
*
Ping
Aku mengambil HPku dari meja kecil di samping tempat tidur dan mengkerutkan dahi membaca pesan yang baru masuk, ku letakkan kembali HPku di tempat semula dan fokus ke televisi di depanku. Sementara Dimas masih sibuk didepan laptopnya di sofa di samping jendela.
ping
ping
Aku mengambil lagi HPku dan lagi - lagi mengembalikannya ke tempat semula tanpa membacanya.
" Siapa yank?" Dimas mulai terusik
" Nggak tau." jawabku jujur
Dimas berdiri dan berjalan menuju meja kecil itu, aku masih tetap fokus menonton.
" Temanmu?" tanya Dimas, aku mengedikkan bahu
" namanya gak ada, aku gak tahu." jawabku cuek.
Dimas mematikan HPku dan meletakkannya lagi, lalu melanjutkan pekerjaannya.
**
" Ren... aku ke toko ya..." pamitku pada Reni, salah satu teman yang membantuku di kedai.
" Iya Di, hati - hati." jawabnya
" permisi "
aku menoleh pada sebuah suara di belakangku,
" ya." jawabku pendek
" Dirgana Putri kan?" tanyanya padaku, aku menatapnya lama, mencoba mengingat apakah aku mengenali laki - laki di depanku.
" Iya benar, bapak siapa ya?" tanyaku balik
" Aku Hendra Dira... Kau tak ingat aku?" dia menyebutkan nama panggilanku semasa sekolah, berarti dia salah satu teman sekolahku dulu.... Hendra... Hendra...
" Owhhh... Hendra Putra? Mantan pacarnya Yuni kan ya?" tanyaku setelah dapat mengingat. Dia tertawa.
" Enak aja bilang bapak... Setua itu kah aku di matamu Dira???" katanya lagi, kami tertawa bersama.
" Ngapain kamu disini, mau kemana?" tanyanya lagi.
" Aku jualan... nih..." tunjukku ke kedai, " Mau antar makan siang untuk suamiku." sambungku lagi.
" Owh... Ok.. Ok... Silahkan...silahkan... maaf, aku ganggu waktu kamu." katanya.
" Nggak lah... ganggu apaan. Datanglah besok - besok, ajak teman - temanmu... Bantu aku melariskan daganganku..."
Dia tertawa lagi mendengar permintaanku.
" Siipp... tenang aja... kalau perlu, aku yang habiskan." jawabnya lagi.
" Ok Hen, aku jalan ya... Kasihan suamiku menunggu lama." kataku memutus percakapan.
" Iya Dir... Silahkan... Sampai ketemu besok."
Aku langsung menyalakan mesin motorku dan melaju menjauhinya.
***
ping
ping
Aku membuka pesan yang masuk ke HPku,
" Owhhh... dia rupanya." kataku berbicara sendiri.
__ADS_1
" siapa?" tanya Dimas menyelidik.
" teman SMAku dulu Dim, Hendra namanya. Tadi sempat ketemu waktu aku mau antar makan siang ke toko." jelasku.
" Kau belum pernah menceritakannya padaku?" tanyanya lagi.
" Lahhh... karena dia tidak pernah jadi seseorang yang penting dalam perjalanan hidupku, pacarnya dulu adalah sahabatku... mmmhhh... lebih tepatnya mantan sahabat." kataku pelan, mendadak sedih ketika mengingat orang - orang yang pernah sangat dekat tapi cepat merenggang saat aku sangat membutuhkan bantuan.
Dimas melanjutkan makannya, diam tak membahas lagi.
****
" Selamat pagi Dira..."
Aku mengangkat kepala menatap orang yang menyapaku.
" Selamat pagi Hen... " kataku membalas sapaannya.
" Nehhh... aku ajak teman - temanku sarapan disini, biar cepat habis." katanya, lalu kami tertawa bersama.
" Aamiin... silahkan.. silahkan... Ren... Dita... tolong aku dong..."
Dua temanku datang dan melayani pesanan Hendra yang datang bersama 3 temannya.
Setelah selesai makan, Hendra juga memesan 10 bungkus sarapan, pesanan teman - temannya katanya.
" Ok Dira, terimakasih ya... makanannya enak." katanya memuji.
" Alhamdulillah... terimakasih juga sudah membantu menghabiskan daganganku hari ini, sering - sering sarapan disini ya..." kataku, mereka langsung pergi meninggalkan kedai setelah membayar.
*****
" Alhamdulillah... " Tanpa sadar aku berteriak mengucapkan syukur.
" Seneng banget, apaan sih?" Dimas yang masih saja sibuk dengan laptopnya bertanya penasaran. Aku berjalan ke arahnya dan duduk disampingnya. Aku lantas memberikan ciuman di pipinya
mmmuuuaaacchhh
Dimas menutup laptopnya dan menatapku,
" Aku hanya mau kau, tidak ada yang lain." jawabnya, menggendong tubuhku dan membawaku ke ranjang. Aku tertawa mendengar jawabannya. Dengan cepat dia membuka bajunya dan melucuti bajuku satu persatu, kami berlomba untuk saling memuaskan di atas ranjang, lewat sentuhan, ciuman dan kata - kata cinta...
******
" Di, bangun..."
Aku membuka mata dan melihat jam di dinding kamarku.
