Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
WAKTUNYA BERSENANG - SENANG


__ADS_3

*


Setelah selesai mengurus sekolah Iza, aku mengajak anak - anakku berbelanja kebutuhan sekolah, beberapa pakaian baru dan bermain di salah satu pusat perbelanjaan. Tawa dan celoteh mereka membuatku bahagia, beberapa kali aku sempat mengabadikan tingkah mereka lewat video dan mengirimkannya pada Dimas. Dimas senang sekali menerima video kirimanku, merasa ikut dilibatkan dalam membahagiakan anak - anakku... anak - anak kami.


" Di!!!" Sebuah suara yang sangat aku kenal memanggil namaku. Benar saja, wanita modis itu berlari ke arahku dan memelukku erat. Aku belum sekalipun bertemu dengannya sejak pernikahanku dengan Dimas berlangsung. Sebenarnya aku takut bertemu dengannya, tapi melihat sikapnya padaku, ketakutanku langsung hilang.


" Selamat ya sayang... Mama senang kau jadi menantu mama." katanya kemudian.


" Terimakasih bu... Maaf kan Di bu..." kataku


" Hey... mama... kau sudah menjadi anakku Di... Kau tak perlu minta maaf." katanya lagi.


" Kau berbelanja Di?" matanya memperhatikan plastik belanjaan yang aku pegang, anak - anak sedang bermain, makanya semua belanjaan aku yang pegang.


" Hmmm... iya ma... Keperluan sekolah anak - anak, yang sulung kan sudah masuk SMP, Di baru menyelesaikan segala administrasinya tadi." jawabku takut - takut.


" Dimas membantumu kan?" tanyanya menyelidik. Aku benar - benar takut mama Dimas salah paham.


" Hmmm... ini pakai CC yang diberikan Dimas pada Di ma... Dimas yang minta Di mengajak anak - anak belanja dan main." jawabku hati - hati.


" Oh Tuhan... Alhamdulillah... Dimasku sudah menjadi laki - laki gentle dan sangat dewasa. Itu memang sudah kewajibannya Di, emang dia kerja untuk siapa?" ketakutanku langsung hilang mendengar perkataan beliau, lalu ikut tertawa bersamanya.


" Ma... pulang yok... Zi capek." Azi tiba - tiba datang menghampiri kami. Mama Dimas mengalihkan pandangannya pada Azi.


" Ini anakmu Di? tanya beliau.


" Iya ma... ini si bungsu Azi dan... ini Si sulung Iza." kataku menjelaskan, kebetulan Iza pun datang menghampiri.


" Kak... Dek... salam oma nak..." kataku pada kedua anak - anakku, mereka menurut dan menyalami mama Dimas dengan sopan.

__ADS_1


" Cucu oma... sayang... Ajak mereka ke rumah kapan - kapan Di. Kita buat keributan di rumah oma ya.." katanya tertawa bahagia. Azi dan Iza menanggapi dengan senyuman.


Tiba - tiba seseorang memanggil mama Dimas, beliau melambaikan tangan pada orang yang memanggil tersebut. " sebentar.." katanya.


" Ok Di, kamu ke rumah besok kan... Mama bawa oleh - oleh untuk anak perempuan mama ini, kamu jemput besok ya..." katanya lagi.


" Iya ma.. Iya... " jawabku.


Beliau mengambil sesuatu dari dalam tas dan memberikannya pada Azi dan Iza


" Ini untuk dua cucu oma, oma tunggu di rumah oma ya... Udah Di, see you ya sayang." beliau pergi meninggalkan kami, aku tersenyum melihat tingkah mertuaku itu, sementara Iza dan Azi sibuk membanggakan 2 lembar kertas merah yang berada di tangannya masing - masing.


" Yok, kita pulang sayang." ajakku.


**


" Kamu dimana Dim??" aku memeluk HPku, ini sudah hari ke lima dan dari kemarin HP Dimas tidak bisa dihubungi. Aku benar - benar kecewa, marah, takut. Apa Dimas akan berakhir di pelukan wanita lain juga, seperti dia. Kenangan pahit itu muncul kembali dalam ingatanku, cepat aku beristighfar untuk menghilangkan ingatanku tentang dia yang pernah menyakitiku dan untuk keselamatan hati dan nyawa Dimas.


