeram dalam hati.


__ADS_2