
*
Dimas
Aku kembali ke rumah mama, setelah menghabiskan 4 hariku bersama perempuan dan anak - anak yang aku cintai. Di dan pelayanannya membuatku tak mau jauh darinya, tapi dia memaksa. Dia yang dimadu, dia pula yang memohon padaku untuk menjaga madunya. Bahkan mengancam akan mematikan semua rasanya untukku kalau aku tak menurutinya. Meski aku yakin kalau itu tidak mungkin, mengingat dia yang sangat mencintaiku, tapi aku tetap mengiyakan saja apa maunya.
" Kau sudah pulang nak?"
Mama menyambut kedatanganku dengan wajah sedih. Aku mengangguk pelan.
" Bagaimana Di dan anak - anak?"
"Mereka sehat ma... Sangat sehat dan sedih, apa lagi anak - anak. Mendengar kalau papanya akan banyak bekerja di luar kota dan baru hanya akan kembali pada hari Sabtu saja."
Jelasku pelan, aku menunduk
" Owh Tuhan... Semoga mereka selalu sehat dan di beri kebahagiaan oleh Tuhan."
Mama mengusap cepat air matanya.
" Lalu, apa yang dikatakan Di padamu?"
Aku menghela nafas berat dan menceritakan semua yang dikatakan Di padaku. Air mata mama kembali mengalir, beliau pun mungkin merasakan hal yang sama denganku. Bertanya - tanya tentang kekuatan hati Di menghadapi semua ini, juga dengan keputusannya untuk mengalah sangat banyak pada Siska.
" Anak itu selalu bisa membuatku jatuh cinta padanya, dengan usia dan cerita masa lalunya, dia mampu mengalahkan ego untuk memilikimu. Kau jangan pernah melepaskannya Dimas, sampai kapanpun."
Aku menengadah, menahan air mataku mengingat wajah dan keikhlasannya.
" Kalau kau berani melepaskannya, ku masukkan lagi kau ke dalam rahimku. Awas kau!"
Aku tergelak mendengar ancaman mama
" Dimaaaassss...."
Hufffttt... si cempreng ini mulai membuat rumahku seperti hutan. Aku membuang pandanganku keluar rumah, mengusap air mataku cepat.
" Aku merindukanmu sayang... "
Dia cepat mengalungkan tangannya di tanganku, aku menepis tangannya.
" Dimaaasss... jangan kasar dong... Dimas juniornya sedih nih..."
cuih... aku jijik dengan caranya menyebutkan kalau itu benar anakku.
" Aku ke kamar dulu ma... Aku capek."
Aku berbalik badan dan melangkah cepat menuju kamarku, mengacuhkan teriakan cempreng wanita iblis yang memanggil namaku.
**
" Ratihhh!!! Ni Daaaaa!!! Aldo!!!"
Teriakanku melengking ke seantero rumah. Tiga asisten rumah tangga yang ku panggil namanya, langsung datang mendekat dengan wajah ketakutan. Mama, Siska dan Andi mengikuti dari belakang.
" Siapa yang memindahkan peralatan mandi dan semua pakaian Di dari kamarku?"
hening...
" Jawab!"
__ADS_1
Enam orang yang berdiri di depanku melonjak kaget.
" Nona Siska yang memberikan perintah tuan... Maafkan saya tuan..."
Ratih menangis ketakutan
Mama cepat melihat Siska, Andi menunduk dan menggelengkan kepala setelah menepuk keningnya sebentar.
" Apa dia yang menggajimu selama ini?"
Ratih menggeleng cepat.
" Nona Siska bilang, dia akan memecat saya kalau saya tidak menuruti maunya."
Tangisan Ratih semakin kencang.
Kalau tidak mengingat asisten rumah tanggaku yang satu ini adalah seorang janda beranak 4, aku pasti langsung memecatnya.
" Sekarang juga, kalian bertiga... Kembalikan semua barang - barang Di ke tempat semula. Buang keluar semua barang yang bukan milik Di dari kamarku, aku beri waktu 30 menit. Kalau tidak, angkat kaki dari rumah ini sekarang juga."
Mereka mengangguk, masih tertunduk takut
" Sekarang!"
Tiga asisten rumah tanggaku berlarian ke kamar dan mulai mengerjakan perintahku.
" Eh.. tunggu... tunggu Ratih..."
" Berhenti..."
Siska mencoba menahan mereka, tapi tak ada yang mendengarkan... Semua mengacuhkan Siska.
Aku menarik kasar tangan Siska dan membawanya menjauh dari kamarku. Mama dan Andi masih mengikuti kami.
Mama membujukku, tapi aku mengacuhkan
Aku melepaskan tarikanku dan menatap tajam pada Siska. Mama berdiri di antara aku dan Siska, berjaga - jaga kalau saja aku tak mampu mengendalikan emosiku. Andi berdiri di belakangku melakukan hal yang sama dengan mama.
" Kau."
Aku menunjuk mukanya yang menjijikkan
" Kau tidak punya hak mengatur apapun yang ada di rumah ini."
" Tapi aku istrimu!"
Siska melawanku dan berdiri menantang dengan melotot
" Aku tidak perduli!!"
Aku berteriak sekuat tenaga, meluapkan emosiku. Mama dan Andi kembali melonjak kaget
" Jangan pernah kau sentuh atau bahkan memindahkan barang - barang yang ada di kamarku, meski setitik debu sekalipun."
