Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap

Aku Bukan Bidadari Tak Bersayap
HUKUMAN


__ADS_3

*


" Kau belum tidur?"


Andi terpenjat kaget mendengar pertanyaan Dimas.


" Kenapa kau?"


Dimas duduk bersila di samping Andi, hanya beralaskan keramik lantai teras.


" Kaget, gila kau."


" Syukurlah."


Andi menoleh pada Dimas dan menatap tajam


" Artinya jantungmu masih berfungsi dengan baik."


" Sialan kau."


" Tadi siang pasti detaknya lebih kencang kan?"


" Maksudmu?"


" Iya.. Waktu kau menolong Andien dengan gagah berani."


Andi tertawa melihat Dimas mencontohkan gaya seorang laki - laki gagah berani


" Gimana, iya kan?"


Andi menghentikan tawanya dan diam. Andi melepas pandangannya ke laut lepas di depan mereka


" Ntahlah Dim, kau tau ini bukan untuk yang pertama kali."


Dimas mengangguk mengerti


" Kau harus coba dekati, baru kau menemukan jawabannya Ndi."


" Aku sebenarnya udah menyerah Dim."


" Trus, mau jadi bujang selamanya?"


" Kalau hanya itu pilihannya, aku harus terima."


" Tapi saat ini masih ada pilihan lain, kau coba lah dulu."


" Dia bukan mereka, mereka juga bukanlah dia. Gila kau, jangan kau sama ratakan semua perempuan di dunia. Contohnya Di, dia tidak bertahan untuk menghabisiku, tapi benar - benar mencintaiku."


Sambung Dimas


" Kalau gitu, aku tunggu Di jadi janda saja."


Dimas menendang tulang kering Andi, reflek Andi memegangi tulang keringnya yang sakit.


" Aku bercanda."


" Aku gak suka."


Mereka lalu diam, tenggelam dalam pikiran masing - masing


" Apakah masih ada stok wanita yang mengesampingkan harta ya Dim?"


" Ada Ndi, kau tidak akan menemukan kalau kau tak mencarinya."


" Aku sudah mencarinya Dim, tapi tak ku temukan."


" Kau mencari di malam hari, pagi sampai soremu kau habiskan untuk bekerja. Mana ada perempuan seperti itu di klub malam?"


" Lalu aku harus cari kemana?"


Dimas diam, berpikir, buntu...


" Ha... Kau cari di pangkalan ojek."


Seketika mereka berdua tertawa terbahak - bahak, teringat profesi Di sebelum menjadi istri Dimas Arya

__ADS_1


" Aku mendengarmu Dimas Arya!!!"


Dimas cepat terdiam, Andi melanjutkan tawanya sambil menutup mulutnya.


" Sialan kau Ndi."


" Koq aku yang salah?"


" Alamat dapat punggung aku nanti malam."


" Kau serang dari belakang aja, koq susah."


Dimas menatap Andi dan tersenyum sambil mengerlingkan mata, Andi kembali tertawa terbahak - bahak.


*


" Di... pleaseee... jangan lakukan ini padaku."


Di duduk dan menatap Dimas dengan tajam, setelah mencumbu senjata Dimas dengan lidah dan mulutnya, Di bangkit dan bergerak menjauh ketika nafas Dimas sedang memburu. Sekarang, Di yang mengenakan celana pendek dan baju kaos longgar, memandangi Dimas yang memohon untuk dipuaskan.


" Aku membencimu."


" Maafkan aku... please Di, kepalaku sakit."


Di menjulurkan lidahnya pada Dimas.


" Ya sudah, aku keluarkan sendiri, di depanmu!


" Silahkan."


Dimas menggenggam erat senjatanya dan menggerak - gerakkan tangannya ke atas dan ke bawah di kulit senjatanya.


" Duhhh... gerah ya."


