
*
Alhamdulillah, hanya satu hari tapi sudah bertambah 116 pembaca lagi, TERIMAKASIH yang tak terhingga untuk pembaca yang sudah hadir. Meski masih belum meninggalkan jejak tertulis dengan like atau komen, semoga akan meninggalkan jejak di hati.
Ini hanya novel khayalan tentang apa yang perempuan ingin dan butuhkan dari laki - lakinya, juga apa yang akan perempuan berikan kepada laki - laki ketika hatinya sudah di bahagiakan... Jadi, biarkan alurnya bergerak liar sesuai imajinasi ya... Selamat berimajinasi dan sekali lagi... TERIMAKASIH...
**
Flashback on
Dirgana
Aku terkejut ketika membuka pintu rumah yang diketuk dari luar, langsung menghambur ke pelukan wanita kedua yang sangat aku hormati setelah mamaku.
" Mama udah pulangggg... Kenapa mama Di gak kasih tau kalau mama berdua udah pulang..."
Aku menangis di pelukannya, bukan semata karena rindu, tapi juga karena hanya beliaulah yang bisa menyelamatkan hubunganku dengan Dimas.
" Iya sayanggg... mama mau buat kejutan."
Beliau memberikan belaian hangat seorang ibu di kepalaku. Perlahan ku lepaskan pelukannya dan menatap wajahnya yang selalu ceria.
" Mama koq gak bilang kalau udah sampai di rumah ya ma?" tanyaku pada mama Sandra.
" Mamamu nyangkut di Medan, masih pengen ngumpul sama keluarga besarmu katanya."
Aku mengangguk mengerti. Mama memang sudah lama tidak pulang ke Medan, tempat beliau di lahirkan dan juga dibesarkan. Beliau juga pasti ingin ziarah ke makam almarhum abahku di sana, sekalian melepas kangen dengan semua saudara.
Aku mengajak mama Sandra masuk ke dalam rumah, beliau langsung mencari anak - anak. Sementara Iza dan Azi masih di sekolah dan Zya sedang bermain di depan televisi yang tidak menyala. Aku memang bukan penonton TV sejati, TV hanya akan menyala ketika anak - anak dan Dimas di rumah saja. Mama mulai melepas kangen dengan Zya, membawanya ke gendongan dan menciuminya.
" Dimas mana?"
Aku diam sambil menyiapkan minuman untuk mama, ingin sekali segera bercerita pada mama. Mama memperhatikan gerak gerikku,
" Dimas mana Di?"
Tanyanya lagi. Aku kembali ke depan TV dengan segelas minuman dan snack untuk mama.
" Mama minumlah dulu."
Mama masih memperhatikan wajahku yang kusut, Zya tertawa - tawa sendiri melihat wajah omanya.
" Kalian baik - baik saja kan?"
__ADS_1
Mama mulai merasakan ada hal yang tak beres yang sedang terjadi antara aku dan Dimas. Aku menunduk dan mulai terisak, menangis di depannya.
" Ada apa Di, apa yang sudah dilakukan si belegug itu ke kamu? Ceritakan pada mama nak."
Mama mengelus - elus pahaku untuk menenangkanku, tangan kirinya masih digunakan untuk menggendong Zya. Aku menceritakan semua kemarahan dan kekecewaanku pada Dimas, mama mendengarkan tanpa menyela ceritaku. Semua ku ungkapkan pada mama, beliau juga merasa sedih atas apa yang sudah terjadi. Setelah lama mendengar keluh kesahku, mama mulai menenangkan dengan kalimat - kalimat yang membuat hati dan batinku jauh lebih tenang, dan atas ide mama jugalah aku berbuat gila seperti ini untuk menarik kembali hati Dimas buatku.
***
Dimas
Di tidak memberitahuku soal kedatangan mama, kami terlalu sibuk bercinta untuk melepas kerinduan kami. Setelah 2x pelepasan di ruang kerja, kami bahkan melanjutkannya di mobil kami yang masih terparkir di depan toko. Ini memang mesum, tapi sah. Aku pun tidak menyangka kalau Di bisa segila ini hari ini, entah siapa yang memberikannya ide, tapi aku sudah berjanji dalam hati akan memberikan hadiah untuk orang yang memberikannya ide. Ketika melihat mama di rumah sedang menggendong Zya yang sudah tertidur, aku langsung bisa menebak, siapa yang memberikan ide gila seperti ini padanya.
Anak - anak sudah berada di kamarnya masing - masing, setelah melepas rindu dengan omanya dan VC dengan neneknya yang masih berada di Medan setelah selesai makan malam tadi.
