
*
Rania POV
Mendekati tengah malam, aku, Dimas, dan ketiga mamaku pulang bersama dalam satu mobil. Anak - anak beserta baby sitter dan uni sudah lebih dulu pulang selepas magrib tadi. Andi mengajak Andien pulang langsung ke rumahnya bersama papa Andi.
Di tengah perjalanan, ponsel Dimas berbunyi. Dimas mengernyitkan kening menatap nomor yang tertera di layar ponselnya.
" Siapa Dim?"
Aku ikutan mengernyitkan kening sambil menatapnya
" Gak tau, aku gak kenal nomor ini."
" Angkat saja dulu, siapa tau penting."
Ucap mama Sandra dari bangku belakang kami.
" Halo."
" Selamat malam bapak Dimas."
" Ya, malam. Ini siapa?"
Dimas kemudian membelalakkan matanya, lalu segera menepikan mobilnya.
" Siapa Dim?"
" Kau telpon ke rumah sekarang, tanyakan apa Iza ada di rumah?"
" Kenapa?"
Aku langsung meraih tasku yang ku letakkan di antara bangkuku dan Dimas, lalu mengeluarkan ponselku. Sementara sambungan telpon Dimas terputus, dia menatap ke jalanan di depannya dengan cemas.
" Ada apa Dim?"
Mama Sandra bertanya berbarengan dengan mama ku, tapi Dimas tetap diam
" Ya ibu."
Akhirnya uni menjawab telponku, setelah berkali - kali aku menelponnya.
" Iza ikut pulang bersama tadi kan uni?"
" Nggak bu, katanya mau pulang bareng temannya."
" Apa dia sudah sampai rumah?"
" Belum ibu, ini saya masih menunggu Iza pulang, malah ketiduran di depan TV jadinya."
" Coba uni cek ke kamarnya."
Kegelisahan seketika menghampiri kami berlima yang berada di atas mobil. Dimas mengetatkan rahangnya, mengepalkan tangannya di atas stir.
" Iya bu, belum pulang. Kamarnya kosong."
Mataku tiba - tiba panas, dadaku sesak. Aku menghempaskan punggungku ke sandaran bangku.
__ADS_1
" Uni, sekarang juga kunci semua pintu. Jangan buka pintu rumah untuk siapapun. Saya akan menelpon uni kalau kami sudah tiba di rumah nanti."
" Baik bu."
Aku menurunkan tanganku yang masih menggenggam ponsel, menatap ke jalan di depanku dengan nanar.
" Ada apa ini Di, Dimas? Ceritakan pada kami."
Mama Sandra mendesak kami untuk bercerita. Dimas masih diam menetralisir perasaannya, sekaligus berpikir.
" Ada yang membawa Iza pergi ma, Iza belum pulang."
" Seseorang membawanya pergi, orang itu yang menelponku barusan ma."
Suara ketakutan dan kesedihan ketiga mama langsung memenuhi seisi ruangan mobil. Mama ku berteriak histeris, sementara mama Sandra dan mama Vena memeluk beliau untuk menenangkan.
Dimas dengan cepat memutar mobil berbalik arah, lalu membawa kami dengan kecepatan tinggi ke satu tujuan yang aku sendiri tak tau kemana. Mama Ve mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, dan berbicara dengan seseorang.
Aku menahan mataku untuk tak menangis sekuat tenaga, berusaha kuat dan tenang dalam kondisi ini.
" Kau cek GPS ponsel Iza, apa masih aktif?"
Baru saja aku hendak menggeser layar ponselku, panggilan atas nama Iza masuk ke ponselku.
" Kakak.. Kakak... Kakak dimana?"
Diam, tak ada jawaban. Tangisku seketika pecah, karena aku tak mendengar suaranya. Dimas terus fokus ke jalan, mama Sandra dan mamaku berteriak - teriak memanggil nama Iza.
" Rumah besar, papa tau."
" Hei!"
" Izaaaaaa!!!"
Dimas mengencangkan pegangannya pada stir.
" Rumah besar, dan kau tau. Itu yang dia katakan Dim. Dimana itu!"
Tangisan kami para wanita tak membuat Dimas pecah kosentrasi, dia masih mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Mama Vena menutup sambungan telponnya, lalu kembali memberikan pelukan pada mamaku. Mereka bertiga menangis
Dimas menghentikan mobil tepat di depan sebuah rumah besar, lalu mematikan mesin mobil dan turun. Seorang satpam keluar dari posnya menyambut kedatangan kami, nampak Dimas dan satpam tersebut sedang bersitegang di depan gerbang. Aku langsung turun mendatangi mereka.
" Anda buka atau saya akan berteriak mengumpulkan warga untuk memeriksa rumah ini!"
" Tidak bisa pak, bos saya tidak mengizinkan anda masuk."
" Anak perempuan saya ada di dalam! Bajiangan kalian semua!"
" Tolonglah pak.."
Aku memohon, namun si satpam tak jua memberikan izin. Dia malah mengusir kami dengan kata - kata kasar.
