Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
SALAH PAHAM


__ADS_3

Aku tiba di depan rumahnya tepat pukul tujuh. Aku baru akan mengambil HP untuk memberitahunya, ketika pak satpam menyapaku.


" Uni, sebentar... Saya panggilkan tuan Dimas dulu." aku mengangguk dan memberikan senyuman untuk mengiyakan padanya.


Tak lama, pintu gerbang dibuka lebar, aku memundurkan motorku karena tadi letaknya tepat di depan pintu gerbang. Aku melihat sinar terang dari sebuah mobil berjalan keluar dari bawah rumah besar itu, lalu berhenti tepat di depan motorku. Pintu mobil terbuka, Dimas keluar dari dalam mobil dan...


" Kita naik mobil saja, motormu tinggalkan di sini." mataku membesar mendengar perintahnya.


" Katamu kau minta di antarkan, aku akan antar dengan motorku, atau tidak jadi saja." kataku marah. Sebelum aku menyalakan kontak motorku, tangan Dimas cepat mengambil kunci motor dan menyerahkannya pada pak satpam.


" Masukkan ke dalam pak." katanya memberi perintah, pak satpam hanya mengangguk mengiyakan.


" Nggak, Dimas!!" mataku membesar, marah. Dia hanya menatapku lembut dan mendekatkan tubuhnya padaku.


" Iza sudah mau SMP kan Di?" deg... jantungku serasa berhenti. Darimana dia tahu tentang anak - anakku, laki - laki ini benar - benar gila. Aku menahan air mata yang menyentak ingin dikeluarkan karena dadaku yang tiba - tiba sesak. Dia menatapku mengejek, aku mengalihkan pandanganku jijik. Berkali - kali mengucapkan kata maaf untuk anak - anakku dan mama. Aku turun dan pasrah saja ketika motorku di bawa masuk oleh pak satpam. Dimas meraih tanganku dan membawaku masuk ke dalam mobilnya, aku hanya bisa mengutuki diriku yang lemah.


Dimas

__ADS_1


Maafkan aku Di, aku tahu sekarang kau marah. Tapi, percayalah aku hanya ingin membahagiakanmu, bukan hanya sekedar seks dan aku merindukanmu. Aku tidak punya cara melemahkan egomu selain lewat anak - anakmu. Jujur saja aku kaget mendengar kau yang sudah punya anak, dua pula. Tapi, kegilaanku padamu menepis kekecewaanku itu. Apa salahnya dengan janda beranak dua, aku mampu menafkahi 10 anak bahkan lebih.


Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, dia masih membuang pandangan keluar lewat jendela di sampingnya. Tak sekalipun dia merespon kata - kataku. Di, begitu marah kah kau padaku. Aku mulai kesal dengan keadaan ini, sudah hampir satu jam dia mendiamkan aku. Aku menepikan mobil dan mematikan mesinnya. Diam... dia masih diam, bahkan menahan geraknya sendiri.


" Di!!" panggilku kasar. Dia cepat menolehkan kepalanya padaku, matanya melotot dan basah. Dia menangis, jadi dari tadi dia menangis dan aku tidak menyadari itu.


" Aku tidak akan melakukan apapun padamu Di, percaya aku." kataku pelan, dia masih diam menatapku.


" Aku hanya ingin menghabiskan malam ini bersamamu, itu saja." sambungku lagi.


" Ya, aku tahu." dia mulai merespon.


" Hentikan Di, tidak. Aku tidak menginginkan itu." kataku iba. Airmatanya masih mengalir deras, tanpa isakan.


" Ok, berarti kau akan membawaku ke hotel atau ke salah satu tempat peristirahatanmu lagi." Dia kembali mengatupkan kemejanya, memperbaiki posisi duduknya dan kembali menatap ke samping jendela. Sungguh, aku tak pernah sebingung ini menghadapi perempuan. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, aku hanya ingin berduaan dengannya, bercerita, membuatnya tertawa, tapi kenapa jadi seperti ini.


" Begini, lihat aku Di!!" aku mulai hilang kesabaran. Memaksa wajahnya untuk menghadap ke arahku, aku pegang pipinya dan menatap matanya. Dia diam, menatap mataku.

__ADS_1


" Ok, kita tidak akan tidur di hotel atau di tempat peristirahatan seperti yang kau tuduhkan. Kita memang akan ke tempat peristirahatanku, kita duduk, ngobrol dan tidur di mobil saja, temani saja aku ngobrol. Bagaimana?" tanyaku.


" Terserahmu saja Dim, lakukan saja apa yang kau mau. Kau sudah menyewaku bukan? Aku hanya ingin lihat, apakah kau akan puas tanpa menyentuhku." Aku benar - benar putus asa mendengar jawabannya. Aku membanting tanganku di atas stir, menyalakan mesin dan menekan pedal gas dengan kasar. Aku benar - benar marah dan kesal sekarang. Aku membiarkan mobilku melaju dengan kencang membelah malam, Di mulai berpegangan pada pintu untuk menahan gerakan tubuhnya, tapi dia tetap diam. Aku berbelok cepat ke sebuah jalanan gelap, menelusuri jalanan dengan kecepatan tinggi, lalu menekan klakson mobilku berulangkali dan masuk ke sebuah pekarangan. Aku menekan rem mobilku secara mendadak, membuat tubuhku dan Di terdorong ke depan. Aku mulai tidak perduli. Aku turun dari mobil tanpa mengajaknya turun, lalu masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal. Aku mengacuhkan sapaan uni Rahmi dan langsung masuk ke kamarku.


**


Aku membuka mataku perlahan, mengerjap - ngerjapkannya sebentar dan melirik jam besar yang ada di dinding kamarku. Pukul 11.00, aku tiba - tiba teringat sesuatu. " Di.." aku cepat bangkit dan berjalan cepat keluar dari kamar, melewati ruang tamu menuju mobil yang aku parkir di depan rumah. Aku terkejut melihat mobilku yang kosong, lalu masuk kembali kedalam rumah.


" Uni.. Uni Rahmi!!" aku berteriak memanggil - manggil asisten rumah ini. Seorang perempuan muda keluar dari ruangan dalam rumah tergesa - gesa.


" ya tuan..." jawabnya pelan.


" Teman saya, kamu lihat teman yang datang bersama saya tadi?" tanyaku padanya.


" Owh... iya tuan... Di belakang." aku menghembuskan nafas lega. Aku pikir dia sudah pergi meninggalkan aku.


" Dia sudah makan?" tanyaku lagi

__ADS_1


" Belum tuan, menunggu tuan katanya." jawab uni Rahmi.


" Siapkan makanan uni, saya lapar." kataku sambil memegang perut. Uni Rahmi berlalu meninggalkanku, aku masuk ke dalam kamar mandi di kamarku, membasuh muka dan membasahi kepalaku yang sedikit pusing. Perempuan satu ini berhasil membuatku sakit, ujarku menggerutu.


__ADS_2