
*
Dimas
Pintu kamar operasi terbuka, sontak membuatku dan semua yang sedang menunggu Di di luar ruangan operasi, berdiri. Dua orang perawat keluar dari ruangan operasi, masing - masing membawa 1 bayi dalam gendongan mereka. Kami cepat melangkah mendekati.
" Ini bayi - bayi saya suster? bayi nyonya Dimas Arya?"
" Selamat pak, anaknya laki - laki dan perempuan."
Kami semua mengucap syukur atas kelahiran kedua bayi dengan selamat dan sehat,
" Istri saya?"
" Ibu sedang di tangani tim dokter pak, nanti bapak bicara langsung sama dokternya ya pak."
Aku menganggukkan kepala.
" Bapak silahkan ambil wudhuk dulu sebelum mengqamatkan anak - anak ya pak."
Aku mengangguk lagi dan melangkah menuju toilet untuk mengambil wudhuk.
**
" Perempuan kuat ini adalah istriku, dia mampu melewati semua penderitaannya. Izinkan aku membahagiakannya selalu ya... Tuhan. Untuk membalas semua pengorbanannya untukku."
Di membuka matanya perlahan, lalu menatapku sambil tersenyum.
" terimakasih untuk semuanya sayang."
Aku mengecup keningnya dengan lembut. Dia mengangguk lemah, tetap tersenyum.
" Bagaimana si kembar yank?"
Aku tersenyum menatap wajahnya,
" Laki - laki dan perempuan, sehat dan kuat sepertimu."
Jawabku pelan setengah berbisik. Di mengucapkan syukur.
" Aku ingin bertemu mereka yank."
" Nanti ya sayang, kuatkan dulu staminamu, agar bisa langsung menyusui keduanya."
Di mengangguk lemah dan kembali menutup matanya sambil memegang erat tanganku.
***
" Namanya ma???"
Azi mendesak Di untuk segera memberi nama, nampak tidak sabar untuk mengajak mereka bermain. Aku memberikan hak pada Di untuk memberikan mereka nama. Di lebih jago soal itu daripada aku.
" debay cowoknya kita kasih nama Hafiz Arya, pemelihara dan penjaga di keluarga Arya."
__ADS_1
"debay cewek?"
Giliran Iza yang mendesak mamanya
" Hifza Arya, malaikat pelindung di keluarga Arya."
" Setujuuu"
Kami serentak menjawab dan tertawa terbahak - bahak. Hafiz berteriak dan menangis sangat keras. Aku menggendongnya dan memberikannya pada Di untuk disusui.
" Berarti, kita harus nambah kamar lagi nih pa."
Aku melirik pada Iza, dia sudah semakin dewasa, pastinya tidak mau sering - sering berbagi kamar dengan adik - adiknya. Apalagi kalau nanti adik - adiknya sudah mulai besar.
" Kita pindah ke rumah baru Za, kamarnya lebih banyak dan rumahnya lebih besar."
Azi dan Iza saling tatap dengan senyuman bahagia di wajah.
" Kamu nih Dim... Jangan kasih harapan untuk anak - anak dan jangan memaksakan juga."
Di menyela kebahagiaan tadi
" Aku akan ajak kalian pindah begitu kau sudah diizinkan pulang."
Di menatapku tak percaya, lalu menggeleng - gelengkan kepalanya menyerah.
" Oh iya... Rahma, uni... terimakasih untuk semua kemarin itu ya."
Rahma dan uni yang juga datang untuk melihat Di dan si kembar tersenyum.
Aku menyerahkan masing - masing sebuah cek ke tangan mereka. Mereka melihat cek tersebut dan membelalakkan mata.
" Kenapa? Kurang?"
Keduanya menggeleng cepat
" Ini bukan pesangon juga kan pak... Maaf pak, saya mohon... saya masih butuh pekerjaan pak."
Rahma mengangguk setuju dengan pernyataan uni.
" yang mau pecat kalian siapa? Kalian berdua akan tetap bekerja di rumah baru kami nanti, kalau kalian masih bersedia. Meski nanti akan ada tambahan beberapa asisten rumah tangga dan baby sitter juga pastinya, bagaimana."
" bersedia."
Mereka menjawab dengan kompak, aku tersenyum melihat ekspresi mereka. Berulang kali mengucek mata, melihat angka 25 juta yang tertera di ceknya masing - masing.