Tak berapa lama, beberapa mobil dan motor berhenti di depan rumah besar itu. Berdiri berdampingan bersama mobil kami yang lebih duluan terparkir. Mama Vena turun dan menyambut kedatangan beberapa orang yang turun dari mobil dan motor tersebut.
Dua orang laki - laki bertubuh besar datang menghampiri kami yang masih memaksa satpam untuk membuka gerbang rumah besar itu.
" Kau buka atau ku buat kau mati di tempat!"
__ADS_1
Suaranya pelan, tapi ancamannya berhasil. Salah satu dari dua pria bertubuh besar itu menyentuh senjata yang tersampir di pinggangnya. Satpam tersebut berlari meninggalkan kami dengan wajah ketakutan. Tak berapa lama, gerbang terbuka. Aku dan Dimas langsung berlari memasuki halaman yang luas sebelum mencapai pintu rumah besar yang ada di dalamnya.
Kedua pria bertubuh besar itu mendahului langkahku, bertiga bersama Dimas mereka langsung mendobrak pintu rumah dan langsung masuk ke dalam, aku mengikuti langkah mereka dari belakang.
" Izaaaaa!!"
Anak gadisku tergeletak di lantai, dengan wajah penuh darah dan pakaiannya yang robek di beberapa bagian. Iza hanya diam tak menjawabku, matanya tertutup. Beberapa orang laki - laki muda yang berdiri di dekatnya, sedang mematung menatap kami.
" Berani - beraninya kalian menyentuh anak gadisku!"
Dimas menggeram marah, matanya merah, tangannya terkepal.
" Selamat malam bapak Dimas yang terhormat."
Seorang laki - laki muda lainnya datang dari sebuah ruangan lain di belakang dan berjalan mendekati teman - temannya yang sudah ketakutan, bersamaan dengan masuknya beberapa pria ke dalam rumah, teman - teman dari kedua pria bertubuh besar. Seketika anak muda yang menyapa Dimas tadi membelalakkan matanya, ketakutan nampak jelas di wajahnya. Aku rasa dia tak memperhitungkan kedatangan orang sebanyak ini untuk membantu kami.
" Apa yang kau lakukan pada anakku, apa salahnya?"
Laki - laki muda tersebut kembali memasang wajah angkuh, menyembunyikan ketakutannya tadi dan menatap Dimas dengan tajam
" Bapak Dimas mungkin punya jawabannya, kenapa anda tak tanyakan langsung pada beliau."
" Kalau yang kau maksud adalah apa yang sudah aku lakukan bersama ibumu, aku tegaskan. Aku tidak melakukan apapun dengan ibumu."
Laki - laki muda itu tersenyum sinis, membuang wajahnya
" Bullshit, kau sama saja dengan mamaku. Pembohong!"
Dia kemudian menatap Dimas dengan pelototan
" Berkali - kali aku memergoki kalian berduaan, kau bilang tak melakukan apa - apa. Aku bukan anak kecil yang bisa kalian bohongi, apa lagi yang kalian lakukan berdua di dalam sebuah hotel, kalau bukan melepaskan nafsu biadab kalian!!"
" Kami memang ke hotel, berdua. Tapi kami tidak masuk ke dalam kamar hotel berdua saja dengan ibumu, aku bersumpah aku tidak menyentuh ibumu sama sekali. Kau boleh tanya pada petugas hotel di sana. Apa yang aku lakukan bersama ibumu."
" Bapak Dimas.. Uangmu tentu cukup untuk menutup mulut orang - orang seperti mereka, tidak usah mempermainkan aku."
" Ok, kalau begitu kau tanyakan pemiliknya. Dia bersama kami selama kami di hotel. Kami tidak berduaan saja saat itu. Aku akan menelponnya sekarang, agar kau tau kalau apa yang kau pikirkan salah."
" Jangan permainkan aku!"
" Aku tidak sedang mempermainkanmu!"
Dimas maju mendekatinya, amarahnya seperti ingin dikeluarkan dari tubuhnya.
" Ibumu yang tergila - gila padaku, mana dia sekarang!!"
Laki - laki muda itu diam, membuang wajahnya dengan perasaan kesal ketika Dimas menanyakan dimana ibunya. Kesempatan ini di pergunakan Dimas untuk bergerak cepat ke arahnya, setelah dua pria bertubuh besar tadi memberikan kode untuk maju.
Sebentar saja, beberapa pria yang berdiri di dekat Iza dapat di lumpuhkan oleh pria bertubuh besar bersama teman - temannya. Sementara Dimas bersama laki - laki muda tadi, terlibat perkelahian sengit. Aku segera berlari ke arah Iza, kemudian meminta beberapa orang dari teman pria bertubuh besar untuk mengangkat tubuh Iza keluar dari rumah itu.
Aku mengikuti langkah pria yang mengangkat tubuh Iza dari belakang,
" Tarr.."
" Tarr.. Tarr.."
" Dimaaaaasss!!!"
__ADS_1
Aku menghentikan langkahku dan berbalik badan hendak mengejar Dimas.