" Hhmmmhhh... iya yank..." jawabku malas.
Entah kenapa hari ini badanku terasa sangat lemas, kepalaku terasa sangat berat, tulang - tulangku sakit semua. Aku memaksakan tubuhku untuk bangkit, tapi gagal. Akhirnya aku hanya diam saja berbaring terlentang.
" Di... Di..." Dimas lagi - lagi memanggilku.
" Hmmmh... kepalaku sakit yank... bentar..." kataku memohon. Dimas tiba - tiba sudah berada di dekatku, menatapku,
" Kau sakit yank?" tanyanya cemas.
" Hanya pusing sedikit." jawabku lemah. Dimas menyentuh kening dan pipiku.
" Badanmu tidak panas." katanya lagi.
" Hanya pusing Dim... Kau pergi jogging bertiga aja sama anak - anak ya... Sepertinya aku gak kuat." kataku.
Hari Minggu kedaiku tutup, Dimas juga baru akan berangkat ke toko siang hari. Biasanya kami jogging dan sarapan bersama anak - anak dulu setiap Minggu pagi, baru nanti aku menemani Dimas ke toko dan anak - anak menghabiskan waktunya di rumah nenek atau omanya.
" Libur aja joggingnya, anak - anak juga pasti gak mau meninggalkanmu sendirian dalam keadaan begini. Kita ke RS ya..." ajaknya.
" Aku minum obat dan tidur saja sebentar Dim... nanti juga sembuh koq." kataku menolak.
" Hmmmh... ya sudah, aku bilang anak - anak dulu." Dimas lalu menemui Iza dan Azi, aku memaksa tubuhku untuk berdiri dan berjalan perlahan ke kamar mandi, tapi baru beberapa langkah, tubuhku limbung dan aku tak mendapatkan sesuatu untuk menumpu tubuhku.
brukkk...
__ADS_1
gelap...
*******
Dimas
Brukk
Aku cepat berlari ke kamar, disusul oleh Iza dan Azi.
" Di!!"
" Ma!!"
Di terbaring pingsan di lantai, Iza dan Azi menangis melihatnya. Aku menggendong tubuhnya cepat,
" Azi, buka pintu pagar cepat." kataku memberi perintah, dia langsung berlari keluar rumah untuk membuka pintu pagar.
" Iza, masuk!" perintahku kemudian ketika pintu mobil sudah dibuka. Dia cepat masuk ke mobil, aku membaringkan Di dan menggunakan paha Iza sebagai penopang kepalanya.
" Uni... kami ke RS, kunci semua pintu!" kataku memberi pesan kepada asisten rumah tangga yang juga ikut cemas melihat keadaan Di.
Aku menyalakan mesin mobil dan menekan pedal gas langsung setelah Azi naik dan duduk di sampingku.
********
" Bagaimana dok?" tanyaku cepat setelah dokter selesai memeriksa Di.
" Nggak pa - pa... bapak tenang saja." jawabnya santai.
" Istri saya pingsan dok... dokter malah suruh saya tenang. Katakan dia sakit apa?" tanyaku agak kasar.
" Iya... iya... maaf... Istri anda hamil pak... Sudah memasuki minggu ke 5." jawabnya santai.
" Hamil dok.. Istri saya hamil?? Alhamdulillah... terimakasih dokter... terimakasih.." kataku senang. Dokter hanya mengangguk - angguk tenang dan tetap tersenyum ramah.
Aku menyampaikan berita kehamilan Di pada Iza dan Azi, mereka tertawa bahagia mendengar berita ini, begitu juga mama Di dan mama Sandra." Bertambah satu lagi anggota keluarga ini... Terimakasih Tuhan... Terimakasih sayang... " Aku mengecup keningnya pelan.
" Hmmmh..."
Di tiba - tiba terbangun
" Dimas..." panggilnya
" Aku disini sayang..." kataku lembut.
Dia mengerjap - ngerjapkan matanya dan menatapku.
" Hmmmh... kapan kau mengganti warna cat dinding kamar kita yank?" tanyanya, belum menyadari kalau kami sedang di RS. Aku sontak tertawa mendengar pertanyaannya.
Dia membesarkan matanya padaku.
" Kau bawa aku ke RS? Aku kan sudah bilang aku tidak apa - apa... ahhh...." dia mulai menyadari sekarang.
" Kau pingsan sayang... " jawabku pelan
" Hmmmh... iya ya?" Di malah bertanya lagi
" Penyakitku gak serius kan yank... apa kata dokter?" tanyanya lemah
" Serius yank... maaf." jawabku hendak mengerjainya. Matanya kembali membesar menatapku.
" Aku sakit apa? seserius apa??" tanyanya dengan wajah ketakutan.
Aku mendekatkan mulutku ke telinganya, dan berbisik,
" Kau hamil sayang..." jawabku lalu mengecup keningnya lembut. Dia tersenyum.
" Kau mengerjaiku, kau jahat." katanya kemudian, aku tertawa karena berhasil mengerjainya,
" Aku mau pulang yank.. Mau istirahat di rumah aja..." pintanya manja.
" Iya, aku lapor dokter dan urus administrasinya dulu ya... sebentar." kataku, lalu pergi menyelesaikan segala urusan sebelum membawa Di pulang ke rumah.
__ADS_1