" Aku sedang hamil anakmu Dimas, aku butuh kau di sampingku, aku mau kita tidur sekamar mulai malam ini."
" Aku tidak mau dan aku tidak perduli."
" Kau jahat Dimas... Kau benar - benar jahat."
__ADS_1
" Memang... Aku memang jahat. Meninggalkan perempuan yang aku cintai demi menemani perempuan yang hamil bukan atas perbuatanku. Membiarkannya sendiri menjaga anak - anakku demi wanita gila sepertimu. Kurang jahat apa lagi aku Sis?"
" Aku mau kau perlakukan aku sama dengan Di, berlaku adil lah Dim."
Siska mulai menangis
" Adil katamu Sis? Kau yakin meminta keadilan padaku?"
Aku melotot ke arahnya.
" Kau yang sudah habiskan uangku sampai milyaran untuk membuat senang dirimu sendiri sementara Di membesarkan 3 anakku dengan angka yang sangat jauh darimu, kau bilang adil?"
Mama melotot mendengar kalimatku, lalu menatap marah pada Siska.
" Kau yang selalu menahanku untuk bertemu Di dan anak - anakku, sementara Di meminta bahkan memohon padaku untuk menjagamu begitu dia dengar kau hamil, kau bilang adil!!"
" Keadilan mana yang kau tuntut Siska? Kau sudah menghancurkan kebahagiaanku, kau merebut semua perhatian hanya untukmu, sementara di sana, seorang perempuan dengan ikhlas menyerahkan haknya."
" Kau ingin aku menjagamu, OK, akan aku lakukan atas permintaan Di. Kau meminta semua perhatianku, OK. Itu juga Di yang minta. Tapi maaf... Di hanya meminta 1 hal dariku dan pasti aku akan memberikannya, dia memintaku untuk tidak membagi cintaku untuknya."
" Kalau kau masih ingin berada di rumah ini, mendapatkan perhatian dan penjagaanku, aku mohon... Jangan ganggu cintaku. Kalau tidak, silahkan keluar dari rumah ini dan selesaikan sendiri hutang - hutang ayahmu."
Siska menatapku dengan mata yang membesar, mama kembali terkejut, menatapku dan Siska secara bergantian.
" Kau pikir aku akan diam saja Sis? Aku sudah tau semuanya. Sebentar lagi, aku juga akan tau siapa ayah bayi di dalam perutmu dan melemparmu jauh dari duniaku."
Aku langsung berlalu meninggalkan Siska, yang sekarang harus siap menerima serangan mama, kembali ke kamarku yang sudah rapi kembali seperti semula.
Ketiga asisten rumah tangga itu masih berdiri di depan pintu kamarku, menunduk dan ketakutan. Keringat sudah membasahi pakaian mereka.
" Biarkan dia merapikan sendiri barang - barangnya. Tutup telinga kalian dari panggilannya, aku tidak memberinya hak untuk memerintah kalian. Sampaikan pada yang lain juga, kembalilah bekerja."
Mereka berjalan pergi meninggalkan aku. Aku menutup cepat pintu kamarku dan berbaring letih di sana.
***
Sudah 3 bulan berlalu, menjalani kehidupan tak biasa yang sangat melelahkan buatku. Dua malam tidaklah cukup buatku melepas rindu bersama anak - anak, apa lagi Di. Zya yang semakin besar menuntut perhatian Di lebih banyak. Bahkan tak jarang, aku hanya bermain bersama anak - anak dan langsung tertidur karena kelamaan menunggu Di mengurus Zya. Hufffttt... Sudah 3 minggu aku tak merasakan sentuhannya, bahkan hasratku pun seperti mati karena terlalu letih. Siska yang seperti mendapat angin dari Di selalu minta ini itu, dengan alasan ngidam. Belum lagi harus berpura - pura mesra di depan dokter dan perawat setiap kali mengantarnya cek kehamilan.
Hari ini sangat melelahkan buatku, setelah seharian keliling untuk cek keadaan beberapa toko, aku harus menemani Siska cek kehamilan juga. Aku cepat melepaskan tangannya yang melingkar di tanganku begitu turun dari mobil.
" Dimaaasss...."
Aku menatap matanya, dia pura - pura merengut membalas tatapanku dan mengerling nakal.
" Aku capek Sis, aku malas berdebat."
Aku melanjutkan langkahku menuju rumah, meninggalkannya berjalan sendirian di belakangku, mengacuhkan hentakan kakinya karena kesal.
Aku membuka pintu rumah dan mengucapkan salam dengan pelan,
" Papa... papa.. miss..."
Lelahku seketika hilang, melihat Zya kecil berlari ke arahku sambil memanggilku, aku tersenyum bahagia melihat kehadirannya, berjongkok sambil merentangkan tangan menunggunya yang semakin dekat, lalu cepat menangkap tubuhnya ketika ku lihat langkahnya mulai tidak seimbang.
" Sayang papa... miss you too sayang..."
Aku membawanya ke pelukanku dan menciumi kepalanya.
Di berjalan bersisian bersama mama, mereka sedang menungguku ternyata.
__ADS_1
" Lho... ini kan belum hari Sabtu?"
Kami menoleh cepat pada perempuan hamil bersuara cempreng yang ada di belakangku. Mama cepat memasang pelototan di matanya, tapi Di... lagi - lagi... Di hanya tersenyum ramah menanggapi pertanyaan Siska.