Aku berbaring diam di dalam kamar Dimas siang ini. Rasanya airmataku pun sudah habis, setiap hari menghubunginya, tapi tetap tidak aktif. Aku pun tidak tahu nomor HP Andi, jadi aku sama sekali tidak tahu harus mencarinya kemana. " Kau jahat Dim, kau benar - benar jahat." kataku dalam hati. Aku memeluk erat bantal yang ada disampingku, aroma tubuh Dimas ada di sana, sampai akhirnya aku tertidur karena hatiku letih.


Aku tersentak dan membuka mata merasakan sebuah sentuhan hangat di pipiku. " Dimasss!!" teriakku, hanya dalam hati. Dia tersenyum menatapku, tapi aku hanya menatapnya diam, tak bergeming. Setidaknya aku tahu kalau Tuhan sudah melindungi nyawanya, tapi entah hatinya.


" Kau tidak merindukanku Di?" tanyanya pura - pura merengut.


" Apa itu masih perlu buatmu?" tanyaku balik.


" Sayang... maaf... semua berjalan tidak sesuai dengan rencana." katanya mencoba menjelaskan.


" Dan sudah berapa kepala kau sandarkan di dadamu Dim?" tanyaku marah

__ADS_1


Dia menatapku tajam dan kesal.


Aku bangkit dari tidurku. Melirik jam di dinding kamar itu, sudah malam, waktunya aku untuk pulang. Aku turun dari tempat tidur dan mengambil tas serta jaketku, mengacuhkan kehadirannya dan tak mau tau apa perasaannya saat ini.


" Setidaknya aku tahu kau masih hidup Dim, meski aku tahu aku akan kehilanganmu. Aku pulang." pamitku.


Dimas berdiri dan mengambil langkah besar menuju pintu kamar. Mengunci pintu dan menarik kuncinya dari sana.


" Aku mau pulang Dim, buka pintunya." kataku kesal. Dia mengacuhkan permintaanku, berjalan santai ke tempat tidurnya dan berbaring di sana.


" Dimas!!" aku kembali memanggilnya dan lagi - lagi di acuhkannya.


Aku diam dan menjatuhkan tubuhku di sofa. Tubuhku benar - benar letih, berhari - hari menunggu tanpa pasti, bersama bayangan kalau suamiku di sana sedang berada di pelukan wanita lain. Tiba - tiba airmataku mulai mengalir, aku merebahkan tubuh di sofa, membelakangi tempat tidur, menyembunyikan airmata dan kekecewaanku di sana. Aku merindukannya, tapi dia tak perduli. Sakit sekali rasanya.


Tiba - tiba, aku merasakan sepasang tangan masuk ke bawah tubuhku dan membawaku ke tempat tidur. Aku diam, tak melawan. Dimas mengatur posisi duduk yang nyaman di atas tempat tidur untukku, lalu dia duduk berhadapan denganku.


" Maaf, untuk semua kekacauan ini. Banyak hal terjadi yang tak sesuai dengan rencanaku di awal." katanya mulai menjelaskan. Aku diam, menahan hati dari keinginan untuk memeluknya.


" Aku tidak sekalipun tidur atau terpikir untuk melepaskan hasratku pada wanita selain dirimu, aku berani bersumpah untuk itu." tambahnya lagi.


" Aku... "


Aku tak membiarkannya menjelaskan apapun lagi, aku tak bisa menahan kerinduanku. Aku bangkit dari dudukku dan melompat ke dalam pelukannya. Dimas kaget, dia tidak siap menerima pelukanku, tubuhnya terdorong ke belakang. Sekarang tubuhku sudah berada di atas tubuhnya, kami saling berpelukan erat. Tangisku mulai pecah, aku sangat letih menunggu dan menahan rindu. Dimas membelai lembut kepalaku,


" Maafkan aku sayang... aku sudah membuatmu cemas." katanya pelan. Aku hanya menjawab lewat anggukan saja.


" Aku merindukanmu Dimassss..." kataku.


" Aku juga sayang, maafkan aku." jawabnya.

__ADS_1


Kami melewati malam dengan melepas kerinduan, melepas hasrat dan keinginan, tak banyak bercerita, tapi nafas kami memburu. Ini bukan tentang menang atau kalah, puas atau tidak, ini tentang cinta dan peraduannya.


__ADS_2