Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
SETELAH 2 TAHUN


__ADS_3

Dirgana


*


" Nenekkk!!!" Anak - anakku langsung mencari mama begitu kami turun dari taxi. Aku menyerahkan uang pembayaran jasa dan ikut masuk ke dalam rumah. Ketiga orang yang aku cintai sedang saling berpelukan melepas rindu. Aku berjalan mendekati mama dan mengambil tangan beliau, lalu mencium punggung tangan tersebut. Beliau langsung memelukku erat, aku membalas pelukan hangatnya yang sangat aku rindukan.


" Sehat Di?" tanya beliau setelah kami melepas pelukan.


" Sehat ma... Alhamdulillah." jawabku.


Setelah itu anak - anakku memulai keramaiannya, berebutan bercerita panjang lebar tentang pengalaman mereka. Mama jadi bingung mau mendengarkan yang mana dulu, aku hanya tertawa sambil menyusun semua pakaian kami ke dalam lemari di kamarku.


**


" Dimas masih terus mencarimu Di." mama membuka obrolan pagi dengan menyebut namanya lagi. Anak - anak masih tidur, setelah semalaman sibuk berbagi cerita dengan neneknya.


" Dia bahkan belum mengurus surat perceraian kalian." aku masih tetap diam.


" Kembalilah kalau kau merasa jauh darinya malah lebih menyakitkan, belum terlambat. Mama Sandra dua hari yang lalu bahkan menelpon menanyakan kabarmu, dia merasa melihatmu di salah satu tempat yang dia kunjungi." Mama masih terus bercerita tentang mereka, membuat aku teringat pada semua kenangan tentangnya.


" Sudahlah ma... Biarkan takdir membawa ku ke tempat yang seharusnya. Aku tidak mau egois kalau soal anak - anak, buatku mereka yang utama." Jawabku tenang.


***


Dimas


Aku menengadahkan kepalaku, akhir - akhir ini kepalaku sering sakit. Mungkin tekanan darah atau kolesterolku naik lagi.


" Hi Dim..." Sebuah sapaan mengagetkanku, aku memperbaiki dudukku dan menatap orang yang tadi menyapaku. Huffttt... Dia lagi.


" Makan yuk..." ajaknya dengan gaya khasnya yang dibuat - buat.


" Aku sibuk Nad, sorry." kataku menolak


" Pegawaimu kan ada." jawabnya

__ADS_1


" Maaf Nad, aku gak bisa." kataku lagi, aku bangkit dan berjalan menuju ruangan kecil di toko untuk tempatku beristirahat, tapi sebuah tangan menahanku.


" Ayolah Dim... Sebentar saja..." aku memandangi pegawaiku yang hanya diam saja melihatnya masuk ke toko. Aku menghempas tangannya dengan kasar.


" Kalian bisa kerja nggak!" bentakku pada mereka, mereka diam menunduk ketakutan.


Andi tiba - tiba datang dan masuk ke toko, menarik keluar tangan perempuan itu adalah hal pertama yang ia lakukan. Aku melanjutkan langkahku masuk ke dalam ruangan. Suara Andi menggelegar mengingatkan pegawaiku kalau perempuan itu dilarang masuk ke toko ini. Aku menjambak - jambak rambutku untuk meredakan sakit di kepala sambil berbaring menatap langit - langit di ruangan ini.


****


Dirgana


Urusan kepindahan sekolah anak - anak sudah selesai, aku mengendarai motor pelan mengingat masa - masaku ketika ngojek. Aku melewati basecamp ku dulu, masih ada tapi tak ada yang ku kenal disana. Aku melanjutkan perjalanan, bermaksud untuk melihat kedai yang akan aku jadikan tempat untuk memulai usahaku disini.


Akhirnya aku tiba di tujuan. Aku sudah sempat ngobrol dengan si empunya kedai, jadi hari ini aku hanya ingin memeriksa isi dan keadaan kedai. Pemiliknya sangat ramah, kedainya pun bersih dan aku suka posisi kedai ini yang berdekatan dengan kampus, rumah sakit dan banyak kantor. Aku memang berencana membuka usaha kuliner di sini, tentunya kondisi sekitar menjadi pertimbangan utama. Kalau ini hanya area sepi, bagaimana usahaku bisa jalan. Aku langsung membayar biaya kontrak kedai dan bermaksud untuk mulai menata ruangannya besok.


Setelah selesai dengan urusan kedai, aku langsung ke pasar untuk lihat - lihat alat dapur dan alat makan untuk kedaiku nanti. Aku berjalan keluar masuk toko peralatan rumah tangga dan membeli beberapa barang yang aku suka. Langkahku terhenti di depan sebuah toko emas, teringat anak gadisku yang berulangkali mengungkapkan keinginannya untuk memiliki kalung. Aku melangkah masuk ke toko, TOKO MAS DIA. Aku tersenyum melihat nama tokonya, lalu melihat - lihat ke bagian kalung dan memilih beberapa kalung sederhana untuk anak gadisku.


