Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
MEMINTA KEBENARAN ( 1 )


__ADS_3

Author POV


Setelah mengantar Azi mendaftar untuk latihan di tempat baru, Dimas kembali ke rumah.


" Assalammualaikum."


" Waalaikumsalam.."


Di langsung bangkit dari duduknya sambil menggendong baby Hafiz untuk menyambut Dimas.


" Azi mana Dim?"


" Langsung latihan, nanti dia pulang pakai gojek katanya."


" Owh.."


Dimas mengambil Hafiz dari gendongan Di dan berjalan ke kursi santai di ruang keluarga.


" Assalammualaikum."


" Waalaikumsalam."


Iza yang baru pulang sekolah, langsung masuk ke kamar setelah memberi salam dan mendengar salamnya dijawab. Di memperhatikan gerak geriknya yang tak biasa. Tak ada sapaan untuknya dari Iza, tapi Di cepat - cepat membuang kekhawatirannya dan langsung ke dapur untuk menyiapkan teh hangat buat Dimas. Dimas yang juga ikut memperhatikan keanehan sikap Iza kembali bermain dengan baby Hafiz.


*


Azi sangat bersemangat menceritakan kegiatan latihan pertamanya hari ini pada Dimas dan Di seusai makan malam. Nampak sekali gurat kebahagiaan di wajahnya, Dimas dan Di tersenyum mendengar cerita Azi dan juga melihat sorot mata bahagia dari Azi ketika bercerita.


" Iza ke kamar dulu ma.. pa."


Iza bangkit hendak meninggalkan ruang makan,


" Sebentar Za, duduklah dulu."


Iza menghentikan gerakannya yang hendak melangkah meninggalkan meja makan, dan kembali duduk di tempat duduknya tadi.


" Ada yang ingin kau ceritakan Za? Ceritakan pada kami."


tanpa basa basi, Dimas langsung memberi perintah pada Iza. Di menoleh pada Iza yang hanya menunduk, begitu juga Azi.


" Za... Mama mohon, jangan pernah menyimpan hal sekecil apapun di hatimu. Ceritakanlah nak, kami akan mendengarkanmu."


Iza masih diam, menimbang - nimbang sesuatu hal yang sedang mengganggu pikirannya.


" Iza."


Dimas mulai tak sabar menunggu.

__ADS_1


" Siapa Radit Arya pa? Apa benar dia ayah kandung kami?"


deg


jantung Dimas dan Di seakan berhenti tiba - tiba, mereka berdua menoleh dan saling berpandangan. Iza dan Azi menatap Dimas dan Di sambil menunggu jawaban dari keduanya.


" Kenapa tiba - tiba kau menanyakannya Za?"


Di berusaha untuk tetap tenang dan mengatur detak jantungnya agar kembali normal.


" Bapak Radit beberapa kali datang ke sekolah Iza, mengaku kalau dia adalah ayah kandung Iza. Tadi dia datang lagi dengan seorang wanita, bapak Radit bilang itu oma Iza. Tolong mama dan papa ceritakan pada Iza, bagaimana orang yang selama ini mama bilang sudah meninggal bisa hidup kembali dan menemui Iza."


Di menghela nafas pelan,


" Ayah kandung kalian memang masih hidup, nuraninya lah yang mati."


Azi dan Iza membelalakkan mata menatap Di.


" Dia sudah mencampakkan kita dari kehidupannya, apa salah kalau mama bilang nuraninya sudah mati?"


Di menatap Iza dan Azi secara bergantian.


" Mama yang menjauhkan kami darinya, sehingga dia tak bisa menemui kami. Mama pergi meninggalkan papa, saat papa sedang dalam keadaan terpuruk dan miskin. Membawa aku dan Azi yang baru lahir pergi dengan laki - laki lain. Mama..."


" Iza!!"


" Itu cerita versi ayahmu, kamu sedang meminta mamamu bercerita atau hanya ingin menyalahkannya?"


Dimas bertanya dengan suara yang keras dan dingin. Di menunduk dan terisak, " sungguh kejam kau Radit." ucapnya dalam hati.


" Ya, kau benar Za. Ayah dan omamu benar. Aku yang pergi meninggalkan ayahmu, membawamu dan Azi menjauh darinya. Kau benar. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?"


" Di!!"


" Biarkan saja Dim. Biarkan hati kecilnya yang memilah, siapa yang menurutnya benar dan siapa yang berbohong."


" Apa lagi yang ingin kau tanyakan, silahkan tanyakan."


" Papa Dimas sudah mengambil semua toko punya ayah juga membawa mama pergi dari kehidupan ayah. Papa benar - benar kejam!"