Di mengangkat tangan dan membuka baju kaosnya, kemudian melanjutkan dengan membuka pengait branya dan melemparkannya sembarangan. Pemandangan tubuh polos Di yang duduk di depannya membuat Dimas ingin menyergap Di dan menjilati tubuhnya. Kosentrasi Dimas terganggu


" Di!"


" Apa!"


" Please, sayang..."


" No!"


Di kemudian mengangkat dan membuka lebar kakinya, sengaja menghadapkannya pada Dimas dan membelai nakal bagian tengah celana pendeknya.


Wajah Dimas merah menahan nafsu dan amarah, senjatanya malah menantang lurus dan menuntutnya.


Dimas tiba - tiba melompati kasur dan bergerak cepat ke arah Di, lalu menahan kaki Di agar tetap di posisi itu saja.


Di tertawa terbahak - bahak melihat Dimas yang menyerangnya dengan penuh gairah. Dimas lalu membuka kaitan celana Di dengan kasar, lalu melepasnya dan mengembalikan posisi Di tadi, membuka kaki dengan lebar menghadap Dimas sambil duduk.


Seketika celana itu lepas, underwear tipis berenda yang menutupi milik Di, di geserkan sedikit ke samping, tanpa membukanya. Dimas tak mampu menahan gairahnya yang sudah terlalu tinggi. Dimas lalu memasukkan senjatanya ke dalam milik Di, memaksanya masuk hanya dengan sekali tekanan, berhasil. Di berteriak kecil, Dimas tersenyum sinis penuh kemenangan


Dimas meletakkan tangannya di kepala kursi di atas kepala Di dan bergerak maju mundur dengan kasar. Di yang menahan tubuhnya dengan berpegangan pada tangan kursi, merintih mengiringi setiap hentakan yang Dimas lakukan.


" Kau ingin main - main denganku Di?"


Di membuka matanya dan menatap tajam pada Dimas


" Aku suka bermain - main denganmu sayang, hentak yang keras."


Dimas semakin terobsesi, gerakannya semakin liar, lalu bergerak cepat sambil mengerang, sementara Di merintih di bawah tubuhnya, lalu lepasss.


Dimas menekan senjatanya sangat dalam di tubuh Di, menutup matanya saat senjatanya memuntahkan isi, lalu bergidik nikmat.


" Aku akan menghukummu tukang ojek nakal "


Dimas dengan cepat mengeluarkan senjatanya dan jongkok menghadap milik Di yang tertutup underwear tipis di depan wajah Dimas. Dengan gerakan kasar dan cepat, Dimas merobek bagian tengah underwear Di


" Dimas, nooo.."


" Diam kau, kau sudah berani mempermainkan aku, kau terima hukuman ini."


Dimas menjilati gua Di yang basah, Di bergelinyang geli dan nikmat.

__ADS_1


" Dimas... maafkan aku.. awwww.. aaahhhhh."


Dimas tak sedikitpun menghentikan jilatannya, semakin menggila mencumbui Di di sana, menghisap semua cairan yang berasal dari dalam gua itu, sampai tubuh Di bergetar hebat. Dimas menatap lubang anus Di yang berkedut, dia menyeringai nakal.


" Ampun Dim... Udah, aku mohon..."


" Aku belum selesai."


Dimas memasukkan dua jari tengahnya, sementara jempolnya bermain di daging kecil di atas gua, Di menggelung tubuhnya ke atas, namun tangan kiri Dimas menahan tubuhnya yang ingin memberontak.


" Dimaaasss... aku membencimu... Dimaaasss!"


" Terserah, aku ingin kau lupa pada gairahmu selain aku."


Dimas melepaskan jarinya, kembali menyerang gua milik Di dengan lidah dan mulutnya, sementara jempolnya masih menekan dan bermain di tempat yang sama.


" Aaahhh.. berhenti, aku mau kencing."


Dimas malah bertambah buas, menghisap dan menjilat, menggesekkan mulutnya di bibir gua, menghisap daging kecil Di dan menjilatinya


" Awas Dimmmm..."


