Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
TERIMAKASIH


__ADS_3

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada teman - teman yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya... Alhamdulillah... 135 views, meski belum ada yg meninggalkan jejak, saya akan tetap semangat menulis... TERIMAKASIH...


*


Dimas


Di menutup laptopku secara tiba - tiba, aku langsung melihat ke wajahnya, dia berdiri tanpa senyum, menatapku tajam.


" Ada apa Di? Kamu kenapa?"


Dia tetap diam, kemudian maju semakin mendekat padaku yang sedang duduk di sofa. Lalu, dia membuka kakinya dan naik ke pangkuanku perlahan, kami masih saling adu tatap.


" Apa kau sudah tak membutuhkan aku lagi Dim?"


Dia bertanya dengan suara pelan, tatapan matanya masih tajam seperti orang marah,


" Maksudmu?" tanyaku bingung, rasanya aku tidak melakukan kesalahan apapun akhir - akhir ini. Sampai tadi siang semuanya masih berjalan seperti biasa. Kami sarapan dan makan siang bersama anak - anak, " trus kenapa dia seperti ini sekarang?" tanyaku dalam hati.


" Kau sudah tidak lagi menyentuhku, tidak lagi menciumku, tidak lagi minta di hangatkan olehku, apa kau sudah tak butuh aku?"


Aku langsung tersenyum lega mendengar penjelasan dari kata - katanya tadi.


" Tentu aku membutuhkanmu sayang... tapi aku tak mau kau..."

__ADS_1


Kalimatku terputus oleh serangan manis dari bibir Di, tanpa aku sadari aku bahkan mengerang, Di menyapukan lidahnya di seluruh ruang dalam mulutku, menghisap pelan lidahku membuatku tertantang untuk mengulum lidahnya. Tanganku sudah mulai bergerak dan meremas bokong Di, aku sangat tahu kalau disana adalah letak kelemahan Di. Nafsunya akan semakin bergelora setiap aku meremas bokongnya, benar saja, dia mulai menggerakkan bokongnya di pahaku, tangannya sibuk membuka kancing celana pendek yang sedang aku kenakan, memasukkan tangannya ke dalam dan memegang penuh benda yang ada di dalamnya, aku kembali mengerang. Lalu Di menaikkan bagian bawah dasternya, aku baru sadar kalau dia sudah tidak mengenakan celana dalam, sebentar saja, dia sudah berhasil membuat tubuh kami menyatu dan kami sama - sama mengerang atas kenikmatan persatuan yang sudah hampir 3 bulan tidak dapat kami rasakan. Di memulai aksinya bergerak maju mundur dan memutar pantatnya, sambil terus menciumi bibirku, membelai lembut wajah, leher dan dadaku yang masih tertutup kaos oblong. Gerakannya semakin cepat dan bernafsu, melepaskan bibirnya, menengadah sambil mengajak tanganku untuk menyentuh dadanya yang semakin montok sejak melahirkan, lalu... lepas... kami lepas bersama.. Di tertunduk lemas di atas pangkuanku, keningnya di tempelkan ke keningku, nafasnya memburu tak teratur, matanya masih tertutup menikmati pelepasan hasrat yang menggebu...


" aku hanya tak mau kau sakit... aku sangat membutuhkanmu." kataku, lalu mengecup lembut bibirnya.


**


Setelah merasa kuat, Di mengajakku berendam bersama dengan air hangat, aku menuruti. Kami duduk berhadapan menyandarkan punggung dan kepala di dinding bathtub, saling berpandangan dan memberi belaian. Tak berapa lama, Di beringsut maju mendekat, membuka lebar kakiku dan juga kakinya, dia kembali minta disatukan, matanya mengerling manja menatapku, aku tersenyum. Kami kembali berpacu, dengan nafas yang memburu, desahan yang keluar dari mulut Di membuatku semakin tegang dan bersemangat memberikan hentakan, tangannya masih melingkar di bahuku... Kami bergerak seirama, saling memberikan hentakan, dan... aku merasakan denyut kenikmatan dari tubuh Di yang sudah mengerang dan menegangkan tubuhnya, kembali menutup matanya dan menengadah, tapi aku yang belum sampai di puncak cinta, terus menghentak... menghentak... dan... akhirnya mengerang nikmat,


" Aku mencintai mu Di..." teriakku pelan tertahan.


***


" Kamu ke toko hari ini, Dim?


" Aku harus ke beberapa toko hari ini yank... Mungkin pulang agak malam, gaka pa pa kan?" tanyaku pada Di.


" Gak pa pa... tapi jangan terlalu malam juga dong yank... " pinta Di manja


" Iya sayang.... Iya...." Jawabku, lalu berdiri dan memeluknya.


****


Dirgana

__ADS_1


Aku melihat jam di dinding kamar, sudah setengah sebelas malam. Tapi Dimas belum kembali dari pekerjaannya. Aku menghembuskan nafas berat, belum pernah Dimas pulang selarut ini, hatiku tiba - tiba takut dan cemas.


ping


ping


Aku mengambil HP yang tergeletak di meja kecil di samping tempat tidurku, membuka pesan masuk. Sebuah deret angka yang tidak aku kenal, aku buka pesannya. Nampak 2 buah foto dari nomor yang sama, memperlihatkan Dimas yang berada di sebuah restoran sedang tertawa dan ngobrol dengan seorang perempuan cantik. Mereka duduk berhadapan dengan tatapan saling mengagumi, aku membalas pesan WA tersebut,


ini siapa?,


lalu aku kirim, tapi ceklis satu...


Lama dan tak ada jawaban


Hatiku mulai resah, apa masih ada rahasia yang Dimas simpan dariku? Aku sama sekali tidak mengenal perempuan yang ada di foto itu, apa Dimas baru mengenalnya? Begitu banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban tapi tak kutemukan jawabannya selain harus bertanya langsung pada Dimas. Aku mencari nama Dimas di ponsel dan menelponnya... Tidak aktif. Dimas mematikan ponselnya, kenapa? Aku mencoba menghibur hati kalau ponselnya sudah habis daya, karena itu memang sudah jadi kebiasaan Dimas, lupa ngecharge HP.


Sudah pukul 12 malam dan Dimas belum juga pulang, ponselnya pun masih belum aktif.


ping


ping


Aku kembali membuka pesan WA yang masuk, masih nomor yang sama dengan pengirim pesan tadi. Dua buah foto Dimas yang berjalan bersisian masuk ke dalam hotel. "Apalagi ini Dim... Ini bukan kamu kan yank?" kataku dalam hati, tapi tak urung hatiku sakit sekali melihat foto - foto itu, aku menjatuhkan tubuh di lantai dan bersandar pada tempat tidur, meyakinkan hati kalau itu bukan Dimasku... atau memang dia tapi yang terjadi bukan seperti apa yang ada di benakku.

__ADS_1


__ADS_2