" Ini berapa beratnya?" tanyaku pada salah satu pegawai toko yang melayaniku.


*****


Dimas


" Ini berapa beratnya?"


" terimakasih ya, mari..."


aku membuka mataku lagi lalu bangkit dan berlari keluar dari ruanganku. Pegawaiku kaget mendengar suara pintu ruangan yang tiba - tiba terbuka, mereka memandangiku bingung.


" perempuan yang bilang terimakasih tadi kemana?" tanyaku. Mereka serentak menunjuk ke arah kanan toko. Aku berlari keluar toko, mengejar si pemilik suara, mencari kesana kemari... dan nihil.


" Dimaass!!!" seseorang yang tidak ku harapkan yang malah aku temukan, dia langsung mengalungkan tangannya di tanganku dan menempel manja. Aku hanya diam menunduk, malu pada orang - orang disekitarku yang memandang kami aneh, aku cepat menariknya menjauh dari sana.


******

__ADS_1


Aku diam terpaku ditempatku berdiri, menatap pemandangan di depanku, seorang laki - laki dan seorang perempuan yang sedang bergandengan, perempuan itu bergelayut manja disampingnya, tanpa kusadari airmataku jatuh, aku cepat mengusapnya dan berbalik pergi menjauh dari sana. Aku melangkah cepat menuju tempat parkir, menyalakan motorku, membayar parkir dan tancap gas. Aku menurunkan penutup helm ku, menyembunyikan airmata yang tak mampu ku tahan, menggigit bibirku kuat untuk menahan sesak... " Dimas..." aku mengerjapkan mataku yang perih lalu membukanya cepat,


" Allahuakbar..."


Seorang wanita tiba - tiba hendak menyeberang ketika aku baru membuka mataku, untung saja aku cepat menekan rem di tanganku. Tapi, perempuan itu terjatuh karena kaget. Aku cepat mengeluarkan standar motorku, menarik dan menyimpan kuncinya di saku celanaku, lalu turun menghampirinya.


" Maaf bu, maaf... ibu tidak apa - apa?" kataku sambil membuka penutup helmku dan memeriksa kaki dan tangannya satu persatu. Perempuan itu sibuk memperbaiki topi pantai yang dikenakannya, sehingga mengabaikan pertanyaanku.


" Aduhhhh... kamu ni, ha..." Dia tiba - tiba diam, aku mengangkat kepalaku melihat ke wajahnya.


" Di?? Di?? Ini kau nak?? Alhamdulillahhhh!!!! Dirgana... Dirgana... Dimas... Dimas.." beliau berteriak dan cepat membuka HP di tangannya dan menggeser layarnya mencari nama Dimas. Aku menghentikan gerakannya, dia menatapku.


" Jangan ma... Di mohon..." kataku sambil menangkupkan kedua tanganku di depan dada. Mama melihatku iba, tangannya di letakkan dipipiku dan menganggukkan kepalanya pelan.


" Antar mama pulang nak..." pintanya lembut


" Maaf ma... Di gak bisa antar mama, "


" Dimas belum ada di rumah kalau jam segini nak... percayalah pada mama. Dia selalu pulang menjelang subuh semenjak kepergianmu nak, antarkan mama ya... tolong."


*******


Dimas


Kepalaku semakin sakit dengan kehadiran perempuan ini, aku memenuhi keinginannya untuk makan bersama, lebih tepatnya dia yang makan, sementara aku hanya diam menemani. Pikiranku melayang pada Di, apa dia sudah kembali, apa dia sudah menemukan pengganti, masih adakah harapanku untuk bersamanya, puluhan pertanyaan berkumpul di otakku. Sepertinya, aku harus menemui mama Di untuk memastikan kalau yang aku dengar tadi memang benar suara Di.


" Dimaaaas..."


aku menatap perempuan didepanku


" apa?" tanyaku kasar


" Kau mengacuhkanku... aku gak suka." katanya sok manja, " lalu apa perduliku?" kataku dalam hati.


" Cepatlah Nad, kepalaku sakit, aku mau pulang." kataku lagi

__ADS_1


" Kau sakit sayang..." ujarnya pura - pura perhatian, lalu memegangi pipi dan keningku. Aku menepis tangannya dari wajahku. Dia menatapku dengan wajah pura - pura cemberut.


" Begini saja, lanjutkan saja makanmu. Aku pulang duluan, aku sudah tidak tahan dengan sakit ini." kataku, langsung berdiri, mengambil dompet dari saku belakang celanaku dan meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja. Setelah itu, aku langsung keluar dari restoran dan memutuskan untuk pulang.


__ADS_2