" Kita gak dapat bonus Zya...."
Iza menyindirku, Zya mengangguk seperti mengerti maksud kakaknya. Aku kembali tertawa.
" Kamu mau cek juga atau i - phone terbaru?"
Iza membelalakkan matanya, kaget dengan penawaranku.
__ADS_1
" i - phoneeeee.... Horeee..."
Di menggelengkan kepalanya, menyerahkan Hafiz yang sudah tertidur padaku, untuk ku baringkan kembali di boxnya.
" Azi juga mau HP baru."
Azi merapatkan tubuhnya pada Di, hampir saja aku lupa pada jagoan tertuaku, pantas wajahnya berubah cepat tadi.
" Mama pulang, kita ke rumah baru, besoknya kita beli HP baru."
" Azi juga?"
Wajahnya berubah bahagia lagi.
Aku mengangguk, Azi tertawa terlambat menyebutkan hore.
" Kapan kau akan berhenti memanjakan mereka Dim?"
Di berbisik pelan padaku.
" Kalau aku mati."
Di cepat mencubit pinggangku, memasang wajah kesal. " Tuhan... apakah deritaku masih akan berlanjut setelah ini?" Tanyaku dalam hati.
****
Dirgana
Aku memandang kagum pada rumah besar yang berdiri sombong di depanku. Iza dan Azi juga mengaguminya dalam diam.
" Kita masuk, yok."
Kami berempat melangkah masuk ke rumah bersama sama. Ruang tamu minimalis langsung menyambut kehadiran kami, tidak sebesar ruang tamu di rumah mama Sandra, tapi sedikit lebih besar dari ruang tamu di rumah kami yang dulu. Kami lalu melangkah masuk lebih dalam, mata ku membelalak mengagumi ruangan ini, ini pasti ruangan keluarga. Ruang yang memanjang ke samping, sebuah LCD langsung terlihat begitu kami melewati pembatas ruangan ini dengan ruang tamu.
Di sebelah kiri terdapat dapur yang cukup luas, berbatasan dengan ruang makan dan disambut oleh kolam renang di luar pintunya. Iza dan Azi cepat berlari ke arah kolam renang, berebutan mengucapkan kalimat kekaguman mereka atas kolam renang yang mereka lihat.
Di sebelah kanan ruangan keluarga terdapat 3 buah pintu. Aku dan Dimas melanjutkan penelusuran kami pada rumah baru ini ke dalam pintu - pintu tersebut, meninggalkan Iza dan Azi yang sekarang sudah berada di dalam kolam renang dengan masih berpakaian lengkap.
Dua kamar yang bersisian adalah kamar Baby dan kamar baby sitter. Dua kamar yang cukup luas untuk di tempati bertiga, masing - masing kamar memiliki kamar mandi di dalamnya. Satu pintu lagi adalah kamar aku dan Dimas. Susunannya hampir sama dengan kamar tidur kami yang lama, dan sama - sama memiliki jendela besar yang bisa di geser untuk melihat halaman kecil penuh bunga di samping rumah.
Lalu kami melanjutkan naik ke lantai 2. Terdapat 3 buah kamar, dua kamar untuk Iza dan azi dan 1 kamar lagi untuk kamar tamu. Terdapat ruangan luas selebar ruang keluarga di lantai satu. Disana terdapat beberapa lemari rendah, satu set kursi dan meja untuk ruangan kerja atau belajar anak - anak yang dilengkapi komputer dan printer juga.
Balkon kecil yang menghadap ke jalan tepat di depan kamar yang nantinya akan ditempati oleh Iza. Di sudut kiri lantai dua terdapat balkon yang nantinya akan digunakan untuk tempat mencuci dan menjemur pakaian.
" Terimakasih Dimas... Terimakasih untuk semua kebahagiaan hari ini. Aku sangat mencintaimu."
Aku mengecup lembut pipi Dimas, dia tersenyum dan mengecup lembut puncak kepalaku.
" Aku juga sangat mencintaimu sayang... "
Kami berjalan sambil berpegangan, menuruni anak tangga kembali ke ruangan bawah.
" Besok kita akan pindah kesini. Aku juga sudah mengajak mama Sandra dan mamamu untuk ikut mengantarkan kita ke rumah ini. Bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
Aku mengangguktersenyum dan memeluknya erat.