Dimas melepaskan mulutnya dari milik Di, seiring dengan tubuh Di yang mengejang, seketika cairan bening keluar memancar dari gua milik Di, bersamaan dengan tubuh Di yang menggelinyang dan bergetar hebat. Di menengadah, bola matanya terbalik merasakan nikmat, nafasnya seperti berhenti sesaat. Di jatuh terkulai di lantai, Dimas cepat menahan tubuh Di dengan tubuhnya.


*


Dimas memeluk tubuh Di yang sedang menangis di bahunya. Di terisak, Dimas benar - benar sudah menyiksanya dengan segala kenikmatan yang diberikannya


" Maafkan aku."


Di menggeleng pelan,


" Aku menikmatinya sayang."


" Lalu, kenapa kau menangis?"


" Aku bertambah takut kehilanganmu, kehilangan pemuas gairahku, kehilangan dirimu."


Dimas tersenyum dan membelai lembut rambut Di


" Aku akan tetap memuaskanmu Di, membahagiakanmu, mencintaimu, semua tentang kau di hidupku."


Di mengeratkan pelukannya


" Aku benar - benar mencintaimu Dimas."


" Aku juga mencintaimu Di."


Di melepaskan pelukannya, menghapus air matanya dan menciumi wajah Dimas yang tersenyum. Ciuman Di turun ke leher Dimas, menjilati setiap sisi di lehernya, menghisapnya pelan, meninggalkan tanda cintanya di sana. Dimas menengadah dan mengerang.


Ciuman Di turun ke dada Dimas, bokongnya beringsut mundur. Di memainkan lidahnya di putik hitam di kanan Dimas, Dimas kembali mengerang. Jilatan itu kemudian turun ke perut, lalu turun, dan turun lagi menemui senjata Dimas yang sudah kembali fit menerima serangan.


" Di... Ahhh..."


Dimas kembali mendesah, begitu kehangatan mulut Di membalut senjatanya. Di menjilati ujung senjata Dimas, lalu kembali menekan penuh senjata itu ke dalam mulut. Dimas meletakkan tangannya di kepala Di yang menunduk, mengarahkan gerakan yang tepat untuk membuatnya terhanyut.


" Di.."


Hisapan Di pada senjatanya membuat Dimas kaget, tapi kemudian Dimas menikmatinya. Dimas memberikan kekuasaan penuh pada Di untuk memanjakan senjatanya itu, sampai kemudian Dimas menuntut gerakan yang lebih cepat, Di menghisap kuat senjatanya


" Diii... Ahhh."


Dimas menengadah pasrah, menekan senjatanya masuk lebih dalam ke mulut Di, menjambak pelan rambut Di.


Di mengangkat kepalanya dan menatap Dimas yang baru membuka matanya. Dimas membalas tatapan Di sambil tersenyum, lalu menunduk menatap senjatanya, dan cepat menoleh pada Di.


" Kau menelannya?"


Di membelai bibirnya dengan lidahnya sendiri, seperti anak kecil yang baru selesai memakan habis es krimnya. Dimas tertawa sambil memegang kepalanya.


" Kau gila sayang, kau benar - benar gila, aku semakin mencintaimu."


Dimas menarik tubuh Di untuk kembali naik ke pangkuannya, lalu memeluk Di dengan erat.


" Aku juga ingin menjadi satu - satunya tujuan gairahmu, sehingga kau tak merasakan apapun lagi pada perempuan lain."

__ADS_1


" Pasti sayang, itu pasti. Kau sudah melengkapi semua kebutuhanku, bahkan lebih dari yang seharusnya kau lakukan untukku. Hanya kaulah tujuan hidupku, gairahku, bahagiaku. Hanya kau."


Dimas dan Di berpelukan erat, sebelum membersihkan tubuh mereka bersama - sama di kamar mandi. Tanpa serangan apapun lagi.


__ADS_2