Di tersenyum, sekarang giliran Dimas yang difitnahnya.


" Ok, sekarang kau sudah tau kebobrokan kami. Sekarang apa maumu?"


Di tak memberikan kesempatan pada Dimas untuk menyela, menatap lembut pada anak gadisnya dengan air mata yang berurai di wajahnya.


" Kembalikan semua toko papa, Iza dan Azi tidak mau tinggal bersama pengkhianat!"

__ADS_1


Iza ikut menangis, Azi menatap Iza bingung. " Kapan aku bilang seperti itu?" pikir Azi.


" Permintaan keduamu, aku kabulkan. Silahkan hidup dan tinggal bersama ayah dan omamu yang sangat mencintaimu."


Dimas kembali menatap Di dengan marah, namun Di mengacuhkannya.


" Permintaan pertamamu tak bisa aku berikan. Karena semua toko yang dipegang papa Dimas adalah milik papa Dimas, bukan milik ayahmu."


" Mama serakah!"


" Ya, aku serakah! Aku memang serakah!"


Di berdiri menatap Iza yang juga sedang menatapnya dengan marah.


" Karena aku serakah makanya aku tak mau ayahmu berbagi cinta dengan perempuan lain."


" Karena aku serakah makanya aku menolak uang yang diberikan omamu itu padaku untuk meninggalkan ayahmu dan pergi dari kehidupannya bersamamu dan adikmu."


" Karena aku serakah makanya aku membawa kalian pergi menjauh darinya yang tak menginginkan kalian saat itu. Aku serakah! Aku serakah akan cintaku pada kalian!"


Di akhirnya membuka satu persatu kebenaran pada Iza, air matanya mengalir deras tak terbendung.


" Coba kau ingat, kapan pertama kali papa Dimas datang ke rumah dan mulai dekat dengan kalian? Kalau aku pergi dengan papa Dimas meninggalkan ayahmu, kenapa aku harus menunggu sampai kau sekolah dulu baru menikah? Kenapa aku tidak langsung menikah saja?"


" Kalau kalian ingin pergi, silahkan pergi! Sudah cukup waktuku untuk mengurusi kalian. Mungkin sudah saatnya ayahmulah yang mengurusimu. Tapi ingat, sekali kau melangkahkan kaki dari rumah ini, jangan pernah kembali ke rumah ini lagi dan memanggilku mama!"


Dimas diam menoleh pada Iza yang terdiam mendengarkan semua ucapan Di.


" Kenapa mama tidak pernah menceritakannya pada kami? Kami sudah besar ma, kami harus tau siapa ayah kandung kami."


Iza mulai melunak, mata hatinya mungkin sudah terbuka mendengar kata - kata Di.


" Karna tak ada secuil cerita kebahagiaan pun tentang ayahmu. Dia tidak menginginkan kalian, aku melahirkan kalian berdua, bertaruh nyawa sendirian. Tak ada ayahmu di sampingku saat itu. Bahkan omamu, ibu dari ayahmu itu, mendatangi aku satu hari setelah Azi lahir. Memberikan aku uang untuk meninggalkan ayahmu, agar ayahmu bisa menikah dengan perempuan lain."


" Ayahmu adalah saudara tiri dari papa Dimas, omamu sudah merusak kebahagiaan oma Sandra, mengambil opamu untuk dirinya sendiri, begitu juga semua aset dan harta yang dimiliki opamu."


" Mereka hanya memberikan sebuah toko kecil pada oma Sandra, toko itulah yang dikelola oma Sandra sampai papa Dimas dewasa dan bisa menjalankan toko kecil itu."


" Kalau ayahmu bilang papa Dimas mengambil semua tokonya dan membawa pergi aku dan kalian, itu sebuah kebohongan besar. Dialah yang mengambil semuanya dan dia pula yang mencampakkan kita!"


Nafas Di kembali memburu tak beraturan, seiring detak jantungnya yang berantakan. Seketika Di merasakan kepalanya sangat pusing.


" Sekarang terserah padamu Za, kau boleh pergi ke tempat ayahmu. Aku tidak akan melarangmu, kau sudah dewasa. Aku tidak akan memaksa kalian untuk tinggal bersamaku, aku hanya ingin kalian bahagia, itu saja."


Di kembali merasakan pusing di kepalanya, seketika pandangannya mengabur. Di cepat meraih ujung meja untuk menopang tubuhnya, tapi tak berhasil. Di limbung dan jatuh ke lantai.


" Dirgana!!"

__ADS_1


" Mamaaa!!"


__ADS_2