Tokkkk
" Aduh ma... apaan sih?"
Aku merasakan sakit di kepalaku
Tokkkkk
Tokkkk
teriakku sambil melindungi kepala dengan kedua tanganku.
" Berani kamu nanya lagi kenapa mama memukul kepalamu?
Mama lalu menjambak rambutku dan mengguncang - guncang kepalaku, aku kembali berteriak kesakitan, sementara Di menenangkan mama sambil menarik tangan mama dari rambutku, dan itu sama saja artinya mereka berdua sedang menjambakku.
Mama berhenti menjambak rambutku setelah puas melepas kemarahannya padaku. Beliau lalu mengambil gelas berisi air putih yang berada di depannya dan meminumnya habis. Nafasnya tersengal seperti baru selesai lari dari kejaran anjing. Aku masih memegang kepalaku yang terasa sakit, kalau bukan mama, mungkin sudah ku ajak gulat wanita di depanku ini.
" Gua gak jodohin lu sama Di ya Dim... Lu ingat itu. Lu yang milih dia sendiri buat jadi istri. Lu ingat nggak?"
Kalau sudah pakai kata " lu " dan " gua " artinya beliau sudah sangat marah, aku cepat mengangguk mengiyakan.
" Tega - teganya lu ngebela cewek laen selain dia, sementara yang ngurusin lu selama ini dia."
Mama mengambil sendok yang ada di dekatnya dan mengambil ancang - ancang untuk melemparnya padaku. Di cepat menahan tangan mama, sementara aku cepat melindungi diri dengan bantal besar yang aku pangku dari tadi.
" Gemes banget gua lihat tingkah lu... Anak udah 3 juga... gaya lu kayak ABG. Gua gak pernah ngajarin lu untuk berbuat kasar sama perempuan, sebesar apapun kesalahannya."
Mama kembali mengatur nafasnya.
__ADS_1
" Lu masih mau ma dia atau mau sama si Siska kawan lu itu?"
Mama bertanya dengan suara keras, tangannya kembali mengambil sendok tadi dan menggenggamnya di tangan, Di hanya diam dan selalu waspada pada gerakan mama.
" Gua nanya belegug... Jawab!"
" Iya iya mamaaaa... Dimas mau Di, cuma Diiii."
" Ya udah, bela dia. Dia istri lu. Bukannya malah belain orang lain."
" Lu denger nggak?"
Aku cepat menganggukkan kepala, takut kalau - kalau sendok mendarat lagi di kepalaku.
" Lu suruh si Siska balik ke habitatnya, ngapain disini kalau hanya untuk ngancurin rumah tangga orang."
Aku masih diam dan sama waspadanya dengan Di.
" Di luar sana memang banyak yang lebih cantik dari istri lu, tapi lu ingat, lu udah janji sama Tuhan untuk membahagiakan hanya istri lu dan anak2 lu, bukan mereka yang banyak itu. Lu mau di kutuk Tuhan, usaha lu di ambil semua? Ha? Mau lu?"
Aku menggelengkan kepalaku lemah.
" Kalau lu ulang lagi kejadian seperti ini, gua habisi lu!"
Mama memperagakan gaya seperti memotong leher, lalu mengarahkan kepalan tangannya padaku.
" Kamu juga Di... Mama ingatkan sekali lagi, komunikasi, apapun masalahnya cepat komunikasikan, jangan biarkan berlarut - larut dalam sikap diammu. Masalah tidak akan selesai."
Suara mama berubah sangat lembut untuk Di, aku jadi bingung, yang anaknya itu aku atau Di?
" Bagaimanapun caranya, komunikasikan cepat."
Di menunduk dan mengangguk pelan.
" Lagipula, dalam menghadapi manusia seperti anakku ini, kau harus punya banyak taktik untuk membuatnya bertekuk lutut. Kalau perlu, kau lemparkan sendok ke kepalanya setiap pagi!"
Nah... kan... Selalu saja dengan nada do tinggi kalau bicara untukku. " Tuhan... berikan petunjukMu, aku ini anak siapa?" aku berkata dalam hati.
" Lu anak gua, 100 persen anak gua."
Aku cepat menoleh pada mama, sejak kapan beliau bisa mendengar isi hati anaknya?
" Gua hapal gaya sok **** lu, awas lu!"
__ADS_1
Kembali mengancam dengan sendok yang seperti akan dilayangkan padaku. Aku kembali menggunakan bantal sebagai tameng.